Cari Blog Ini

Kamis, 22 April 2010



JIGSAW (MODEL TIM AHLI)

Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Model  Jigsaw dalam Pembelajaran.

A. Pendahuluan
Pendidikan sebagai bagian integral kehidupan masyarakat di era global harus dapat memberi dan menfasilitasi bagi tumbuh dan kembangnya keterampilan intelektual, sosial, dan personal peserta didik. Keterampilan tersebut dibangun tidak hanya dengan landasan rasio dan logika saja, tetapi juga inspirasi, kreatifitas, moral, intuisi (emosi) dan spiritual. Sekolah sebagai institusi pendidikan dan miniatur masyarakat perlu mengembangkan pembelajaran sesuai tuntutan era global yang dapat menumbuhkan berbagai kompetensi. Salah satu upaya yang dapat dikembangkan oleh sekolah adalah pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan ( PAIKEM).
Fakta riil di lapangan masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh sang guru. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh banyak tenaga pendidik saat ini cenderung pada pencapaian target materi kurikulum, lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Dalam penyampaian materi, biasanya guru menggunakan metode ceramah, dimana siswa hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Salah satu upaya peningkatan prestasi belajar siswa adalah diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal. Penggunaan strategi dalam kegiatan pembelajaran sangat perlu karena untuk mempermudah proses pembelajaran sehingga dapat mencapai hasil yang optimal, efektif dan efisien. Tanpa strategi yang jelas, proses pembelajaran tidak akan terarah sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sulit. Bagi siswa, strategi pembelajaran dapat mempermudah memahami isi pelajaran, karena setiap strategi dirancang untuk mempermudah proses belajar siswa.
Dengan strategi yang jitu, proses pembelajaran diharapkan tidak lagi menjadi suatu beban atau hukuman bagi peserta didik melainkan suatu aktifitas yang menyenagkan, karena paradigama baru dalam pembelajaran adalah student centered, partisipatori dan kontekstual. Paradigma ini sesuai dengan empat pilar pendidikan: learning to know, learning to do, learning to live together, and learning to be
Inovasi yang mengiringi perubahan paradigama pembelajaran tersebut  adalah ditemukan dan diterapkannnya model-model Pembelajaran Inovatif dan Konstruktif atau lebih tepat dalam mengembangkan dan menggali pengetahuan peserta didik secara konkret dan mandiri.[1]
Pembelajaran kooperatif terutama teknik Jigsaw dianggap cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia karena siswa dituntut aktif dan ambil peran dalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong. Apa dan bagaimana langkah-langkah pembelajaran model Jigsaw, akan pemakalah uraikan dalam makalah ini lebih lanjut.
B. Penerapan Strategi Pembelajaran Cooperative Learning Model Jigsaw
1. Pembelajaran Cooperative Learning
Model pembelajaran kooperatif didukung teori konstruktivisme social Vygotsky yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun dan dikonstruksi secara mutual. Peserta didik berada dalam konteks sosiohistoris. Keterlibatan dengan orang lain membuka kesempatan bagi mereka mengevaluasi dan memperbaiki pemahaman.[2] Bahwa  anak membangun sendiri pemahaman atau pengetahuannya, dan tidak secara pasif  menerima pengetahuan  yang diberikan kepadanya. Begitupun dalam hal proses   pembentukan pengetahuan terjadi melalui interaksi social. Dalam pembelajaran Vygotsky memberian penekanan pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap ke dalam individu tersebut. Implikasi dari teori Vygotsky ini dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Falsafah yang mendasari pembelajaran Cooperative Learning dalam pendidikan adalah "homo homini socius" yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial[3].
Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Model pembelajaran Cooperative Learning tidak sama dengan sekadar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning, untuk itu harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong yaitu :
1.      Saling ketergantungan positif.
      Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.
2.      Tanggung jawab perseorangan.
      Masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.
3.      Tatap muka.
      Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan.
4.      Komunikasi antar anggota.
      Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
5.      Evaluasi proses kelompok.
      Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif[4]
   Urutan langkah-langkah perilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Arends (1997) adalah sebagaimana terlihat pada table berikut ini Tabel Sintaks [5]Pembelajaran Kooperatif

FASE-FASE
Kegiatan guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif
Fase 2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan cara demonstrasikan atau lewat bahan bacaan
Fase 3
Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas-tugas

Fase 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari dan juga terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok
6. Memberi penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok

2. Tujuan Pembelajaran Cooperative Learning
Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok konvensional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994). Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al. (2000), yaitu:
1.   Hasil belajar akademik
2.   Penerimaan terhadap perbedaan individu
3.   Pengembangan keterampilan social



C. Strategi Pembelajaran Cooperative Learning Model Jigsaw
Jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Elliot Aronson’s dari Universitas Texas. Model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada kelompoknya.
Sesuai dengan namanya, teknis penerapan tipe pembelajaran ini maju mundur seperti gergaji. Menurut Arends (1997), langkah-langkah penerapan model pembelajaran Jigsaw dalam matematika, yaitu:
1. Membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 4 – 6 orang
2. Masing-masing kelompok mengirimkan satu orang wakil mereka untuk membahas topik, wakil ini disebut dengan kelompok ahli
3. Kelompok ahli berdiskusi untuk membahas topik yang diberikan dan saling membantu untuk menguasai topik tersebut
4. Setelah memahami materi, kelompok ahli menyebar dan kembali ke kelompok masing-masing, kemudian menjelaskan materi kepada rekan kelompoknya
5. Guru memberikan tes individual pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah didiskusikan[6]
Kunci pembelajaran ini adalah interpedensi setiap siswa terhadap anggota kelompok untuk memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan tes dengan baik.
Pembelajaran model Jigsaw merupakan bagian dari Pembelajaran kooperatif, dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama (Coopeative Learning), yakni kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran.  Prinsipnya adalah siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Dalam hal ini, sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa (student centered), yakni mempelajari materi pelajaran, berdiskusi untuk memecahkan masalah (tugas). Dengan interaksi yang efektif dimungkinkan semua kelompok dapat menguasai materi pada tingkat yang relatif sejajar.[7]
Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan. sebagai metode Cooperative Learning. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara. Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1997). Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 - 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends, 1997).
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan (Lie, A., 1994).
Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim / kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut (Arends, 1997) :
Pembelajaran dengan metode Jigsaw membagi kelas menjadi 4 kelompok. Ada kelompok asal (home teams), kelompok ahli (expert teams), Ada kegiatan refleksi dan pembelajaran ditutup oleh guru dengan memberikan riview terhadap topik yang telah dipelajari.[8]
D. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw
Menurut Priyanto (2007) dalam penerapan pembelajaran kooperatif  model jigsaw ada beberapa langkah yang harus dilaksanakan, yaitu sebagai berikut :
1.   Pembentukan Kelompok Asal
      Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang anggota dengan kemampuan yang heterogen
2.   Pembelajaran pada Kelompok Asal
      Setiap anggota dari kelompok asal mempelajari submateri pelajaran yang akan menjadi keahliannya, kemudian masing-masing mengerjakan tugas secara individual.
3.   Pembentukan Kelompok Ahli
      Ketua kelompok asal membagi tugas kepada masing-masing anggotanya untuk menjadi ahli dalam satu submateri pelajaran. Kemudian masing-masing ahli submateri yang sama dari kelompok yang berlainan bergabung membentuk kelompok baru yang disebut kelompok ahli.
4.   Diskusi Kelompok Ahli
      Anggota kelompok ahli mengerjakan tugas dan saling berdiskusi tentang masalah-masalah yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap anggota kelompok ahli belajar materi pelajaran sampai mencapai taraf merasa yakin mampu menyampaikan dan memecahkan persoalan yang menyangkut submateri pelajaran yang menjadi tanggungjawabnya.
5.   Diskusi Kelompok Asal (Induk)
      Anggota kelopok ahli kembali ke kelompok asal masing-masing. Kemudian setiap anggota kelompok asal menjelaskan dan menjawab pertanyaan mengenai submateri pelajaran yang menjadi keahliannya kepada anggota kelompok asal yang lain. Ini berlangsung secara bergilir sampai seluruh anggota kelompok asal telah mendapatkan giliran.
6.   Diskusi Kelas
      Dengan dipandu oleh guru diskusi kelas membicarakan konsep-konsep penting yang menjadi bahan perdebatan dalam diskusi kelompok ahli. Guru berusaha memperbaiki salah konsep pada siswa.
7.   Pemberian Kuis
      Kuis dikerjakan secara individu. Nilai yang diperoleh masing-masing anggota kelompok asal dijumlahkan untuk memperoleh jumlah nilai kelompok.
8.   Pemberian Penghargaan Kelompok
      Kepada kelompok yang memperoleh jumlah nilai tertinggi diberikan penghargaan berupa piagam dan bonus nilai.[9]
E. Kelebihan dan Kelemahan Model Jigsaw
Kelebihan Model Jigsaw  yaitu:
1. Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar,karena sudah ada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya. Guru berperan sebagai pendamping, penolong dan mengarahkan siswa dalam mempelajari materi.
2.   Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat
3.   Metode pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat.
Kelemahan / Hambatan dalam Model Jigsaw yaitu :
1. Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung mengontrol jalannya diskusi. Untuk mengantisipasi masalah ini guru harus benar-benar memperhatikan jalannya diskusi. Guru harus menekankan agar para anggota kelompok menyimak terlebih dahulu penjelasan dari tenaga ahli. Kemudian baru mengajukan pertanyaan apabila tidak mengerti.
2. Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berpikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus memilih tenaga ahli secara tepat, kemudian memonitor kinerja mereka dalam menjelaskan materi, agar materi dapat tersampaikan secara akurat.
3.   Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan.
Untuk mengantisipasi hal ini guru harus pandai menciptakan suasana kelas yang menggairahkan agar siswa yang cerdas tertantang untuk mengikuti jalannya diskusi.
4.   Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran[10].
5.   Pembagian kelompok yang tidak heterogen dimungkinkan terdapat kelompok yang anggotanya lemah semua.
6.   Penugasan kelompok untuk menjadi ahli sering tidak sesuai antara kemampuan dengan kompetisi yang harus dipelajari.
7.   Roy Killen (1996) Prinsip Pembelajaran "peer teaching" Pembelajaran oleh tim sendiri dimungkinkan terjadi missconception[11]
Kesimpulan
 Pembelajaran di sekolah yang melibatkan siswa dengan guru akan melahirkan nilai yang akan terbawa dan tercermin terus dalam kehidupan di masyarakat. Pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam kelompok secara bergotong royong (kooperatif) akan menimbulkan suasana belajar partisipatif dan menjadi lebih hidup. Teknik pembelajaran Cooperative Learning dapat mendorong timbulnya gagasan yang lebih bermutu dan dapat meningkatkan kreativitas siswa. Jigsaw merupakan bagian dari teknik-teknik pembelajaran Cooperative Learning. Jika pelaksanaan prosedur pembelajaran Cooperative Learning ini benar, akan memungkinkan untuk dapat mengaktifkan siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Anita Lie. 2007. Cooperative Learning. Jakarta : Grasindo.          
Agus Suprijono, Cooperative Learning, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2009
Abdul Kholiq, Makalah "Model Kooperatif Tipe Jigsaw", Magister Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Bandung, 2009
Blog pada WordPress.com, Novi Emildadiany , 6 Maret 2009
Made wena, op.Cit,hlm.193-195, mengutip dari Priyanto, "Keefektifan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw pada Pembelajaran Kimia Siswa kelas X Madrasah Aliyah Darut Taqwa, Malang", 2007 Tesis S2 PPS UM
Sugiyanto, Drs, M Si, Model-Model pembelajaran Inovatif, Surakarta, Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13 FKIP UNES Surakarta, 2009
 Teguh Suyitno, Drs, M Pd, Materi Diklat "Strategi Pembelajaran" Diklat Peningkatan Kualitas Guru Bhs Arab MTs Se Jateng dan DIY tanggal 27 Juli – 5 Agustus 2009, Balai Diklat Jawa Tengah
Trianto, S Pd,M Pd, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktif, Jakarta, Prestasi Pustaka, 2007





[1]. Trianto, S Pd,M Pd, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktif, Jakarta, Prestasi Pustaka, 2007,hlm.3
[2] Agus Suprijono, Cooperative Learning, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2009,hlm.55
[3]  Ibid, hlm.56
[4]   Novi Emildadiany  Blog pada WordPress.com, 6 Maret 2009
[5]  Drs.Teguh suyitno M Pd, Op. Cit
[6]  http://ady-ajuz.blogspot.com/2009/03/model-pembelajaran-jigsaw.html

[7]   Drs.Teguh Suyitno, M Pd, Materi Diklat "Strategi Pembelajaran" Diklat Peningkatan Kualitas Guru Bhs Arab MTs Se Jateng dan DIY tanggal 27 Juli – 5 Agustus 2009, Balai Diklat Jawa Tengah.
[8]  Agus Suprijono, Op. Cit,hlm.89-91
[9]       Made wena, op.Cit,hlm.193-195, mengutip dari Priyanto, "Keefektifan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw pada Pembelajaran Kimia Siswa kelas X Madrasah Aliyah Darut Taqwa, Malang", 2007 Tesis S2 PPS UM
[10] http://ady-ajuz.blogspot.com/2009/03/model-pembelajaran-jigsaw.html

[11]  Abdul Kholiq, Makalah "Model Kooperatif Tipe Jigsaw", Magister Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Bandung, 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar