Minggu, 04 April 2010
metode pembelajaran Jagsow
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW
DALAM MAPEL AL-QUR’AN HADIS
( Materi : Istilah-istilah Hadits )
Oleh : Ainul Yaqin
I. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran. Dalam konteks penyelenggaraan ini, guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dan berpedoman pada seperangkatn aturan dan rencana tentang pendidikan yang dikemas dalam bentuk kurikulum.
Kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan berorientasi pada kemajuan sistem pendidikan nasional, tampaknya belum dapat direalisasikan secara maksimal. Salah satu masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah lemahnya proses pembelajaran.
Berdasarkan pengamatan riil di lapangan, proses pembelajaran di sekolah dewasa ini kurang meningkatkan kreativitas siswa. Karena masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh sang guru.
Proses pembelajaran yang dilakukan oleh banyak tenaga pendidik saat ini cenderung pada pencapaian target materi kurikulum, lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang selalu didominasi oleh guru. Dalam penyampaian materi, biasanya guru menggunakan metode ceramah, dimana siswa hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Upaya peningkatan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dalam hal ini, diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal.
Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh siswa. Jadi, kegiatan belajar berpusat pada siswa, guru sebagai motivator dan fasilitator di dalamnya agar suasana kelas lebih hidup.
Pembelajaran kooperatif terutama teknik Jigsaw dianggap cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia karena sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong.
II. PEMBAHASAN
A. Model Pembelajaran Jigsaw
Metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam keberhasilan pendidikan. Penggunaan metode yang tepat akan menentukan keefektifan dan keefisienan dalam proses pembelajaran. Guru harus senantiasa mampu memilih dan menerapkan metode yang tepat sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan. Terdapat beberapa metode yang telah lama digunakan oleh para guru, antara lain : metode ceramah, metode tanya jawab, dan metode resitasi. Serentetan metode tersebut bisa dikatakan metode konvensional. Model pembelajaran konvensional yang selama ini digunakan oleh sebagian besar guru yang tidak sesuai dengan tuntutan jaman, karena pembelajaran yang dilakukan kurang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi siswa untuk aktif mengkontruksi pengetahuannya.
Salah satu model pembelajaran yang dimungkinkan mampu mengantisipasi kelemahan model pembelajaran konvensional adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.
Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Aronson. dkk di Universitas Texas.1
Jigsaw Learning merupakan sebuah teknik yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan teknik “pertukaran dari kelompok ke kelompok” (group-to-group exchange) dengan suatu perbedaan penting: setiap peserta didik mengajarkan sesuatu.2
Model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan materi tersebut kepada kelompoknya. Sehingga baik kemampuan secara kognitif maupun sosial siswa sangat diperlukan.
Karena menurut Piaget, bahwa perkembangan kognitif mempunyai empat aspek, yaitu :3
1. Kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan syaraf,
2. Pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara organisme dengan dunianya,
3. Interaksi Sosial, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial,
4. Ekullibrasi, yaitu adanya kemampuan atau sistem mengatur dalam diri organisme agar dia selalu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
Selain itu, model pembelajaran kooperatif Jigsaw ini dilandasi oleh teori belajar humanis. Alasannya adalah bahwa teori belajar humanistik menjelaskan bahwa pada hakekatnya setiap diri manusia adalah unik, memiiki potensi individual dan dorongan internal untuk berkembang dan menentukan perilakunya. Menurut Carl Rogers seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) daam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers meyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas terapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar.4
Adapun langkah-langkah model pembelajaran Jigsaw adalah,5
1. Siswa dikelompokkan dengan anggota ± 4 orang,
2. Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda,
3. Anggota dari tim yang berbeda dengan penugasan yang sama membentuk kelompok baru (kelompok ahli),
4. Setelah kelompok ahli berdiskusi, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok tentang sub bab yang mereka kuasai,
5. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi,
6. Klarifikasi dan simpulkan agar seluruh siswa memperoleh pemahaman yang utuh.
Jadi pembelajaran model ini lebih meningkatkan kerja sama antar siswa. Kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari siswa-siswa yang bekerja sama dalam satu perancanaan kegiatan. Dan dalam pembelajaran ini setiap anggota kelompok diharapkan dapat saling bekerja sama dan bertanggung jawab baik kepada dirinya sendiri maupun kepada kelompoknya.
Strategi ini dapat diterapkan pada pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan dan diketahui siswa dengan membagikan bahan ajar yang lengkap. Untuk mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan atau dibagi secara berkelompok, siswa dapat mendiskusikan dalam kelompok kecil. Setiap anggota kelompok kecil berusaha membuat resume untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Bentuklah kelompok baru secara acak atau setiap anggota kelompok saling menjelaskan resume kepada sesama anggota sehingga diperoleh pemahaman yang utuh. Hasil resume kelompok itupun dapat dipresentasikan.6
B. Implementasi Pada Mapel Al-Qur’an Hadis
Materi al-Qur’an Hadis sesuai dengan Pelaksanaan Peraturan Menteri Agama RI Nomor 2 tahun 2008 pada Madrasah Aliyah (MA) semester genap dintaranya adalah Pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
Standar kompetensi materi tersebut adalah Memahami istilah-istilah hadits, dengan kompetensi dasar :
1. Mendefinisikan pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
2. Membandingkan pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
3. Menerapkan pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
Dengan indikator hasil belajar
1. Siswa dapat mendefinisikan pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi dengan benar,
2. Siswa dapat membedakan hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi,
3. Siswa dapat menyebutkan contoh-contoh hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
Pada materi tersebut sangat sesuai jika seorang guru dalam mengajar kepada siswanya menggunakan model pembelajarannya Jigsaw, dengan langkah-langkah :
1. Kegiatan Awal
a. Mengamati dan mengarahkan sikap siswa agar siap memulai pelajaran,
b. Mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa,
c. Melakukan tes penjajakan [pre-tes] dan mengidentifikasi keadaan siswa,
d. Mengingatkan pelajaran yang telah diterima dan mengaitkan pada pelajaran baru,
e. Penjelasan singkat tentang tujuan dan proses pembelajaran yang akan dijalani siswa,
2. Kegiatan Inti
b. Materi pembelajaran dapat dibagi menjadi beberapa 5 (lima) segmen/bagian, yaitu : hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi,
b. Bagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa adalah 30, sementara jumlah segmen yang ada 5 , maka masing-masing kelompok terdiri dari 6 orang,
c. Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami submateri pembelajaran yang berbeda-beda,
d. Setiap kelompok mengirimkan anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajari di kelompoknya,
e. Kembalikan suasana kelas seperti semula kemudian tanyakan sekiranya ada persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok,
f. Bagi siswa beberapa pertanyaan untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi,
3. Kegiatan Akhir
a. Memberikan penegasan dan menyimpulkan materi ajar yang sudah dipelajari,
b. Memberikan post tes untuk mengetahui hasil pembelajaran,
c. Memberikan tugas mandiri untuk mendalami materi ajar,
III. PENUTUP
Pembelajaran di sekolah yang melibatkan siswa dengan guru akan melahirkan nilai yang akan terbawa dan tercermin terus dalam kehidupan di masyarakat. Pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam kelompok secara bergotong royong (kooperatif) akan menimbulkan suasana belajar partisipatif dan menjadi lebih hidup. Teknik pembelajaran Cooperative Learning dapat mendorong timbulnya gagasan yang lebih bermutu dan dapat meningkatkan kreativitas siswa.
Jigsaw merupakan bagian dari teknik-teknik pembelajaran Cooperative Learning. Jika pelaksanaan prosedur pembelajaran Cooperative Learning ini benar, akan memungkinkan untuk dapat mengaktifkan siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Sampai saat ini pembelajaran Cooperative Learning terutama teknik Jigsaw belum banyak diterapkan dalam pendidikan walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.
Demikianlah makalah yang dapat saya buat dan saya presentasikan, tentunya kritik, saran dan masukan sangat saya harapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Wallahu a’lam.
DALAM MAPEL AL-QUR’AN HADIS
( Materi : Istilah-istilah Hadits )
Oleh : Ainul Yaqin
I. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran. Dalam konteks penyelenggaraan ini, guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dan berpedoman pada seperangkatn aturan dan rencana tentang pendidikan yang dikemas dalam bentuk kurikulum.
Kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan berorientasi pada kemajuan sistem pendidikan nasional, tampaknya belum dapat direalisasikan secara maksimal. Salah satu masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah lemahnya proses pembelajaran.
Berdasarkan pengamatan riil di lapangan, proses pembelajaran di sekolah dewasa ini kurang meningkatkan kreativitas siswa. Karena masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh sang guru.
Proses pembelajaran yang dilakukan oleh banyak tenaga pendidik saat ini cenderung pada pencapaian target materi kurikulum, lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang selalu didominasi oleh guru. Dalam penyampaian materi, biasanya guru menggunakan metode ceramah, dimana siswa hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Upaya peningkatan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dalam hal ini, diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal.
Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh siswa. Jadi, kegiatan belajar berpusat pada siswa, guru sebagai motivator dan fasilitator di dalamnya agar suasana kelas lebih hidup.
Pembelajaran kooperatif terutama teknik Jigsaw dianggap cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia karena sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong.
II. PEMBAHASAN
A. Model Pembelajaran Jigsaw
Metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam keberhasilan pendidikan. Penggunaan metode yang tepat akan menentukan keefektifan dan keefisienan dalam proses pembelajaran. Guru harus senantiasa mampu memilih dan menerapkan metode yang tepat sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan. Terdapat beberapa metode yang telah lama digunakan oleh para guru, antara lain : metode ceramah, metode tanya jawab, dan metode resitasi. Serentetan metode tersebut bisa dikatakan metode konvensional. Model pembelajaran konvensional yang selama ini digunakan oleh sebagian besar guru yang tidak sesuai dengan tuntutan jaman, karena pembelajaran yang dilakukan kurang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi siswa untuk aktif mengkontruksi pengetahuannya.
Salah satu model pembelajaran yang dimungkinkan mampu mengantisipasi kelemahan model pembelajaran konvensional adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.
Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Aronson. dkk di Universitas Texas.1
Jigsaw Learning merupakan sebuah teknik yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan teknik “pertukaran dari kelompok ke kelompok” (group-to-group exchange) dengan suatu perbedaan penting: setiap peserta didik mengajarkan sesuatu.2
Model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan materi tersebut kepada kelompoknya. Sehingga baik kemampuan secara kognitif maupun sosial siswa sangat diperlukan.
Karena menurut Piaget, bahwa perkembangan kognitif mempunyai empat aspek, yaitu :3
1. Kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan syaraf,
2. Pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara organisme dengan dunianya,
3. Interaksi Sosial, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial,
4. Ekullibrasi, yaitu adanya kemampuan atau sistem mengatur dalam diri organisme agar dia selalu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
Selain itu, model pembelajaran kooperatif Jigsaw ini dilandasi oleh teori belajar humanis. Alasannya adalah bahwa teori belajar humanistik menjelaskan bahwa pada hakekatnya setiap diri manusia adalah unik, memiiki potensi individual dan dorongan internal untuk berkembang dan menentukan perilakunya. Menurut Carl Rogers seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) daam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers meyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas terapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar.4
Adapun langkah-langkah model pembelajaran Jigsaw adalah,5
1. Siswa dikelompokkan dengan anggota ± 4 orang,
2. Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda,
3. Anggota dari tim yang berbeda dengan penugasan yang sama membentuk kelompok baru (kelompok ahli),
4. Setelah kelompok ahli berdiskusi, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok tentang sub bab yang mereka kuasai,
5. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi,
6. Klarifikasi dan simpulkan agar seluruh siswa memperoleh pemahaman yang utuh.
Jadi pembelajaran model ini lebih meningkatkan kerja sama antar siswa. Kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari siswa-siswa yang bekerja sama dalam satu perancanaan kegiatan. Dan dalam pembelajaran ini setiap anggota kelompok diharapkan dapat saling bekerja sama dan bertanggung jawab baik kepada dirinya sendiri maupun kepada kelompoknya.
Strategi ini dapat diterapkan pada pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan dan diketahui siswa dengan membagikan bahan ajar yang lengkap. Untuk mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan atau dibagi secara berkelompok, siswa dapat mendiskusikan dalam kelompok kecil. Setiap anggota kelompok kecil berusaha membuat resume untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Bentuklah kelompok baru secara acak atau setiap anggota kelompok saling menjelaskan resume kepada sesama anggota sehingga diperoleh pemahaman yang utuh. Hasil resume kelompok itupun dapat dipresentasikan.6
B. Implementasi Pada Mapel Al-Qur’an Hadis
Materi al-Qur’an Hadis sesuai dengan Pelaksanaan Peraturan Menteri Agama RI Nomor 2 tahun 2008 pada Madrasah Aliyah (MA) semester genap dintaranya adalah Pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
Standar kompetensi materi tersebut adalah Memahami istilah-istilah hadits, dengan kompetensi dasar :
1. Mendefinisikan pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
2. Membandingkan pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
3. Menerapkan pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
Dengan indikator hasil belajar
1. Siswa dapat mendefinisikan pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi dengan benar,
2. Siswa dapat membedakan hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi,
3. Siswa dapat menyebutkan contoh-contoh hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
Pada materi tersebut sangat sesuai jika seorang guru dalam mengajar kepada siswanya menggunakan model pembelajarannya Jigsaw, dengan langkah-langkah :
1. Kegiatan Awal
a. Mengamati dan mengarahkan sikap siswa agar siap memulai pelajaran,
b. Mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa,
c. Melakukan tes penjajakan [pre-tes] dan mengidentifikasi keadaan siswa,
d. Mengingatkan pelajaran yang telah diterima dan mengaitkan pada pelajaran baru,
e. Penjelasan singkat tentang tujuan dan proses pembelajaran yang akan dijalani siswa,
2. Kegiatan Inti
b. Materi pembelajaran dapat dibagi menjadi beberapa 5 (lima) segmen/bagian, yaitu : hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi,
b. Bagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa adalah 30, sementara jumlah segmen yang ada 5 , maka masing-masing kelompok terdiri dari 6 orang,
c. Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami submateri pembelajaran yang berbeda-beda,
d. Setiap kelompok mengirimkan anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajari di kelompoknya,
e. Kembalikan suasana kelas seperti semula kemudian tanyakan sekiranya ada persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok,
f. Bagi siswa beberapa pertanyaan untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi,
3. Kegiatan Akhir
a. Memberikan penegasan dan menyimpulkan materi ajar yang sudah dipelajari,
b. Memberikan post tes untuk mengetahui hasil pembelajaran,
c. Memberikan tugas mandiri untuk mendalami materi ajar,
III. PENUTUP
Pembelajaran di sekolah yang melibatkan siswa dengan guru akan melahirkan nilai yang akan terbawa dan tercermin terus dalam kehidupan di masyarakat. Pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam kelompok secara bergotong royong (kooperatif) akan menimbulkan suasana belajar partisipatif dan menjadi lebih hidup. Teknik pembelajaran Cooperative Learning dapat mendorong timbulnya gagasan yang lebih bermutu dan dapat meningkatkan kreativitas siswa.
Jigsaw merupakan bagian dari teknik-teknik pembelajaran Cooperative Learning. Jika pelaksanaan prosedur pembelajaran Cooperative Learning ini benar, akan memungkinkan untuk dapat mengaktifkan siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Sampai saat ini pembelajaran Cooperative Learning terutama teknik Jigsaw belum banyak diterapkan dalam pendidikan walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.
Demikianlah makalah yang dapat saya buat dan saya presentasikan, tentunya kritik, saran dan masukan sangat saya harapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Wallahu a’lam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar