Sabtu, 03 April 2010
Implementasi metode pembelajaran CTL pada mapel al-quran hadis di kls x semtr genap di MA. Mashlahatul hidayah
MODEL PEMBELAJARAN
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
Oleh Ainul Yaqin
I. PENDAHULUAN
Pembelajaran suatu hal yang urgen dalam menentukan potensi Intlektualitas seseorang dalam arti lain penting bagi setiap orang dalam menghadapi perkembangan teknologi yang begitu pesat. Lebih-lebih dalam menghadapi era Tekhnologi Global di abad pengetahuan yang banyak ditandai oleh pergeseran peran manufaktur ke sektor jasa berbasis pengetahuan, kompetensi itu merupakan salah satu faktor yang sangat menetukan kehidupan manusia. Artinya, ketika kehidupan telah berubah menjadi semakin maju dan kompleks, masalah kehidupan yang banyak diwarnai oleh fenomena dunia nyata diupayakan dapat dijelaskan secara keilmuan. Berdasarkan pemilikan kompetensi keilmuan tersebut, maka peserta didik diharapkan mampu memecahkan dan mengatasi permasalahan kehidupan yang dihadapi dengan cara lebih baik, lebih cepat, adaptif, lentur, dan versatile.
Dari berbagai kompleksnya permasalahan Model Pembelajaran mengambil posisi penting dalam peran tranformasi keilmuan untuk memberikan pemahaman yang mudah diterima sehingga muncullah beberapa model pembelajaran seperti yang akan dibahas pemakalah yaitu model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) sebuah pendekatan metode pembelajaran untuk membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi peserta didik. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa dalam dunia nyata, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).
II. PENGERTIAN/PEMBAHASAN
A. Pengertian
CTL merupakan kepanjangan dari Contextual Teaching And Learning yaitu suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya Wina, 2009.255).
Dalam panduan buku bahan ajar pendidikan dan pelatihan profesi guru kuota 2008 untuk mapel PAI,MTS, MA yang diterbitkan IAIN Sunan Ampel mendefinisikan CTL adalah pembelajaran/pengajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi sosial dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/konteks lainnya. (LPTK IAIN. Sunan Ampel, 2008.5-6). Dari pengertian tersebut ada tiga hal yang perlu dipahami:
a. CTL menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya diposes belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung
b. CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata. Dalam rangka mencari korelasi.
c. CTL mendorong agar siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan. (Sanjaya Wina, 2009.255)
B. Karakteristik Metode Pendekatan CTL Dan Kaitannya Dengan Psikologi CTL
Dari paparan pengertian CTL di atas sangatlah jelas bahwa materi yang dipelajari berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliran ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan Stimulus dan Respons. Belajar tidak sesederhana itu. Belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi dan kemampuan atau pengalaman. Apa yang tampak, pada dasarnya adalah wujud dari adanya dorongan yang berkembang dalam diri seseorang. Sebagai peristiwa mental perilaku manusia tidak semata-mata merupakan gerakan fisik saja, akan tetapi yang lebih penting adalah adanya faktor pendorong yang ada dibelakang gerakan fisik itu. Mengapa demikian? Sebab manusia selamanya memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya. Kebutuhan itulah yang mendorong manusia untuk berperilaku. Adanya keterkaitan pembelajaran kontekstual CTL maka ada beberapa hal yang harus dipahami yaitu:
a. Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki. Oleh karena itulah, semakin banyak pengalaman maka akan semakin banyak pula pengetahuan yang mereka peroleh.
b. Belajar bukan sekadar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas. Pengetahuan itu pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami, sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki akan berpengaruh terhadap pola-pola perilaku manusia, seperti pola berpikir, pola bertindak, kemampuan memecahkan persoalan termasuk penampilan atau performance seseorang. Semakin pengetahuan seseorang luas dan mendalam, maka akan semakin efektif dalam berpikir.
c. Belajar adalah proses pemecahan masalah, sebab dengan memecahkan masalah anak akan berkembang secara utuh yang bukan hanya perkembangan intektual akan tetapi juga mental dan emosi. Belajar secara kontekstual adalah belajar bagaimana anak menghadapi persoalan.
d. Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari sederhana menuju yang kompleks. Oleh karena itu belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai dengan irama kemampuan siswa.
e. Belajar pada hakikatnya adalah menagkap pengetahuan dari kenyataan. Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang memiliki makna untuk kehidupan anak (Real World Learning) (Sanjaya Wina, 2009.260).
Oleh karena itu materi pelajaran dalam konteks CTL Bukan untuk di tumpuk di otak kemudian dilupakan, akan tetapi untuk diaplikasikan dalam keseharian, jadi berkaitan dengan hal tersebut sangatlah penting juga memahami kelima karakteristik yaitu berupa:
1. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activtinging knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi. (Sanjaya Wina, 2009.256).
C. Perbedaan CTL Dengan Pembelajaran Tradisional
Terdapat beberapa perbedaan antara pendekatan CTL dengan metode pendekatan tradisional sebagaimana terdapat pada skema:
NO CTL TRADISIONAL
1 *CTL (Contextual Teaching and Learning) *CTL (Catat Tinggal And Lungo)
2 Menyandarka pada memori spasial (pemahaman makna) Menyandarkan pada hafalan
3 Pemilihan Informasi Berdasarkan Kebutuhan Siswa Pemilihan informasi ditentukan oleh guru
4 Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran Siswa secara pasif menerima informasi
5 Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
6 Selalu mengaitka informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai satnya diperlukan
7 Perilaku dibangun atas kesadaran diri Perilaku dibangun atas kebiasaan
8 Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
9 Hasil belajar diukur melalui melalui penerapan penilaian autentik Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ ulangan
D. Komponen-komponen CTL
Dalam metode pendekatan pembelajaran CTL terdapat 7 komponen atau yang disebut juga sebagai Asas sebagaimana penjelasan berikut.
1. Konstruktivisme (Hubungan Bermakna)
Dalam pengertian secara luas Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur koknitif, peserta didik berdasarkan pengalaman. Menurut komponen tersebut pengetahuan itu berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu pengetahuan terbentuk oleh dua factor yaitu obyek yang menjadi bahan pengamatan dan kemamouan subyek untuk menginterpretasi obyek tersebut. (amruni,2009.181)
2. Inkuiri (Penemuan)
Inkuiri mempunyai arti proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah suatu fakta hasil dari mengingat akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu:
Merumuskan masalah
Mengajukan hipotesis
Mengumpulkan data
Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan
Membuat kesimpulan
Dari siklus tersebut diharapkan melalui proses berfikir yang sistematis dan logis, dari kesemuanya itu diperlukan sebagai dasar pembentukan kratifitas. (wina sanjaya, 2009, 266)
3. Questioning (Tanya jawab)
Dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
4. Learning Community (Komunitas belajar)
Adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.
5. Modeling (Pemodelan)
Dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
6. Reflection (Refleksi)
Yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
7. Authentic Assessment (Penilaian otentik)
Prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa. (http://bandono.web.id/2008/03/07/menyusun-model-pembelajaran)
E. Aplikasi pembelajaran CTL pada pelajaran Al-quran Hadis
Pada contoh berikut adalah terapan model metode pembelajaran CTL terhadap mata pelajaran Al-quran Hadis di kelas X semester 2 memahami dan menjelaskan ayat-ayat tentang keikhlasan dalam beribadah
F. MetodePembelajaran CTL
a) Langkah Pembelajaran
1) Kegiatan Awal
a. Mengamati dan mengarahkan sikap siswa agar siap memulai pelajaran
b. Mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa
c. Melakukan tes penjajakan [pre-tes] dan mengidentifikasi keadaan siswa berkaitan dengan kompetensi yang akan di capai
d. Menjelaskan potensi yang harus dicapai serta manfaat dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari
2) Kegiatan Inti
1. Pilihlah materi pembelajaran yang dapat dibagi menjadi beberapa segmen ( bagian)
2. Bagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa adalah 40 sementara, jumlah segmen yang ada 4 , maka masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang.
3. Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami submateri pembelajaran yang berkaitan dengan ikhlas beribadah
4. Setelah masing-masing kelompok 1 dan 2 di tayangkan sebuah film atau gambar tentang kejadian gempa untuk menghadirkan panggilan hati dalam rangka menolong atau membantu yang terkenak musibah. Kemudian kelompok 3 dan 4 ditayangkan film atau gambar seorang anak kecil sehabis udhuk yang di lihat orang tuanya karena ingin dikasih uang jajan ahirnya berdoa khusuk
5. Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing
6. Siswa melaporkan hasil diskusi
7. Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain
3) Kegiatan Akhir
a. Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah ikhlas beribadah sesuai dengan indikator
III. KESIMPULAN
CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan bagian dari beberapa macam model pembelajaran dengan berdasarkan 7 komponen yang meliputi; Hubungan Bermakna (Konstruktivisme) bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), Refleksi (Reflection), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) kemudian dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan metode CTL dalam aplikatifnya terdapat pada karakteristik CTL yaitu; Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activtinging knowledge), Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi. (Sanjaya Wina, 2009.256).
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
Oleh Ainul Yaqin
I. PENDAHULUAN
Pembelajaran suatu hal yang urgen dalam menentukan potensi Intlektualitas seseorang dalam arti lain penting bagi setiap orang dalam menghadapi perkembangan teknologi yang begitu pesat. Lebih-lebih dalam menghadapi era Tekhnologi Global di abad pengetahuan yang banyak ditandai oleh pergeseran peran manufaktur ke sektor jasa berbasis pengetahuan, kompetensi itu merupakan salah satu faktor yang sangat menetukan kehidupan manusia. Artinya, ketika kehidupan telah berubah menjadi semakin maju dan kompleks, masalah kehidupan yang banyak diwarnai oleh fenomena dunia nyata diupayakan dapat dijelaskan secara keilmuan. Berdasarkan pemilikan kompetensi keilmuan tersebut, maka peserta didik diharapkan mampu memecahkan dan mengatasi permasalahan kehidupan yang dihadapi dengan cara lebih baik, lebih cepat, adaptif, lentur, dan versatile.
Dari berbagai kompleksnya permasalahan Model Pembelajaran mengambil posisi penting dalam peran tranformasi keilmuan untuk memberikan pemahaman yang mudah diterima sehingga muncullah beberapa model pembelajaran seperti yang akan dibahas pemakalah yaitu model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) sebuah pendekatan metode pembelajaran untuk membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi peserta didik. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa dalam dunia nyata, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).
II. PENGERTIAN/PEMBAHASAN
A. Pengertian
CTL merupakan kepanjangan dari Contextual Teaching And Learning yaitu suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya Wina, 2009.255).
Dalam panduan buku bahan ajar pendidikan dan pelatihan profesi guru kuota 2008 untuk mapel PAI,MTS, MA yang diterbitkan IAIN Sunan Ampel mendefinisikan CTL adalah pembelajaran/pengajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi sosial dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/konteks lainnya. (LPTK IAIN. Sunan Ampel, 2008.5-6). Dari pengertian tersebut ada tiga hal yang perlu dipahami:
a. CTL menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya diposes belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung
b. CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata. Dalam rangka mencari korelasi.
c. CTL mendorong agar siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan. (Sanjaya Wina, 2009.255)
B. Karakteristik Metode Pendekatan CTL Dan Kaitannya Dengan Psikologi CTL
Dari paparan pengertian CTL di atas sangatlah jelas bahwa materi yang dipelajari berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliran ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan Stimulus dan Respons. Belajar tidak sesederhana itu. Belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi dan kemampuan atau pengalaman. Apa yang tampak, pada dasarnya adalah wujud dari adanya dorongan yang berkembang dalam diri seseorang. Sebagai peristiwa mental perilaku manusia tidak semata-mata merupakan gerakan fisik saja, akan tetapi yang lebih penting adalah adanya faktor pendorong yang ada dibelakang gerakan fisik itu. Mengapa demikian? Sebab manusia selamanya memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya. Kebutuhan itulah yang mendorong manusia untuk berperilaku. Adanya keterkaitan pembelajaran kontekstual CTL maka ada beberapa hal yang harus dipahami yaitu:
a. Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki. Oleh karena itulah, semakin banyak pengalaman maka akan semakin banyak pula pengetahuan yang mereka peroleh.
b. Belajar bukan sekadar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas. Pengetahuan itu pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami, sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki akan berpengaruh terhadap pola-pola perilaku manusia, seperti pola berpikir, pola bertindak, kemampuan memecahkan persoalan termasuk penampilan atau performance seseorang. Semakin pengetahuan seseorang luas dan mendalam, maka akan semakin efektif dalam berpikir.
c. Belajar adalah proses pemecahan masalah, sebab dengan memecahkan masalah anak akan berkembang secara utuh yang bukan hanya perkembangan intektual akan tetapi juga mental dan emosi. Belajar secara kontekstual adalah belajar bagaimana anak menghadapi persoalan.
d. Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari sederhana menuju yang kompleks. Oleh karena itu belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai dengan irama kemampuan siswa.
e. Belajar pada hakikatnya adalah menagkap pengetahuan dari kenyataan. Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang memiliki makna untuk kehidupan anak (Real World Learning) (Sanjaya Wina, 2009.260).
Oleh karena itu materi pelajaran dalam konteks CTL Bukan untuk di tumpuk di otak kemudian dilupakan, akan tetapi untuk diaplikasikan dalam keseharian, jadi berkaitan dengan hal tersebut sangatlah penting juga memahami kelima karakteristik yaitu berupa:
1. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activtinging knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi. (Sanjaya Wina, 2009.256).
C. Perbedaan CTL Dengan Pembelajaran Tradisional
Terdapat beberapa perbedaan antara pendekatan CTL dengan metode pendekatan tradisional sebagaimana terdapat pada skema:
NO CTL TRADISIONAL
1 *CTL (Contextual Teaching and Learning) *CTL (Catat Tinggal And Lungo)
2 Menyandarka pada memori spasial (pemahaman makna) Menyandarkan pada hafalan
3 Pemilihan Informasi Berdasarkan Kebutuhan Siswa Pemilihan informasi ditentukan oleh guru
4 Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran Siswa secara pasif menerima informasi
5 Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
6 Selalu mengaitka informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai satnya diperlukan
7 Perilaku dibangun atas kesadaran diri Perilaku dibangun atas kebiasaan
8 Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
9 Hasil belajar diukur melalui melalui penerapan penilaian autentik Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ ulangan
D. Komponen-komponen CTL
Dalam metode pendekatan pembelajaran CTL terdapat 7 komponen atau yang disebut juga sebagai Asas sebagaimana penjelasan berikut.
1. Konstruktivisme (Hubungan Bermakna)
Dalam pengertian secara luas Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur koknitif, peserta didik berdasarkan pengalaman. Menurut komponen tersebut pengetahuan itu berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu pengetahuan terbentuk oleh dua factor yaitu obyek yang menjadi bahan pengamatan dan kemamouan subyek untuk menginterpretasi obyek tersebut. (amruni,2009.181)
2. Inkuiri (Penemuan)
Inkuiri mempunyai arti proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah suatu fakta hasil dari mengingat akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu:
Merumuskan masalah
Mengajukan hipotesis
Mengumpulkan data
Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan
Membuat kesimpulan
Dari siklus tersebut diharapkan melalui proses berfikir yang sistematis dan logis, dari kesemuanya itu diperlukan sebagai dasar pembentukan kratifitas. (wina sanjaya, 2009, 266)
3. Questioning (Tanya jawab)
Dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
4. Learning Community (Komunitas belajar)
Adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.
5. Modeling (Pemodelan)
Dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
6. Reflection (Refleksi)
Yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
7. Authentic Assessment (Penilaian otentik)
Prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa. (http://bandono.web.id/2008/03/07/menyusun-model-pembelajaran)
E. Aplikasi pembelajaran CTL pada pelajaran Al-quran Hadis
Pada contoh berikut adalah terapan model metode pembelajaran CTL terhadap mata pelajaran Al-quran Hadis di kelas X semester 2 memahami dan menjelaskan ayat-ayat tentang keikhlasan dalam beribadah
F. MetodePembelajaran CTL
a) Langkah Pembelajaran
1) Kegiatan Awal
a. Mengamati dan mengarahkan sikap siswa agar siap memulai pelajaran
b. Mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa
c. Melakukan tes penjajakan [pre-tes] dan mengidentifikasi keadaan siswa berkaitan dengan kompetensi yang akan di capai
d. Menjelaskan potensi yang harus dicapai serta manfaat dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari
2) Kegiatan Inti
1. Pilihlah materi pembelajaran yang dapat dibagi menjadi beberapa segmen ( bagian)
2. Bagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa adalah 40 sementara, jumlah segmen yang ada 4 , maka masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang.
3. Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami submateri pembelajaran yang berkaitan dengan ikhlas beribadah
4. Setelah masing-masing kelompok 1 dan 2 di tayangkan sebuah film atau gambar tentang kejadian gempa untuk menghadirkan panggilan hati dalam rangka menolong atau membantu yang terkenak musibah. Kemudian kelompok 3 dan 4 ditayangkan film atau gambar seorang anak kecil sehabis udhuk yang di lihat orang tuanya karena ingin dikasih uang jajan ahirnya berdoa khusuk
5. Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing
6. Siswa melaporkan hasil diskusi
7. Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain
3) Kegiatan Akhir
a. Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah ikhlas beribadah sesuai dengan indikator
III. KESIMPULAN
CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan bagian dari beberapa macam model pembelajaran dengan berdasarkan 7 komponen yang meliputi; Hubungan Bermakna (Konstruktivisme) bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), Refleksi (Reflection), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) kemudian dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan metode CTL dalam aplikatifnya terdapat pada karakteristik CTL yaitu; Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activtinging knowledge), Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi. (Sanjaya Wina, 2009.256).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar