Cari Blog Ini

Kamis, 22 April 2010



JIGSAW (MODEL TIM AHLI)

Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Model  Jigsaw dalam Pembelajaran.

A. Pendahuluan
Pendidikan sebagai bagian integral kehidupan masyarakat di era global harus dapat memberi dan menfasilitasi bagi tumbuh dan kembangnya keterampilan intelektual, sosial, dan personal peserta didik. Keterampilan tersebut dibangun tidak hanya dengan landasan rasio dan logika saja, tetapi juga inspirasi, kreatifitas, moral, intuisi (emosi) dan spiritual. Sekolah sebagai institusi pendidikan dan miniatur masyarakat perlu mengembangkan pembelajaran sesuai tuntutan era global yang dapat menumbuhkan berbagai kompetensi. Salah satu upaya yang dapat dikembangkan oleh sekolah adalah pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan ( PAIKEM).
Fakta riil di lapangan masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh sang guru. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh banyak tenaga pendidik saat ini cenderung pada pencapaian target materi kurikulum, lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Dalam penyampaian materi, biasanya guru menggunakan metode ceramah, dimana siswa hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Salah satu upaya peningkatan prestasi belajar siswa adalah diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal. Penggunaan strategi dalam kegiatan pembelajaran sangat perlu karena untuk mempermudah proses pembelajaran sehingga dapat mencapai hasil yang optimal, efektif dan efisien. Tanpa strategi yang jelas, proses pembelajaran tidak akan terarah sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sulit. Bagi siswa, strategi pembelajaran dapat mempermudah memahami isi pelajaran, karena setiap strategi dirancang untuk mempermudah proses belajar siswa.
Dengan strategi yang jitu, proses pembelajaran diharapkan tidak lagi menjadi suatu beban atau hukuman bagi peserta didik melainkan suatu aktifitas yang menyenagkan, karena paradigama baru dalam pembelajaran adalah student centered, partisipatori dan kontekstual. Paradigma ini sesuai dengan empat pilar pendidikan: learning to know, learning to do, learning to live together, and learning to be
Inovasi yang mengiringi perubahan paradigama pembelajaran tersebut  adalah ditemukan dan diterapkannnya model-model Pembelajaran Inovatif dan Konstruktif atau lebih tepat dalam mengembangkan dan menggali pengetahuan peserta didik secara konkret dan mandiri.[1]
Pembelajaran kooperatif terutama teknik Jigsaw dianggap cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia karena siswa dituntut aktif dan ambil peran dalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong. Apa dan bagaimana langkah-langkah pembelajaran model Jigsaw, akan pemakalah uraikan dalam makalah ini lebih lanjut.
B. Penerapan Strategi Pembelajaran Cooperative Learning Model Jigsaw
1. Pembelajaran Cooperative Learning
Model pembelajaran kooperatif didukung teori konstruktivisme social Vygotsky yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun dan dikonstruksi secara mutual. Peserta didik berada dalam konteks sosiohistoris. Keterlibatan dengan orang lain membuka kesempatan bagi mereka mengevaluasi dan memperbaiki pemahaman.[2] Bahwa  anak membangun sendiri pemahaman atau pengetahuannya, dan tidak secara pasif  menerima pengetahuan  yang diberikan kepadanya. Begitupun dalam hal proses   pembentukan pengetahuan terjadi melalui interaksi social. Dalam pembelajaran Vygotsky memberian penekanan pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap ke dalam individu tersebut. Implikasi dari teori Vygotsky ini dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Falsafah yang mendasari pembelajaran Cooperative Learning dalam pendidikan adalah "homo homini socius" yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial[3].
Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Model pembelajaran Cooperative Learning tidak sama dengan sekadar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning, untuk itu harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong yaitu :
1.      Saling ketergantungan positif.
      Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.
2.      Tanggung jawab perseorangan.
      Masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.
3.      Tatap muka.
      Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan.
4.      Komunikasi antar anggota.
      Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
5.      Evaluasi proses kelompok.
      Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif[4]
   Urutan langkah-langkah perilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Arends (1997) adalah sebagaimana terlihat pada table berikut ini Tabel Sintaks [5]Pembelajaran Kooperatif

FASE-FASE
Kegiatan guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif
Fase 2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan cara demonstrasikan atau lewat bahan bacaan
Fase 3
Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas-tugas

Fase 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari dan juga terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok
6. Memberi penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok

2. Tujuan Pembelajaran Cooperative Learning
Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok konvensional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994). Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al. (2000), yaitu:
1.   Hasil belajar akademik
2.   Penerimaan terhadap perbedaan individu
3.   Pengembangan keterampilan social



C. Strategi Pembelajaran Cooperative Learning Model Jigsaw
Jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Elliot Aronson’s dari Universitas Texas. Model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada kelompoknya.
Sesuai dengan namanya, teknis penerapan tipe pembelajaran ini maju mundur seperti gergaji. Menurut Arends (1997), langkah-langkah penerapan model pembelajaran Jigsaw dalam matematika, yaitu:
1. Membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 4 – 6 orang
2. Masing-masing kelompok mengirimkan satu orang wakil mereka untuk membahas topik, wakil ini disebut dengan kelompok ahli
3. Kelompok ahli berdiskusi untuk membahas topik yang diberikan dan saling membantu untuk menguasai topik tersebut
4. Setelah memahami materi, kelompok ahli menyebar dan kembali ke kelompok masing-masing, kemudian menjelaskan materi kepada rekan kelompoknya
5. Guru memberikan tes individual pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah didiskusikan[6]
Kunci pembelajaran ini adalah interpedensi setiap siswa terhadap anggota kelompok untuk memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan tes dengan baik.
Pembelajaran model Jigsaw merupakan bagian dari Pembelajaran kooperatif, dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama (Coopeative Learning), yakni kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran.  Prinsipnya adalah siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Dalam hal ini, sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa (student centered), yakni mempelajari materi pelajaran, berdiskusi untuk memecahkan masalah (tugas). Dengan interaksi yang efektif dimungkinkan semua kelompok dapat menguasai materi pada tingkat yang relatif sejajar.[7]
Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan. sebagai metode Cooperative Learning. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara. Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1997). Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 - 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends, 1997).
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan (Lie, A., 1994).
Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim / kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut (Arends, 1997) :
Pembelajaran dengan metode Jigsaw membagi kelas menjadi 4 kelompok. Ada kelompok asal (home teams), kelompok ahli (expert teams), Ada kegiatan refleksi dan pembelajaran ditutup oleh guru dengan memberikan riview terhadap topik yang telah dipelajari.[8]
D. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw
Menurut Priyanto (2007) dalam penerapan pembelajaran kooperatif  model jigsaw ada beberapa langkah yang harus dilaksanakan, yaitu sebagai berikut :
1.   Pembentukan Kelompok Asal
      Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang anggota dengan kemampuan yang heterogen
2.   Pembelajaran pada Kelompok Asal
      Setiap anggota dari kelompok asal mempelajari submateri pelajaran yang akan menjadi keahliannya, kemudian masing-masing mengerjakan tugas secara individual.
3.   Pembentukan Kelompok Ahli
      Ketua kelompok asal membagi tugas kepada masing-masing anggotanya untuk menjadi ahli dalam satu submateri pelajaran. Kemudian masing-masing ahli submateri yang sama dari kelompok yang berlainan bergabung membentuk kelompok baru yang disebut kelompok ahli.
4.   Diskusi Kelompok Ahli
      Anggota kelompok ahli mengerjakan tugas dan saling berdiskusi tentang masalah-masalah yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap anggota kelompok ahli belajar materi pelajaran sampai mencapai taraf merasa yakin mampu menyampaikan dan memecahkan persoalan yang menyangkut submateri pelajaran yang menjadi tanggungjawabnya.
5.   Diskusi Kelompok Asal (Induk)
      Anggota kelopok ahli kembali ke kelompok asal masing-masing. Kemudian setiap anggota kelompok asal menjelaskan dan menjawab pertanyaan mengenai submateri pelajaran yang menjadi keahliannya kepada anggota kelompok asal yang lain. Ini berlangsung secara bergilir sampai seluruh anggota kelompok asal telah mendapatkan giliran.
6.   Diskusi Kelas
      Dengan dipandu oleh guru diskusi kelas membicarakan konsep-konsep penting yang menjadi bahan perdebatan dalam diskusi kelompok ahli. Guru berusaha memperbaiki salah konsep pada siswa.
7.   Pemberian Kuis
      Kuis dikerjakan secara individu. Nilai yang diperoleh masing-masing anggota kelompok asal dijumlahkan untuk memperoleh jumlah nilai kelompok.
8.   Pemberian Penghargaan Kelompok
      Kepada kelompok yang memperoleh jumlah nilai tertinggi diberikan penghargaan berupa piagam dan bonus nilai.[9]
E. Kelebihan dan Kelemahan Model Jigsaw
Kelebihan Model Jigsaw  yaitu:
1. Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar,karena sudah ada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya. Guru berperan sebagai pendamping, penolong dan mengarahkan siswa dalam mempelajari materi.
2.   Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat
3.   Metode pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat.
Kelemahan / Hambatan dalam Model Jigsaw yaitu :
1. Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung mengontrol jalannya diskusi. Untuk mengantisipasi masalah ini guru harus benar-benar memperhatikan jalannya diskusi. Guru harus menekankan agar para anggota kelompok menyimak terlebih dahulu penjelasan dari tenaga ahli. Kemudian baru mengajukan pertanyaan apabila tidak mengerti.
2. Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berpikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus memilih tenaga ahli secara tepat, kemudian memonitor kinerja mereka dalam menjelaskan materi, agar materi dapat tersampaikan secara akurat.
3.   Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan.
Untuk mengantisipasi hal ini guru harus pandai menciptakan suasana kelas yang menggairahkan agar siswa yang cerdas tertantang untuk mengikuti jalannya diskusi.
4.   Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran[10].
5.   Pembagian kelompok yang tidak heterogen dimungkinkan terdapat kelompok yang anggotanya lemah semua.
6.   Penugasan kelompok untuk menjadi ahli sering tidak sesuai antara kemampuan dengan kompetisi yang harus dipelajari.
7.   Roy Killen (1996) Prinsip Pembelajaran "peer teaching" Pembelajaran oleh tim sendiri dimungkinkan terjadi missconception[11]
Kesimpulan
 Pembelajaran di sekolah yang melibatkan siswa dengan guru akan melahirkan nilai yang akan terbawa dan tercermin terus dalam kehidupan di masyarakat. Pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam kelompok secara bergotong royong (kooperatif) akan menimbulkan suasana belajar partisipatif dan menjadi lebih hidup. Teknik pembelajaran Cooperative Learning dapat mendorong timbulnya gagasan yang lebih bermutu dan dapat meningkatkan kreativitas siswa. Jigsaw merupakan bagian dari teknik-teknik pembelajaran Cooperative Learning. Jika pelaksanaan prosedur pembelajaran Cooperative Learning ini benar, akan memungkinkan untuk dapat mengaktifkan siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Anita Lie. 2007. Cooperative Learning. Jakarta : Grasindo.          
Agus Suprijono, Cooperative Learning, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2009
Abdul Kholiq, Makalah "Model Kooperatif Tipe Jigsaw", Magister Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Bandung, 2009
Blog pada WordPress.com, Novi Emildadiany , 6 Maret 2009
Made wena, op.Cit,hlm.193-195, mengutip dari Priyanto, "Keefektifan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw pada Pembelajaran Kimia Siswa kelas X Madrasah Aliyah Darut Taqwa, Malang", 2007 Tesis S2 PPS UM
Sugiyanto, Drs, M Si, Model-Model pembelajaran Inovatif, Surakarta, Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13 FKIP UNES Surakarta, 2009
 Teguh Suyitno, Drs, M Pd, Materi Diklat "Strategi Pembelajaran" Diklat Peningkatan Kualitas Guru Bhs Arab MTs Se Jateng dan DIY tanggal 27 Juli – 5 Agustus 2009, Balai Diklat Jawa Tengah
Trianto, S Pd,M Pd, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktif, Jakarta, Prestasi Pustaka, 2007





[1]. Trianto, S Pd,M Pd, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktif, Jakarta, Prestasi Pustaka, 2007,hlm.3
[2] Agus Suprijono, Cooperative Learning, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2009,hlm.55
[3]  Ibid, hlm.56
[4]   Novi Emildadiany  Blog pada WordPress.com, 6 Maret 2009
[5]  Drs.Teguh suyitno M Pd, Op. Cit
[6]  http://ady-ajuz.blogspot.com/2009/03/model-pembelajaran-jigsaw.html

[7]   Drs.Teguh Suyitno, M Pd, Materi Diklat "Strategi Pembelajaran" Diklat Peningkatan Kualitas Guru Bhs Arab MTs Se Jateng dan DIY tanggal 27 Juli – 5 Agustus 2009, Balai Diklat Jawa Tengah.
[8]  Agus Suprijono, Op. Cit,hlm.89-91
[9]       Made wena, op.Cit,hlm.193-195, mengutip dari Priyanto, "Keefektifan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw pada Pembelajaran Kimia Siswa kelas X Madrasah Aliyah Darut Taqwa, Malang", 2007 Tesis S2 PPS UM
[10] http://ady-ajuz.blogspot.com/2009/03/model-pembelajaran-jigsaw.html

[11]  Abdul Kholiq, Makalah "Model Kooperatif Tipe Jigsaw", Magister Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Bandung, 2009

Minggu, 04 April 2010

metode pembelajaran Jagsow

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW
DALAM MAPEL AL-QUR’AN HADIS
( Materi : Istilah-istilah Hadits )

Oleh : Ainul Yaqin

I. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran. Dalam konteks penyelenggaraan ini, guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dan berpedoman pada seperangkatn aturan dan rencana tentang pendidikan yang dikemas dalam bentuk kurikulum.
Kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan berorientasi pada kemajuan sistem pendidikan nasional, tampaknya belum dapat direalisasikan secara maksimal. Salah satu masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah lemahnya proses pembelajaran.
Berdasarkan pengamatan riil di lapangan, proses pembelajaran di sekolah dewasa ini kurang meningkatkan kreativitas siswa. Karena masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh sang guru.
Proses pembelajaran yang dilakukan oleh banyak tenaga pendidik saat ini cenderung pada pencapaian target materi kurikulum, lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang selalu didominasi oleh guru. Dalam penyampaian materi, biasanya guru menggunakan metode ceramah, dimana siswa hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Upaya peningkatan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dalam hal ini, diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal.
Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh siswa. Jadi, kegiatan belajar berpusat pada siswa, guru sebagai motivator dan fasilitator di dalamnya agar suasana kelas lebih hidup.
Pembelajaran kooperatif terutama teknik Jigsaw dianggap cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia karena sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong.

II. PEMBAHASAN
A. Model Pembelajaran Jigsaw
Metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam keberhasilan pendidikan. Penggunaan metode yang tepat akan menentukan keefektifan dan keefisienan dalam proses pembelajaran. Guru harus senantiasa mampu memilih dan menerapkan metode yang tepat sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan. Terdapat beberapa metode yang telah lama digunakan oleh para guru, antara lain : metode ceramah, metode tanya jawab, dan metode resitasi. Serentetan metode tersebut bisa dikatakan metode konvensional. Model pembelajaran konvensional yang selama ini digunakan oleh sebagian besar guru yang tidak sesuai dengan tuntutan jaman, karena pembelajaran yang dilakukan kurang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi siswa untuk aktif mengkontruksi pengetahuannya.
Salah satu model pembelajaran yang dimungkinkan mampu mengantisipasi kelemahan model pembelajaran konvensional adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.
Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Aronson. dkk di Universitas Texas.1
Jigsaw Learning merupakan sebuah teknik yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan teknik “pertukaran dari kelompok ke kelompok” (group-to-group exchange) dengan suatu perbedaan penting: setiap peserta didik mengajarkan sesuatu.2
Model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan materi tersebut kepada kelompoknya. Sehingga baik kemampuan secara kognitif maupun sosial siswa sangat diperlukan.
Karena menurut Piaget, bahwa perkembangan kognitif mempunyai empat aspek, yaitu :3
1. Kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan syaraf,
2. Pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara organisme dengan dunianya,
3. Interaksi Sosial, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial,
4. Ekullibrasi, yaitu adanya kemampuan atau sistem mengatur dalam diri organisme agar dia selalu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
Selain itu, model pembelajaran kooperatif Jigsaw ini dilandasi oleh teori belajar humanis. Alasannya adalah bahwa teori belajar humanistik menjelaskan bahwa pada hakekatnya setiap diri manusia adalah unik, memiiki potensi individual dan dorongan internal untuk berkembang dan menentukan perilakunya. Menurut Carl Rogers seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) daam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers meyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas terapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar.4
Adapun langkah-langkah model pembelajaran Jigsaw adalah,5
1. Siswa dikelompokkan dengan anggota ± 4 orang,
2. Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda,
3. Anggota dari tim yang berbeda dengan penugasan yang sama membentuk kelompok baru (kelompok ahli),
4. Setelah kelompok ahli berdiskusi, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok tentang sub bab yang mereka kuasai,
5. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi,
6. Klarifikasi dan simpulkan agar seluruh siswa memperoleh pemahaman yang utuh.
Jadi pembelajaran model ini lebih meningkatkan kerja sama antar siswa. Kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari siswa-siswa yang bekerja sama dalam satu perancanaan kegiatan. Dan dalam pembelajaran ini setiap anggota kelompok diharapkan dapat saling bekerja sama dan bertanggung jawab baik kepada dirinya sendiri maupun kepada kelompoknya.
Strategi ini dapat diterapkan pada pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan dan diketahui siswa dengan membagikan bahan ajar yang lengkap. Untuk mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan atau dibagi secara berkelompok, siswa dapat mendiskusikan dalam kelompok kecil. Setiap anggota kelompok kecil berusaha membuat resume untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Bentuklah kelompok baru secara acak atau setiap anggota kelompok saling menjelaskan resume kepada sesama anggota sehingga diperoleh pemahaman yang utuh. Hasil resume kelompok itupun dapat dipresentasikan.6
B. Implementasi Pada Mapel Al-Qur’an Hadis
Materi al-Qur’an Hadis sesuai dengan Pelaksanaan Peraturan Menteri Agama RI Nomor 2 tahun 2008 pada Madrasah Aliyah (MA) semester genap dintaranya adalah Pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
Standar kompetensi materi tersebut adalah Memahami istilah-istilah hadits, dengan kompetensi dasar :
1. Mendefinisikan pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
2. Membandingkan pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
3. Menerapkan pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
Dengan indikator hasil belajar
1. Siswa dapat mendefinisikan pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi dengan benar,
2. Siswa dapat membedakan hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi,
3. Siswa dapat menyebutkan contoh-contoh hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
Pada materi tersebut sangat sesuai jika seorang guru dalam mengajar kepada siswanya menggunakan model pembelajarannya Jigsaw, dengan langkah-langkah :
1. Kegiatan Awal
a. Mengamati dan mengarahkan sikap siswa agar siap memulai pelajaran,
b. Mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa,
c. Melakukan tes penjajakan [pre-tes] dan mengidentifikasi keadaan siswa,
d. Mengingatkan pelajaran yang telah diterima dan mengaitkan pada pelajaran baru,
e. Penjelasan singkat tentang tujuan dan proses pembelajaran yang akan dijalani siswa,
2. Kegiatan Inti
b. Materi pembelajaran dapat dibagi menjadi beberapa 5 (lima) segmen/bagian, yaitu : hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi,
b. Bagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa adalah 30, sementara jumlah segmen yang ada 5 , maka masing-masing kelompok terdiri dari 6 orang,
c. Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami submateri pembelajaran yang berbeda-beda,
d. Setiap kelompok mengirimkan anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajari di kelompoknya,
e. Kembalikan suasana kelas seperti semula kemudian tanyakan sekiranya ada persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok,
f. Bagi siswa beberapa pertanyaan untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi,
3. Kegiatan Akhir
a. Memberikan penegasan dan menyimpulkan materi ajar yang sudah dipelajari,
b. Memberikan post tes untuk mengetahui hasil pembelajaran,
c. Memberikan tugas mandiri untuk mendalami materi ajar,


III. PENUTUP
Pembelajaran di sekolah yang melibatkan siswa dengan guru akan melahirkan nilai yang akan terbawa dan tercermin terus dalam kehidupan di masyarakat. Pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam kelompok secara bergotong royong (kooperatif) akan menimbulkan suasana belajar partisipatif dan menjadi lebih hidup. Teknik pembelajaran Cooperative Learning dapat mendorong timbulnya gagasan yang lebih bermutu dan dapat meningkatkan kreativitas siswa.
Jigsaw merupakan bagian dari teknik-teknik pembelajaran Cooperative Learning. Jika pelaksanaan prosedur pembelajaran Cooperative Learning ini benar, akan memungkinkan untuk dapat mengaktifkan siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Sampai saat ini pembelajaran Cooperative Learning terutama teknik Jigsaw belum banyak diterapkan dalam pendidikan walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.
Demikianlah makalah yang dapat saya buat dan saya presentasikan, tentunya kritik, saran dan masukan sangat saya harapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Wallahu a’lam.

Sabtu, 03 April 2010

Implementasi metode pembelajaran CTL pada mapel al-quran hadis di kls x semtr genap di MA. Mashlahatul hidayah

MODEL PEMBELAJARAN
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
Oleh Ainul Yaqin
I. PENDAHULUAN
Pembelajaran suatu hal yang urgen dalam menentukan potensi Intlektualitas seseorang dalam arti lain penting bagi setiap orang dalam menghadapi perkembangan teknologi yang begitu pesat. Lebih-lebih dalam menghadapi era Tekhnologi Global di abad pengetahuan yang banyak ditandai oleh pergeseran peran manufaktur ke sektor jasa berbasis pengetahuan, kompetensi itu merupakan salah satu faktor yang sangat menetukan kehidupan manusia. Artinya, ketika kehidupan telah berubah menjadi semakin maju dan kompleks, masalah kehidupan yang banyak diwarnai oleh fenomena dunia nyata diupayakan dapat dijelaskan secara keilmuan. Berdasarkan pemilikan kompetensi keilmuan tersebut, maka peserta didik diharapkan mampu memecahkan dan mengatasi permasalahan kehidupan yang dihadapi dengan cara lebih baik, lebih cepat, adaptif, lentur, dan versatile.
Dari berbagai kompleksnya permasalahan Model Pembelajaran mengambil posisi penting dalam peran tranformasi keilmuan untuk memberikan pemahaman yang mudah diterima sehingga muncullah beberapa model pembelajaran seperti yang akan dibahas pemakalah yaitu model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) sebuah pendekatan metode pembelajaran untuk membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi peserta didik. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa dalam dunia nyata, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).
II. PENGERTIAN/PEMBAHASAN
A. Pengertian
CTL merupakan kepanjangan dari Contextual Teaching And Learning yaitu suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya Wina, 2009.255).
Dalam panduan buku bahan ajar pendidikan dan pelatihan profesi guru kuota 2008 untuk mapel PAI,MTS, MA yang diterbitkan IAIN Sunan Ampel mendefinisikan CTL adalah pembelajaran/pengajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi sosial dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/konteks lainnya. (LPTK IAIN. Sunan Ampel, 2008.5-6). Dari pengertian tersebut ada tiga hal yang perlu dipahami:
a. CTL menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya diposes belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung
b. CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata. Dalam rangka mencari korelasi.
c. CTL mendorong agar siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan. (Sanjaya Wina, 2009.255)
B. Karakteristik Metode Pendekatan CTL Dan Kaitannya Dengan Psikologi CTL
Dari paparan pengertian CTL di atas sangatlah jelas bahwa materi yang dipelajari berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliran ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan Stimulus dan Respons. Belajar tidak sesederhana itu. Belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi dan kemampuan atau pengalaman. Apa yang tampak, pada dasarnya adalah wujud dari adanya dorongan yang berkembang dalam diri seseorang. Sebagai peristiwa mental perilaku manusia tidak semata-mata merupakan gerakan fisik saja, akan tetapi yang lebih penting adalah adanya faktor pendorong yang ada dibelakang gerakan fisik itu. Mengapa demikian? Sebab manusia selamanya memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya. Kebutuhan itulah yang mendorong manusia untuk berperilaku. Adanya keterkaitan pembelajaran kontekstual CTL maka ada beberapa hal yang harus dipahami yaitu:
a. Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki. Oleh karena itulah, semakin banyak pengalaman maka akan semakin banyak pula pengetahuan yang mereka peroleh.
b. Belajar bukan sekadar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas. Pengetahuan itu pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami, sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki akan berpengaruh terhadap pola-pola perilaku manusia, seperti pola berpikir, pola bertindak, kemampuan memecahkan persoalan termasuk penampilan atau performance seseorang. Semakin pengetahuan seseorang luas dan mendalam, maka akan semakin efektif dalam berpikir.
c. Belajar adalah proses pemecahan masalah, sebab dengan memecahkan masalah anak akan berkembang secara utuh yang bukan hanya perkembangan intektual akan tetapi juga mental dan emosi. Belajar secara kontekstual adalah belajar bagaimana anak menghadapi persoalan.
d. Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari sederhana menuju yang kompleks. Oleh karena itu belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai dengan irama kemampuan siswa.
e. Belajar pada hakikatnya adalah menagkap pengetahuan dari kenyataan. Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang memiliki makna untuk kehidupan anak (Real World Learning) (Sanjaya Wina, 2009.260).
Oleh karena itu materi pelajaran dalam konteks CTL Bukan untuk di tumpuk di otak kemudian dilupakan, akan tetapi untuk diaplikasikan dalam keseharian, jadi berkaitan dengan hal tersebut sangatlah penting juga memahami kelima karakteristik yaitu berupa:
1. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activtinging knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi. (Sanjaya Wina, 2009.256).
C. Perbedaan CTL Dengan Pembelajaran Tradisional
Terdapat beberapa perbedaan antara pendekatan CTL dengan metode pendekatan tradisional sebagaimana terdapat pada skema:
NO CTL TRADISIONAL
1 *CTL (Contextual Teaching and Learning) *CTL (Catat Tinggal And Lungo)
2 Menyandarka pada memori spasial (pemahaman makna) Menyandarkan pada hafalan
3 Pemilihan Informasi Berdasarkan Kebutuhan Siswa Pemilihan informasi ditentukan oleh guru
4 Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran Siswa secara pasif menerima informasi
5 Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
6 Selalu mengaitka informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai satnya diperlukan
7 Perilaku dibangun atas kesadaran diri Perilaku dibangun atas kebiasaan
8 Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
9 Hasil belajar diukur melalui melalui penerapan penilaian autentik Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ ulangan

D. Komponen-komponen CTL
Dalam metode pendekatan pembelajaran CTL terdapat 7 komponen atau yang disebut juga sebagai Asas sebagaimana penjelasan berikut.
1. Konstruktivisme (Hubungan Bermakna)
Dalam pengertian secara luas Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur koknitif, peserta didik berdasarkan pengalaman. Menurut komponen tersebut pengetahuan itu berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu pengetahuan terbentuk oleh dua factor yaitu obyek yang menjadi bahan pengamatan dan kemamouan subyek untuk menginterpretasi obyek tersebut. (amruni,2009.181)
2. Inkuiri (Penemuan)
Inkuiri mempunyai arti proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah suatu fakta hasil dari mengingat akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu:
 Merumuskan masalah
 Mengajukan hipotesis
 Mengumpulkan data
 Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan
 Membuat kesimpulan
Dari siklus tersebut diharapkan melalui proses berfikir yang sistematis dan logis, dari kesemuanya itu diperlukan sebagai dasar pembentukan kratifitas. (wina sanjaya, 2009, 266)
3. Questioning (Tanya jawab)
Dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
4. Learning Community (Komunitas belajar)
Adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.
5. Modeling (Pemodelan)
Dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
6. Reflection (Refleksi)
Yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
7. Authentic Assessment (Penilaian otentik)
Prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa. (http://bandono.web.id/2008/03/07/menyusun-model-pembelajaran)
E. Aplikasi pembelajaran CTL pada pelajaran Al-quran Hadis
Pada contoh berikut adalah terapan model metode pembelajaran CTL terhadap mata pelajaran Al-quran Hadis di kelas X semester 2 memahami dan menjelaskan ayat-ayat tentang keikhlasan dalam beribadah
F. MetodePembelajaran CTL
a) Langkah Pembelajaran
1) Kegiatan Awal
a. Mengamati dan mengarahkan sikap siswa agar siap memulai pelajaran
b. Mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa
c. Melakukan tes penjajakan [pre-tes] dan mengidentifikasi keadaan siswa berkaitan dengan kompetensi yang akan di capai
d. Menjelaskan potensi yang harus dicapai serta manfaat dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari

2) Kegiatan Inti
1. Pilihlah materi pembelajaran yang dapat dibagi menjadi beberapa segmen ( bagian)
2. Bagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa adalah 40 sementara, jumlah segmen yang ada 4 , maka masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang.
3. Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami submateri pembelajaran yang berkaitan dengan ikhlas beribadah
4. Setelah masing-masing kelompok 1 dan 2 di tayangkan sebuah film atau gambar tentang kejadian gempa untuk menghadirkan panggilan hati dalam rangka menolong atau membantu yang terkenak musibah. Kemudian kelompok 3 dan 4 ditayangkan film atau gambar seorang anak kecil sehabis udhuk yang di lihat orang tuanya karena ingin dikasih uang jajan ahirnya berdoa khusuk
5. Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing
6. Siswa melaporkan hasil diskusi
7. Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain

3) Kegiatan Akhir
a. Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah ikhlas beribadah sesuai dengan indikator

III. KESIMPULAN
CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan bagian dari beberapa macam model pembelajaran dengan berdasarkan 7 komponen yang meliputi; Hubungan Bermakna (Konstruktivisme) bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), Refleksi (Reflection), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) kemudian dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan metode CTL dalam aplikatifnya terdapat pada karakteristik CTL yaitu; Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activtinging knowledge), Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi. (Sanjaya Wina, 2009.256).

Senin, 22 Maret 2010

makki madani

ILMU-ILMU MAKKI DAN MADANI ”
AINUL YAQIN
NIM : 095 112 065

I. PENDAHULUAN
Al-Qur’an sebagai kalamullah sekaligus mukjizat nomor wahid yang diturunkan kepada Khatimul Ambiyak Wal-Mursalin melalui malaikat Jibril, secara bertahap selama 23 tahun untuk menjawab pertanyaan yang di majukan kepada Muhammad SAW. (Asbabunnuzul) (Bahar Azwar, 2005: 9) yang diturunkan sebagai “.......Petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenahi petunjuk itu dan pembeda antara Haq dan Bathil, “ (QS. Al-Baqoroh: 185) (Depag, 1993: 45).
Sementara Qurais Syihab dalam buku Sejarah dan Ulumul Qur’an menerangkan bahwa ayat-ayat Makkiyah turun selama 12 tahun 5 bulan 13 hari (Qurais Syihab, 1999: 64) sisanya tidak dijelaskan apakah semua disebut ayat-ayat Madaniyah.
Karena Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia, maka manusia yang merasa dimanusiakan oleh Allah sangatlah penting memahaminya, al-Qur’an merupakan samudra ilmu bagi manusia ditinjau dari segala aspek, sebab turunnya, daerah-daerah atau tempat turunnya, demikian juga waktu, sehingga bisa menganalisa nasyakh mansyukhnya ayat, yang hal itu diberi nama dengan ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah oleh kesepakatan ulama. Abul Qasim Al-Nisaburiy dalam bukunya “Dirosat fi ‘Ulum al-Qur’an” pernah berkata bahwa Ilmu-ilmu Al-Qur’an yang paling mulya diantaranya adalah:
1. Mengenai Nuzulnya
2. Tempat dan urutannya yang turun di Makkah dan Madinah
3. Ayat yang turun di Makkah hukumnya Madinah
4. Ayat yang turun di Madinah hukumnya Makkah
5. Ayat yang turun di Makkah tentang penduduk Madinah
6. Ayat yang turun di Madinah tentang penduduk Makkah
7. Ayat yang turun di Madinah mirip Makkah
8. Ayat yang turun di Juhfah
9. Ayat yang turun di Baital Maqdis
10. Ayat yang turun di Ta’if
11. Ayat yang turun di Hudaibiyah
12. Ayat yang turun di malam hari
13. Ayat yang turun di siang hari
14. Ayat yang turun di saksikan sejumlah malaikat
15. Ayat yang turun tanpa di saksikan sejumlah malaikat
16. Ayat-ayat Madaniyah di Surat-Surat Makkiyah
17. Ayat-ayat Makkiyah di Surat-Surat Madaniyah
18. Ayat-ayat yang di bawa dari Makkah ke Madinah
19. Ayat-ayat yang di bawa dari Madinah ke Makkah
20. Ayat-ayat yang di bawa dari Madinah ke Habsyah
21. Ayat-ayat yang nturun secara Global
22. Ayat-ayat yang turun berikut tafsirnya
23. Ayat-ayat yang status katagorinya diperselisihkan, sebagian mengatakan Madaniyah sebagian mengatakan Makkiyah. (Kamaluddin Marzuki, 1994: 46)
Dari 23 permasalahan di atas membuat pembaca kebingungan dan melelahkan, namun semua itu sangat penting dipahami dan dikuasai bagi yang ingin mengenal Kalamullah lebih mendalam. Pada permasalahan di atas para pakar Al-Qur’an dan ulama mufassirin menyebutkan dengan istilah ilmu-ilmu Makkiyah dan Madaniyah, akan tetapi pembahas menelaah dari perkataan Abul Qasim begitu membingungkan serta atas dasar alasan menghormati dan menghargai dari berbagai pendapat para ulama yang berbeda memahami pembagian Makkiyah dan Madaniyah, maka pembahas mencoba menarik benang merah dan menawarkan bahwa :
Ayat-ayat yang bermasalah saling tarik menarik antara Makkiyah dan Madaniyah, pembahas memberikan istilah dengan ayat-ayat Bainal Makki wal Madani (antara ayat Makkiyah dan Madaniyah) dan di harapkan oleh pembahas agar pembaca lebih cepat memahami pengertian-pengertiannya, perbedaandan ciri-cirinya serta cara mengetahuinya, termasuk beberapa Surat Makkiyah dan Madaniyah yang diperselisihkan.

II. PEMBAHASAN
A. Pendekatan pada Pemahaman Surat Makkiyah dan Madaniyah
Para ulama mencoba menganalisa pemahaman Makkiyah dan Madaniyah bersandar pada utama yaitu :
1. Sima’ie Naqli (pendengaran seperti apa adanya)
Cara Sima’ie Naqli yaitu didasarkan pada riwayat shahih dari para sahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan turunnya wahyu.
2. Qiyasi Ijtihadi (kias hasil ijtihad) (Mudzakkir AS, 2006: 82)
Cara Qiyasi Ijtihadi yaitu didasarkan pada ciri-ciri Makki dan Madani yaitu jika dalam Surat Makki terdapat suatu ayat yang mengandung ayat Madani atau mengandung peristiwa Madani maka dikatakan Madani. (Mudzakkir AS, 2006: 83)

B. Perbedaan Makki dan Madani
1. Ditinjau dari segi kaitannya dengan waktu turunnya.
Makki adalah yang diturunkan sebelum hijrah meskipun bukan di Makkah.
Madani adalah yang turun setelah hijrah walaupun turunnya di Makkah (Ismail Moh. Bakir, 1991: 01) sebagaimana yang terdapat pada Surat An-Nisa’ ayat 58:
 •           ••    ...
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya… (QS. An-Nisa’: 58) (Depag, 1989: 128)

2. Ditinjau dari segi tempat turunnya.
Makki adalah yang turun di Makkah dan sekitarnya seperti di Mina, Arafah dan Hudaibiyah.
Madani adalah ayat yang turun di Madinah dan sekitarnya seperti di Uhud, Quba’ dan Sil (Ismail Moh. Bakir, 1991: 01)
3. Ditinjau dari segi sasaran pembicara
Makki adalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Makkah.
Madani adalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Madinah.
Berdasarkan pendapat ini para pendukungnya menyatakan bahwa ayat Qur’an yang mengandung seruan Yaa ‘ayyuhan nas adalah Makki sedangkan ayat yang mengandung seruan Yaa ‘ayyuhal ladzina ‘amanu adalah Madani (Ismail Moh. Bakir, 1991: 02)
Namun melalui pengamatan yang cermat tidak semua Surat Qur’an berdasarkan seruan tadi misalkan ayat yang di Surat al-Baqarah memakai kalimat Yaa ‘ayyuhan nas sedangkan Surat al-Baqarah disepakati sebagai Surat Madani seperti al-Baqarah ayat 21.
 ••         
Wahai manusia beribadahlah kepada tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 21). (Depag, 1989: 11)

Atau di Surat al-Hajj, Makki akan tetapi di dalamnya ada lafadz Yaa ‘ayyuhal ladzina ‘amanu seperti pada al-Hajj ayat 77
           
Wahai orang-orang yang yang beriman berrukuklah kalian, dan bersujudlah, dan menyembahlah kepada Tuhanmu dan berbuat baiklah agar kalian termasuk orang-orang yang beruntung. (QS. al-Hajj: 77) (Depag, 1989: 523)

C. Ciri-Ciri Khusus untuk Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah
1. Ciri-ciri Surat Makkiyah
a. Setiap Surat yang mengandung “KALLA”
b. Setiap Surat yang mengandung “SAJADAH”
c. Setiap Surat yang terdapat Yaa ‘ayyuhan nas kecuali pada Surat Al-Hajj ayat 77.
d. Setiap Surat yang mengandung kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu kecuali Al-Baqarah
e. Setiap Surat yang terdapat kisah Adam dan Iblis kecuali Al-Baqarah
f. Setiap Surat yang di buka dengan huruf singkatan seperti Nun, Alif la m mim, kecuali Surat al-Baqarah dan Ali Imran sedangkan Surat Ar-Ra’du masih diperselisihkan.
Sedangkan ditinjau dari ciri-ciri temanya Makkiyah mempunyai kriteria:
a. Peletakan dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlaq mulia yang menjadi dasar utama terbentuknya suatu masyarakat penyingkapan dosa orang musyrik seperti perempuan yang di kubur hidup-hidup
b. Mengisahkan para Nabi dan umatnya sebagai pandangan bagi mereka untuk mengetahui para pendusta sebelumnya serta sebagai hiburan buat Nabi untuk lebih tabah menghadapi gangguan
c. Ajakan tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian sebagai risalah kebangkitan dari hari pembalasan dan argumentasi terhadap orang-orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti nasional dengan ayat kauniyah
d. Suku kata yang pendek-pendek disertai dengan kata yang mengesankan dan pernyataan yang singkat (Moh. Abdul Adzim, 2002: 204)
2. Ciri-ciri Surat Madaniyah
a. Setiap Surat berisi kewajiban atau Had dan Fara’id
b. Setiap surat yang di dalamnya disebutkan orang-orang munafik keculi surat Al-Ankabut
c. Setiap surat yang di dalamnya terdapat dialog dengan ahli kitab
d. Setiap surat yang ayatnya panjang-panjang dan ada ungkapan Yaa ‘ayyuhal ladzina ‘amanu (Moh. Abdul Adzim, 2002: 205)
Sedangkan ditinjau dari ciri khas temanya, Madaniyah punya kreteria
a. Menjelaskan ibadah muamalah, had, kekeluargaan, warisan jihad, hubungan sosial, hubungan internasional, baik di waktu damai maupun perang, kaidah hukum dan masalah perundang undangan
b. Seruan terhadap ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani serta ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang. (Moh. Abdul Adzim, 2002: 205)

D. Pembagian Surat-Surat Makkiyah, Madaniyah Serta di Antara Makkiyah dan Madaniyah
1. Berikut susunan surat-surat Makkiyah berdasarkan kronologi turunnya adalah sebagai berikut (M. Qurais Shihab, 1999: 71)
No. Urut No. Surat Nama Surat
1. 96 Al-Alaq
2. 68 Al-Qalam
3. 73 Al-Muzzammil
4. 74 Al-Muddatsir
5. 1 Al-Fatihah
6. 111 Al-Masad
7. 81 Al-Takwir
8. 87 Al-’Ala
9 92 Al-lail
10. 89 Al-Fajr
11. 93 Al-Duha
12. 94 Al-Insyiroh
13. 103 Al-Ashr
14. 100 Al-Adiyat
15. 108 Al-Kawtsar
16. 102 Al-Takasur
17. 107 Al-Maun
18. 109 Al-Kafirun
19. 105 Al-Fil
20. 113 Al-Falaq
21. 114 Al-Nas
22. 112 Al-Ikhlas
23. 53 An-Najm
24. 80 ’Abasa
25. 97 Al-Qadar
26. 91 Al-Syams
27. 85 Al-Buruj
28. 95 Al-Tin
29. 106 Al-Quraisy
30. 101 Al-Baqarah
31. 75 Al-Qiyamah
32. 104 Al-Humazah
33. 77 Al-Mursalat
34. 50 Qaf
35. 90 Al-Balad
36. 86 Al-Thariq
37. 54 Al-Qamar
38. 38 Shad
39. 7 Al-A’raf
40 72 Al-Jin
41. 36 Yasin
42. 25 Al-Furqan
43. 35 Al-Fathir
44. 19 Maryam
45 20 Thaha
46 56 Al-Waqi’ah
47 26 As-Syuara’
48 27 Al-Namal
49 28 Al-Qashas
50 17 Al-Isra’
51 10 Yunus
52 11 Hud
53 12 Yusuf
54 15 Al-Hijr
55 6 Al-An’am
56 37 Al-Shaffat
57 31 Luqman
58 34 Sabak
59 39 Al-Zumar
60 40 Ghafir
61 41 Fushshilat
62 42 Al-Syura
63 43 Al-Zukhrof
64 44 Al-Dukhan
65 45 Al-Jatsiah
66 46 Al-Ahqaf
67 51 Al-Dzariyat
68 88 Al-Ghasyiyah
69 18 Al-Kahfi
70 16 Al-Nahl
71 71 Nuh
72 14 Ibrahim
73 21 Al-Anbiya’
74 23 Al-Mu’minun
75 32 Al-Sajadah
76 52 Al-Thur
77 67 Al-Mulk
78 69 Al-Haqqah
79 70 Al-Ma’arij
80 78 Al-Naba’
81 79 Al-Naziyat
82 82 Al-Infithar
83 84 Al-Insyiqaq
84 30 Al-Rum
85 29 Al-Ankabut
86 83 Al-Muthaffifin

2. Berikut susunan surat-surat Madaniyah berdasarkan kronologi turunnya adalah sebagai berikut (Qurais Shihab, 1999: 72)
No. Urut No. Surat Nama Surat
1. 2 Al-Baqarah
2. 8 Al-Anfal
3. 73 Al-Imran
4. 33 Al-Ahzab
5. 60 Al-Mumtahanah
6. 4 Al-nisa’
7. 57 Al-Hadid
8. 47 Al-Qital
9 65 Al-thalaq
10. 59 Al-Hasyr
11. 24 Al-Nur
12. 22 Al-Hajj
13. 63 Al-Munafiqun
14. 58 Al-Nujadilah
15. 49 Al-Hujurat
16. 66 Al-Tahrim
17. 64 Al-Taghabun
18. 61 Al-Shaf
19. 62 Al-Jumuah
20. 48 Al-Fath
21. 5 Al-Maidah
22. 9 Al-Tawbah
23. 110 Al-Nashr

3. Berikut susunan surat-surat di antara Makkiyah dan Madaniyah berdasarkan beberapa Surat dan ayat yang diperselisihkan oleh para Ulama.
Menurut Quraish shihab dalam bukunya Sejarah dan Ulumul Qur’an, Surat Makkiyah tidak berarti seluruh ayat yang terdapat dalam Surat tersebut diturunkan di Makkah sebelum hijrah; sebaliknya. Penamaan itu hanyalah karena surat tersebut memuat mayoritas ayat Makkiyah atau Madaniyah” (Qurais Shihab, 1999: 72), juga atas dasar dari pendapat Abul Qasim yang begitu membingungkan pembaca serta atas dasar alasan menghormati dan menghargai dari berbagai pendapat para ulama yang berbeda memahami pembagian Makkiyah dan Madaniyah. adalah sebagai berikut :


No. Urut Nama Surat/Ayat Keterangan
1. Al-Fatihah Diperselisihkan para Ulama’
2. Al-Ra’d Diperselisihkan para Ulama’
3. Al-Rahman Diperselisihkan para Ulama’
4. Al-Shaf Diperselisihkan para Ulama’
5. Al-Taghabun Diperselisihkan para Ulama’
6. Al-Tathfif Diperselisihkan para Ulama’
7. Al-Qadar Diperselisihkan para Ulama’
8. Al-Bayyinah Diperselisihkan para Ulama’
9 Al-Zalzalah Diperselisihkan para Ulama’
10. Al-Ikhlash Diperselisihkan para Ulama’
11. Al-Mu’awwidzatayn
(Al-Falaq dan Al-nas) Diperselisihkan para Ulama’
12. Ayat 13 Surat Al-Hujarah Turun di Makkah hukumnya Madinah
13. Ayat 3-5 Al-Maidah Turun di Makkah hukumnya Madinah pada hari jumat ketika umat Islam Wuquf di Arafah waktu haji Wada’
14. Ayat 17 Al-Anbiyak Madinah mirip Makkah, turun berhubungan dengan kedatangan kaum Nasrani Najran

Hal di atas kami kutip dari pembahasan Quraish Shihab dalam buku ”Sejarah dan Ulumul Qur’an” beberapa surat atau ayat yang bermasalah dalam kesimpulan Antara Makki dan Madani tidak semua kami katagorikan pada ayat yang bermasalah, seperti Ayat yang di turunkan pada siang hari, malam hari, yang di saksikan sejumlah malaikat atau yang tidak disaksikan malaikat, karena bagi pembahas masih jelas waktu dan tempat diturunkannya.

III. FAIDAH – FAIDAHNYA
Berpijak terhadap pengertian Makkiyah dan Madaniyah seperti telah diuraikan pada pembagian tersebut, setidaknya akan dapat menafsirkan ayat-ayat Al-Quran sesuai historis, geografis, hudud atau faraid dan lain sebagainya, kendatipun demikian perlu diketehui bahwa tidaklah cukup untuk memahami Ulumul Quran tanpa disiplin ilmu yang lain. Disamping demikian pemahaman terhadap ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah sangat bermamfaatuntuk langkah-langkah dalam menyampaikan da’wah islamiyah untuk menghindari kekeliruan dalam menafsirkan dan memberikan informsi kepada masyarakat, seperti karakter orang-orang Mekah yangberbeda dengan orang–orang Madinah sehingga membutuhkan penyampaian dakwah yang berbeda, seperti pada surat al-An’am Ayat 33,
       •        
Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah,QS: al-An’am:33 (Depag, 1989: 523)
Dalam ayat tersebut Allah menghibur Nabi Muhammad s.a.w. dengan menyatakan bahwa orang-orang musyrikin yang mendustakan Nabi, pada hakekatnya adalah mendustakan Allah sendiri, karena Nabi itu diutus untuk menyampaikan ayat-ayat Allah.
Demikian pula surat Al-Hijr,ayat 14-15:
                 • 
14. dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya,
15. tentulah mereka berkata: "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan Kami adalah orang orang yang kena sihir". QS, Al-Hijr,: 14-15 (Depag, 1989: 523)

Di samping itu juga terdapat ayat-ayat yang menunjukkan keberpihakan sebelah, kepada orang musyrikin terkadang mencaci, mencela dan bernada keras dengan menunjukkan ketololan mereka serta menghibur nabi dan orang-orang Muslim dalam menghadapi berbagai tantangan dari mereka.
Disamping itu pula terdapat terdapat ayat-ayat yang menganjurkan untuk bersikap toleran dan suka member maaf kepada mereka.
Lain halnya pada situasi setelah Rosulullah Hijrah ke kota Madinah, masyarakat Kota Madinah terdapat tiga golongan Manusia yaitu:

Pertama : Golongan Yahudi
Terhadap golongan ini, Al-Quran membantah, mengureksi serta mengajak mereka, agar kembali pada kalimat yang bersamaan antara mereka dengan umat Islam, yaitu hanya bertuhan kan Allah sebagai sesembahan Umat hingga ahir Zaman
Kedua : Golongan Munafik
Terhadap Golongan ini, Al-Quran membuka kedok kejahatan-kejahatan dan rahasia-rahasianya.
Ketiga : Golongan Muslim, yang terdiri dari Muhajirin dan Ansor
Terhadap golongan Islam ini, al-Quran di samping agar umat islam terus tetap menempuh jalan yang yang diridhai oleh Allah juga al-Quran secara bertahap memberikan aturan-aturan hukum yang kehidupan manusia secara perorangan maupun kemasyarakatan (kenegaraan), dalam bidang politik, perekonomian, budaya dan lain sebagainya. (Zuhdi Masjfuk,H,1997: 73)
Dari sekian macam beraneka ragam multi Aqidah yang dihadapi Rosulullah di kota Madinah belum lagi kondisi orang Musyrik yang di Mekah tentunya harus melalui penanganan-penanganan yang berbeda dan semua itu terselesaikan dengan ayat-ayat yang turun di Mekah dan di Madinah serta yang turun diantara Mekah dan Madinah, sehingga Islam betul-betul bias menitralisir segala permasalahan Umat, bahkan tidak hanya itu, dengan al-Alquran kita bisa sampai sekarang sudah bisa menjawab tantangan Zaman.
IV. PENUTUP dan KESIMPULAN
Dari Analisa pembahas atas kongklusi Ilmu-ilmu Makki dan Madani maka pembahas membagi pada tiga pokok Klasifikasi.
1. Makkiyah adalah :
Ayat Qur’an yang turun sebelum hijrah walaupun turun disekitar Madinah, ayat Qur’an yang turun di Makkah walupun turunnya setelah hijrah, ayat Qur’an yang turun khitabnya di tujukan kepada penduduk Makkah
2. Madaniyah adalah :
Ayat Qur’an yang turun sesudah hijrah walaupun turun di sekitar Makkah, ayat Qur’an yang turun di Madinah, ayat Qur’an yang khitobnya ditujukan di kepada penduduk Madinah
3. Diantara Makkiyah dan Madaniyah (Baina Al-Makki Wa Al-Madani)
Ayat Qur’an yang dipermasalahkan penempatannya oleh para ulama’ karena saling tarik menarik seperti surat Al-Hajj ayat 77,
            
Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. QS. Al-Hajj : 77, (Depag, 1989: 523)


Dan pada surat Al-Baqarah ayat 21.
 ••          
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, QS, al-Baqarah: 21(Depag, 1989: 523)
Bahkan masih banyak ayat yang bermasalah berbeda penafsiran dalam menempatkan antara makkiyah dan Madaniyah Seperti surah al-A’rad namun bagaimanapun tujuan dalam mengklasifikasi ayat tersebut masih tidak keluar pada eksistensinya, untuk memberikan pemahaman yang lebih mudah atas Al-Quran sebagai kitab yang terahir diturunkan pada nabi ahir zaman.











DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abdul Adzim-Azzarqany, Syekh Muhammmad, 2002, Manahil a-Urfah Fi’ulum al-Qur’an, Jakarta: Gaya Media Pratama.

Anwar, Rosihan, 2001, Samudra Al-Qur’an, Bandung: Pustaka Setia .

Azwar, Bahar, 2005, Manfaat Puasa menurut ilmu Kesehatan, Jakarta : PT Agro Media Pustaka

Departemen Agama, 2000, Al-Qur’an Terjemah, Semarang: CV. Al-Waah.

Ismail, Moh. Baqir, 1991, Dirasah fi Ulumil Qur’an, Kairo: Darul Manar.

Khalil Al-Qatan Manna’, 1973, Mabahis fi Ulumil Qur’an, Masyurat Al-Asra’i Hadis, Terj. Mudzakkir, 2001, Bogor: Pustaka Letera Antar Nusa.

Marzuki, Kamaluddin, 1994, Ulumul Qur’an, Bandung: PT. Remaja Rosida Karya.

Shihab, M Quraish, dkk., 1999, Sejarah dan Ulumul Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus.

Zuhdi Masjfuk, H, Prof. Drs, 1997, Pengantar Ulumul Qur’an, Surabaya: Karya Abditama.