Cari Blog Ini

Kamis, 22 April 2010



JIGSAW (MODEL TIM AHLI)

Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Model  Jigsaw dalam Pembelajaran.

A. Pendahuluan
Pendidikan sebagai bagian integral kehidupan masyarakat di era global harus dapat memberi dan menfasilitasi bagi tumbuh dan kembangnya keterampilan intelektual, sosial, dan personal peserta didik. Keterampilan tersebut dibangun tidak hanya dengan landasan rasio dan logika saja, tetapi juga inspirasi, kreatifitas, moral, intuisi (emosi) dan spiritual. Sekolah sebagai institusi pendidikan dan miniatur masyarakat perlu mengembangkan pembelajaran sesuai tuntutan era global yang dapat menumbuhkan berbagai kompetensi. Salah satu upaya yang dapat dikembangkan oleh sekolah adalah pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan ( PAIKEM).
Fakta riil di lapangan masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh sang guru. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh banyak tenaga pendidik saat ini cenderung pada pencapaian target materi kurikulum, lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Dalam penyampaian materi, biasanya guru menggunakan metode ceramah, dimana siswa hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Salah satu upaya peningkatan prestasi belajar siswa adalah diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal. Penggunaan strategi dalam kegiatan pembelajaran sangat perlu karena untuk mempermudah proses pembelajaran sehingga dapat mencapai hasil yang optimal, efektif dan efisien. Tanpa strategi yang jelas, proses pembelajaran tidak akan terarah sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sulit. Bagi siswa, strategi pembelajaran dapat mempermudah memahami isi pelajaran, karena setiap strategi dirancang untuk mempermudah proses belajar siswa.
Dengan strategi yang jitu, proses pembelajaran diharapkan tidak lagi menjadi suatu beban atau hukuman bagi peserta didik melainkan suatu aktifitas yang menyenagkan, karena paradigama baru dalam pembelajaran adalah student centered, partisipatori dan kontekstual. Paradigma ini sesuai dengan empat pilar pendidikan: learning to know, learning to do, learning to live together, and learning to be
Inovasi yang mengiringi perubahan paradigama pembelajaran tersebut  adalah ditemukan dan diterapkannnya model-model Pembelajaran Inovatif dan Konstruktif atau lebih tepat dalam mengembangkan dan menggali pengetahuan peserta didik secara konkret dan mandiri.[1]
Pembelajaran kooperatif terutama teknik Jigsaw dianggap cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia karena siswa dituntut aktif dan ambil peran dalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong. Apa dan bagaimana langkah-langkah pembelajaran model Jigsaw, akan pemakalah uraikan dalam makalah ini lebih lanjut.
B. Penerapan Strategi Pembelajaran Cooperative Learning Model Jigsaw
1. Pembelajaran Cooperative Learning
Model pembelajaran kooperatif didukung teori konstruktivisme social Vygotsky yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun dan dikonstruksi secara mutual. Peserta didik berada dalam konteks sosiohistoris. Keterlibatan dengan orang lain membuka kesempatan bagi mereka mengevaluasi dan memperbaiki pemahaman.[2] Bahwa  anak membangun sendiri pemahaman atau pengetahuannya, dan tidak secara pasif  menerima pengetahuan  yang diberikan kepadanya. Begitupun dalam hal proses   pembentukan pengetahuan terjadi melalui interaksi social. Dalam pembelajaran Vygotsky memberian penekanan pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap ke dalam individu tersebut. Implikasi dari teori Vygotsky ini dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Falsafah yang mendasari pembelajaran Cooperative Learning dalam pendidikan adalah "homo homini socius" yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial[3].
Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Model pembelajaran Cooperative Learning tidak sama dengan sekadar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning, untuk itu harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong yaitu :
1.      Saling ketergantungan positif.
      Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.
2.      Tanggung jawab perseorangan.
      Masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.
3.      Tatap muka.
      Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan.
4.      Komunikasi antar anggota.
      Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
5.      Evaluasi proses kelompok.
      Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif[4]
   Urutan langkah-langkah perilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Arends (1997) adalah sebagaimana terlihat pada table berikut ini Tabel Sintaks [5]Pembelajaran Kooperatif

FASE-FASE
Kegiatan guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif
Fase 2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan cara demonstrasikan atau lewat bahan bacaan
Fase 3
Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas-tugas

Fase 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari dan juga terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok
6. Memberi penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok

2. Tujuan Pembelajaran Cooperative Learning
Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok konvensional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994). Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al. (2000), yaitu:
1.   Hasil belajar akademik
2.   Penerimaan terhadap perbedaan individu
3.   Pengembangan keterampilan social



C. Strategi Pembelajaran Cooperative Learning Model Jigsaw
Jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Elliot Aronson’s dari Universitas Texas. Model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada kelompoknya.
Sesuai dengan namanya, teknis penerapan tipe pembelajaran ini maju mundur seperti gergaji. Menurut Arends (1997), langkah-langkah penerapan model pembelajaran Jigsaw dalam matematika, yaitu:
1. Membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 4 – 6 orang
2. Masing-masing kelompok mengirimkan satu orang wakil mereka untuk membahas topik, wakil ini disebut dengan kelompok ahli
3. Kelompok ahli berdiskusi untuk membahas topik yang diberikan dan saling membantu untuk menguasai topik tersebut
4. Setelah memahami materi, kelompok ahli menyebar dan kembali ke kelompok masing-masing, kemudian menjelaskan materi kepada rekan kelompoknya
5. Guru memberikan tes individual pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah didiskusikan[6]
Kunci pembelajaran ini adalah interpedensi setiap siswa terhadap anggota kelompok untuk memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan tes dengan baik.
Pembelajaran model Jigsaw merupakan bagian dari Pembelajaran kooperatif, dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama (Coopeative Learning), yakni kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran.  Prinsipnya adalah siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Dalam hal ini, sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa (student centered), yakni mempelajari materi pelajaran, berdiskusi untuk memecahkan masalah (tugas). Dengan interaksi yang efektif dimungkinkan semua kelompok dapat menguasai materi pada tingkat yang relatif sejajar.[7]
Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan. sebagai metode Cooperative Learning. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara. Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1997). Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 - 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends, 1997).
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan (Lie, A., 1994).
Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim / kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut (Arends, 1997) :
Pembelajaran dengan metode Jigsaw membagi kelas menjadi 4 kelompok. Ada kelompok asal (home teams), kelompok ahli (expert teams), Ada kegiatan refleksi dan pembelajaran ditutup oleh guru dengan memberikan riview terhadap topik yang telah dipelajari.[8]
D. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw
Menurut Priyanto (2007) dalam penerapan pembelajaran kooperatif  model jigsaw ada beberapa langkah yang harus dilaksanakan, yaitu sebagai berikut :
1.   Pembentukan Kelompok Asal
      Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang anggota dengan kemampuan yang heterogen
2.   Pembelajaran pada Kelompok Asal
      Setiap anggota dari kelompok asal mempelajari submateri pelajaran yang akan menjadi keahliannya, kemudian masing-masing mengerjakan tugas secara individual.
3.   Pembentukan Kelompok Ahli
      Ketua kelompok asal membagi tugas kepada masing-masing anggotanya untuk menjadi ahli dalam satu submateri pelajaran. Kemudian masing-masing ahli submateri yang sama dari kelompok yang berlainan bergabung membentuk kelompok baru yang disebut kelompok ahli.
4.   Diskusi Kelompok Ahli
      Anggota kelompok ahli mengerjakan tugas dan saling berdiskusi tentang masalah-masalah yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap anggota kelompok ahli belajar materi pelajaran sampai mencapai taraf merasa yakin mampu menyampaikan dan memecahkan persoalan yang menyangkut submateri pelajaran yang menjadi tanggungjawabnya.
5.   Diskusi Kelompok Asal (Induk)
      Anggota kelopok ahli kembali ke kelompok asal masing-masing. Kemudian setiap anggota kelompok asal menjelaskan dan menjawab pertanyaan mengenai submateri pelajaran yang menjadi keahliannya kepada anggota kelompok asal yang lain. Ini berlangsung secara bergilir sampai seluruh anggota kelompok asal telah mendapatkan giliran.
6.   Diskusi Kelas
      Dengan dipandu oleh guru diskusi kelas membicarakan konsep-konsep penting yang menjadi bahan perdebatan dalam diskusi kelompok ahli. Guru berusaha memperbaiki salah konsep pada siswa.
7.   Pemberian Kuis
      Kuis dikerjakan secara individu. Nilai yang diperoleh masing-masing anggota kelompok asal dijumlahkan untuk memperoleh jumlah nilai kelompok.
8.   Pemberian Penghargaan Kelompok
      Kepada kelompok yang memperoleh jumlah nilai tertinggi diberikan penghargaan berupa piagam dan bonus nilai.[9]
E. Kelebihan dan Kelemahan Model Jigsaw
Kelebihan Model Jigsaw  yaitu:
1. Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar,karena sudah ada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya. Guru berperan sebagai pendamping, penolong dan mengarahkan siswa dalam mempelajari materi.
2.   Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat
3.   Metode pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat.
Kelemahan / Hambatan dalam Model Jigsaw yaitu :
1. Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung mengontrol jalannya diskusi. Untuk mengantisipasi masalah ini guru harus benar-benar memperhatikan jalannya diskusi. Guru harus menekankan agar para anggota kelompok menyimak terlebih dahulu penjelasan dari tenaga ahli. Kemudian baru mengajukan pertanyaan apabila tidak mengerti.
2. Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berpikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus memilih tenaga ahli secara tepat, kemudian memonitor kinerja mereka dalam menjelaskan materi, agar materi dapat tersampaikan secara akurat.
3.   Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan.
Untuk mengantisipasi hal ini guru harus pandai menciptakan suasana kelas yang menggairahkan agar siswa yang cerdas tertantang untuk mengikuti jalannya diskusi.
4.   Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran[10].
5.   Pembagian kelompok yang tidak heterogen dimungkinkan terdapat kelompok yang anggotanya lemah semua.
6.   Penugasan kelompok untuk menjadi ahli sering tidak sesuai antara kemampuan dengan kompetisi yang harus dipelajari.
7.   Roy Killen (1996) Prinsip Pembelajaran "peer teaching" Pembelajaran oleh tim sendiri dimungkinkan terjadi missconception[11]
Kesimpulan
 Pembelajaran di sekolah yang melibatkan siswa dengan guru akan melahirkan nilai yang akan terbawa dan tercermin terus dalam kehidupan di masyarakat. Pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam kelompok secara bergotong royong (kooperatif) akan menimbulkan suasana belajar partisipatif dan menjadi lebih hidup. Teknik pembelajaran Cooperative Learning dapat mendorong timbulnya gagasan yang lebih bermutu dan dapat meningkatkan kreativitas siswa. Jigsaw merupakan bagian dari teknik-teknik pembelajaran Cooperative Learning. Jika pelaksanaan prosedur pembelajaran Cooperative Learning ini benar, akan memungkinkan untuk dapat mengaktifkan siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Anita Lie. 2007. Cooperative Learning. Jakarta : Grasindo.          
Agus Suprijono, Cooperative Learning, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2009
Abdul Kholiq, Makalah "Model Kooperatif Tipe Jigsaw", Magister Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Bandung, 2009
Blog pada WordPress.com, Novi Emildadiany , 6 Maret 2009
Made wena, op.Cit,hlm.193-195, mengutip dari Priyanto, "Keefektifan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw pada Pembelajaran Kimia Siswa kelas X Madrasah Aliyah Darut Taqwa, Malang", 2007 Tesis S2 PPS UM
Sugiyanto, Drs, M Si, Model-Model pembelajaran Inovatif, Surakarta, Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13 FKIP UNES Surakarta, 2009
 Teguh Suyitno, Drs, M Pd, Materi Diklat "Strategi Pembelajaran" Diklat Peningkatan Kualitas Guru Bhs Arab MTs Se Jateng dan DIY tanggal 27 Juli – 5 Agustus 2009, Balai Diklat Jawa Tengah
Trianto, S Pd,M Pd, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktif, Jakarta, Prestasi Pustaka, 2007





[1]. Trianto, S Pd,M Pd, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktif, Jakarta, Prestasi Pustaka, 2007,hlm.3
[2] Agus Suprijono, Cooperative Learning, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2009,hlm.55
[3]  Ibid, hlm.56
[4]   Novi Emildadiany  Blog pada WordPress.com, 6 Maret 2009
[5]  Drs.Teguh suyitno M Pd, Op. Cit
[6]  http://ady-ajuz.blogspot.com/2009/03/model-pembelajaran-jigsaw.html

[7]   Drs.Teguh Suyitno, M Pd, Materi Diklat "Strategi Pembelajaran" Diklat Peningkatan Kualitas Guru Bhs Arab MTs Se Jateng dan DIY tanggal 27 Juli – 5 Agustus 2009, Balai Diklat Jawa Tengah.
[8]  Agus Suprijono, Op. Cit,hlm.89-91
[9]       Made wena, op.Cit,hlm.193-195, mengutip dari Priyanto, "Keefektifan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw pada Pembelajaran Kimia Siswa kelas X Madrasah Aliyah Darut Taqwa, Malang", 2007 Tesis S2 PPS UM
[10] http://ady-ajuz.blogspot.com/2009/03/model-pembelajaran-jigsaw.html

[11]  Abdul Kholiq, Makalah "Model Kooperatif Tipe Jigsaw", Magister Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Bandung, 2009

Minggu, 04 April 2010

metode pembelajaran Jagsow

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW
DALAM MAPEL AL-QUR’AN HADIS
( Materi : Istilah-istilah Hadits )

Oleh : Ainul Yaqin

I. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran. Dalam konteks penyelenggaraan ini, guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dan berpedoman pada seperangkatn aturan dan rencana tentang pendidikan yang dikemas dalam bentuk kurikulum.
Kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan berorientasi pada kemajuan sistem pendidikan nasional, tampaknya belum dapat direalisasikan secara maksimal. Salah satu masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah lemahnya proses pembelajaran.
Berdasarkan pengamatan riil di lapangan, proses pembelajaran di sekolah dewasa ini kurang meningkatkan kreativitas siswa. Karena masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh sang guru.
Proses pembelajaran yang dilakukan oleh banyak tenaga pendidik saat ini cenderung pada pencapaian target materi kurikulum, lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang selalu didominasi oleh guru. Dalam penyampaian materi, biasanya guru menggunakan metode ceramah, dimana siswa hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Upaya peningkatan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dalam hal ini, diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal.
Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh siswa. Jadi, kegiatan belajar berpusat pada siswa, guru sebagai motivator dan fasilitator di dalamnya agar suasana kelas lebih hidup.
Pembelajaran kooperatif terutama teknik Jigsaw dianggap cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia karena sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong.

II. PEMBAHASAN
A. Model Pembelajaran Jigsaw
Metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam keberhasilan pendidikan. Penggunaan metode yang tepat akan menentukan keefektifan dan keefisienan dalam proses pembelajaran. Guru harus senantiasa mampu memilih dan menerapkan metode yang tepat sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan. Terdapat beberapa metode yang telah lama digunakan oleh para guru, antara lain : metode ceramah, metode tanya jawab, dan metode resitasi. Serentetan metode tersebut bisa dikatakan metode konvensional. Model pembelajaran konvensional yang selama ini digunakan oleh sebagian besar guru yang tidak sesuai dengan tuntutan jaman, karena pembelajaran yang dilakukan kurang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi siswa untuk aktif mengkontruksi pengetahuannya.
Salah satu model pembelajaran yang dimungkinkan mampu mengantisipasi kelemahan model pembelajaran konvensional adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.
Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Aronson. dkk di Universitas Texas.1
Jigsaw Learning merupakan sebuah teknik yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan teknik “pertukaran dari kelompok ke kelompok” (group-to-group exchange) dengan suatu perbedaan penting: setiap peserta didik mengajarkan sesuatu.2
Model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan materi tersebut kepada kelompoknya. Sehingga baik kemampuan secara kognitif maupun sosial siswa sangat diperlukan.
Karena menurut Piaget, bahwa perkembangan kognitif mempunyai empat aspek, yaitu :3
1. Kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan syaraf,
2. Pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara organisme dengan dunianya,
3. Interaksi Sosial, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial,
4. Ekullibrasi, yaitu adanya kemampuan atau sistem mengatur dalam diri organisme agar dia selalu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
Selain itu, model pembelajaran kooperatif Jigsaw ini dilandasi oleh teori belajar humanis. Alasannya adalah bahwa teori belajar humanistik menjelaskan bahwa pada hakekatnya setiap diri manusia adalah unik, memiiki potensi individual dan dorongan internal untuk berkembang dan menentukan perilakunya. Menurut Carl Rogers seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) daam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers meyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas terapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar.4
Adapun langkah-langkah model pembelajaran Jigsaw adalah,5
1. Siswa dikelompokkan dengan anggota ± 4 orang,
2. Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda,
3. Anggota dari tim yang berbeda dengan penugasan yang sama membentuk kelompok baru (kelompok ahli),
4. Setelah kelompok ahli berdiskusi, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok tentang sub bab yang mereka kuasai,
5. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi,
6. Klarifikasi dan simpulkan agar seluruh siswa memperoleh pemahaman yang utuh.
Jadi pembelajaran model ini lebih meningkatkan kerja sama antar siswa. Kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari siswa-siswa yang bekerja sama dalam satu perancanaan kegiatan. Dan dalam pembelajaran ini setiap anggota kelompok diharapkan dapat saling bekerja sama dan bertanggung jawab baik kepada dirinya sendiri maupun kepada kelompoknya.
Strategi ini dapat diterapkan pada pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan dan diketahui siswa dengan membagikan bahan ajar yang lengkap. Untuk mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan atau dibagi secara berkelompok, siswa dapat mendiskusikan dalam kelompok kecil. Setiap anggota kelompok kecil berusaha membuat resume untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Bentuklah kelompok baru secara acak atau setiap anggota kelompok saling menjelaskan resume kepada sesama anggota sehingga diperoleh pemahaman yang utuh. Hasil resume kelompok itupun dapat dipresentasikan.6
B. Implementasi Pada Mapel Al-Qur’an Hadis
Materi al-Qur’an Hadis sesuai dengan Pelaksanaan Peraturan Menteri Agama RI Nomor 2 tahun 2008 pada Madrasah Aliyah (MA) semester genap dintaranya adalah Pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
Standar kompetensi materi tersebut adalah Memahami istilah-istilah hadits, dengan kompetensi dasar :
1. Mendefinisikan pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
2. Membandingkan pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
3. Menerapkan pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
Dengan indikator hasil belajar
1. Siswa dapat mendefinisikan pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi dengan benar,
2. Siswa dapat membedakan hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi,
3. Siswa dapat menyebutkan contoh-contoh hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.
Pada materi tersebut sangat sesuai jika seorang guru dalam mengajar kepada siswanya menggunakan model pembelajarannya Jigsaw, dengan langkah-langkah :
1. Kegiatan Awal
a. Mengamati dan mengarahkan sikap siswa agar siap memulai pelajaran,
b. Mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa,
c. Melakukan tes penjajakan [pre-tes] dan mengidentifikasi keadaan siswa,
d. Mengingatkan pelajaran yang telah diterima dan mengaitkan pada pelajaran baru,
e. Penjelasan singkat tentang tujuan dan proses pembelajaran yang akan dijalani siswa,
2. Kegiatan Inti
b. Materi pembelajaran dapat dibagi menjadi beberapa 5 (lima) segmen/bagian, yaitu : hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi,
b. Bagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa adalah 30, sementara jumlah segmen yang ada 5 , maka masing-masing kelompok terdiri dari 6 orang,
c. Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami submateri pembelajaran yang berbeda-beda,
d. Setiap kelompok mengirimkan anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajari di kelompoknya,
e. Kembalikan suasana kelas seperti semula kemudian tanyakan sekiranya ada persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok,
f. Bagi siswa beberapa pertanyaan untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi,
3. Kegiatan Akhir
a. Memberikan penegasan dan menyimpulkan materi ajar yang sudah dipelajari,
b. Memberikan post tes untuk mengetahui hasil pembelajaran,
c. Memberikan tugas mandiri untuk mendalami materi ajar,


III. PENUTUP
Pembelajaran di sekolah yang melibatkan siswa dengan guru akan melahirkan nilai yang akan terbawa dan tercermin terus dalam kehidupan di masyarakat. Pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam kelompok secara bergotong royong (kooperatif) akan menimbulkan suasana belajar partisipatif dan menjadi lebih hidup. Teknik pembelajaran Cooperative Learning dapat mendorong timbulnya gagasan yang lebih bermutu dan dapat meningkatkan kreativitas siswa.
Jigsaw merupakan bagian dari teknik-teknik pembelajaran Cooperative Learning. Jika pelaksanaan prosedur pembelajaran Cooperative Learning ini benar, akan memungkinkan untuk dapat mengaktifkan siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Sampai saat ini pembelajaran Cooperative Learning terutama teknik Jigsaw belum banyak diterapkan dalam pendidikan walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.
Demikianlah makalah yang dapat saya buat dan saya presentasikan, tentunya kritik, saran dan masukan sangat saya harapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Wallahu a’lam.

Sabtu, 03 April 2010

Implementasi metode pembelajaran CTL pada mapel al-quran hadis di kls x semtr genap di MA. Mashlahatul hidayah

MODEL PEMBELAJARAN
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
Oleh Ainul Yaqin
I. PENDAHULUAN
Pembelajaran suatu hal yang urgen dalam menentukan potensi Intlektualitas seseorang dalam arti lain penting bagi setiap orang dalam menghadapi perkembangan teknologi yang begitu pesat. Lebih-lebih dalam menghadapi era Tekhnologi Global di abad pengetahuan yang banyak ditandai oleh pergeseran peran manufaktur ke sektor jasa berbasis pengetahuan, kompetensi itu merupakan salah satu faktor yang sangat menetukan kehidupan manusia. Artinya, ketika kehidupan telah berubah menjadi semakin maju dan kompleks, masalah kehidupan yang banyak diwarnai oleh fenomena dunia nyata diupayakan dapat dijelaskan secara keilmuan. Berdasarkan pemilikan kompetensi keilmuan tersebut, maka peserta didik diharapkan mampu memecahkan dan mengatasi permasalahan kehidupan yang dihadapi dengan cara lebih baik, lebih cepat, adaptif, lentur, dan versatile.
Dari berbagai kompleksnya permasalahan Model Pembelajaran mengambil posisi penting dalam peran tranformasi keilmuan untuk memberikan pemahaman yang mudah diterima sehingga muncullah beberapa model pembelajaran seperti yang akan dibahas pemakalah yaitu model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) sebuah pendekatan metode pembelajaran untuk membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi peserta didik. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa dalam dunia nyata, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).
II. PENGERTIAN/PEMBAHASAN
A. Pengertian
CTL merupakan kepanjangan dari Contextual Teaching And Learning yaitu suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya Wina, 2009.255).
Dalam panduan buku bahan ajar pendidikan dan pelatihan profesi guru kuota 2008 untuk mapel PAI,MTS, MA yang diterbitkan IAIN Sunan Ampel mendefinisikan CTL adalah pembelajaran/pengajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi sosial dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/konteks lainnya. (LPTK IAIN. Sunan Ampel, 2008.5-6). Dari pengertian tersebut ada tiga hal yang perlu dipahami:
a. CTL menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya diposes belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung
b. CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata. Dalam rangka mencari korelasi.
c. CTL mendorong agar siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan. (Sanjaya Wina, 2009.255)
B. Karakteristik Metode Pendekatan CTL Dan Kaitannya Dengan Psikologi CTL
Dari paparan pengertian CTL di atas sangatlah jelas bahwa materi yang dipelajari berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliran ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan Stimulus dan Respons. Belajar tidak sesederhana itu. Belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi dan kemampuan atau pengalaman. Apa yang tampak, pada dasarnya adalah wujud dari adanya dorongan yang berkembang dalam diri seseorang. Sebagai peristiwa mental perilaku manusia tidak semata-mata merupakan gerakan fisik saja, akan tetapi yang lebih penting adalah adanya faktor pendorong yang ada dibelakang gerakan fisik itu. Mengapa demikian? Sebab manusia selamanya memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya. Kebutuhan itulah yang mendorong manusia untuk berperilaku. Adanya keterkaitan pembelajaran kontekstual CTL maka ada beberapa hal yang harus dipahami yaitu:
a. Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki. Oleh karena itulah, semakin banyak pengalaman maka akan semakin banyak pula pengetahuan yang mereka peroleh.
b. Belajar bukan sekadar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas. Pengetahuan itu pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami, sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki akan berpengaruh terhadap pola-pola perilaku manusia, seperti pola berpikir, pola bertindak, kemampuan memecahkan persoalan termasuk penampilan atau performance seseorang. Semakin pengetahuan seseorang luas dan mendalam, maka akan semakin efektif dalam berpikir.
c. Belajar adalah proses pemecahan masalah, sebab dengan memecahkan masalah anak akan berkembang secara utuh yang bukan hanya perkembangan intektual akan tetapi juga mental dan emosi. Belajar secara kontekstual adalah belajar bagaimana anak menghadapi persoalan.
d. Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari sederhana menuju yang kompleks. Oleh karena itu belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai dengan irama kemampuan siswa.
e. Belajar pada hakikatnya adalah menagkap pengetahuan dari kenyataan. Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang memiliki makna untuk kehidupan anak (Real World Learning) (Sanjaya Wina, 2009.260).
Oleh karena itu materi pelajaran dalam konteks CTL Bukan untuk di tumpuk di otak kemudian dilupakan, akan tetapi untuk diaplikasikan dalam keseharian, jadi berkaitan dengan hal tersebut sangatlah penting juga memahami kelima karakteristik yaitu berupa:
1. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activtinging knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi. (Sanjaya Wina, 2009.256).
C. Perbedaan CTL Dengan Pembelajaran Tradisional
Terdapat beberapa perbedaan antara pendekatan CTL dengan metode pendekatan tradisional sebagaimana terdapat pada skema:
NO CTL TRADISIONAL
1 *CTL (Contextual Teaching and Learning) *CTL (Catat Tinggal And Lungo)
2 Menyandarka pada memori spasial (pemahaman makna) Menyandarkan pada hafalan
3 Pemilihan Informasi Berdasarkan Kebutuhan Siswa Pemilihan informasi ditentukan oleh guru
4 Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran Siswa secara pasif menerima informasi
5 Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
6 Selalu mengaitka informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai satnya diperlukan
7 Perilaku dibangun atas kesadaran diri Perilaku dibangun atas kebiasaan
8 Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
9 Hasil belajar diukur melalui melalui penerapan penilaian autentik Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ ulangan

D. Komponen-komponen CTL
Dalam metode pendekatan pembelajaran CTL terdapat 7 komponen atau yang disebut juga sebagai Asas sebagaimana penjelasan berikut.
1. Konstruktivisme (Hubungan Bermakna)
Dalam pengertian secara luas Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur koknitif, peserta didik berdasarkan pengalaman. Menurut komponen tersebut pengetahuan itu berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu pengetahuan terbentuk oleh dua factor yaitu obyek yang menjadi bahan pengamatan dan kemamouan subyek untuk menginterpretasi obyek tersebut. (amruni,2009.181)
2. Inkuiri (Penemuan)
Inkuiri mempunyai arti proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah suatu fakta hasil dari mengingat akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu:
 Merumuskan masalah
 Mengajukan hipotesis
 Mengumpulkan data
 Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan
 Membuat kesimpulan
Dari siklus tersebut diharapkan melalui proses berfikir yang sistematis dan logis, dari kesemuanya itu diperlukan sebagai dasar pembentukan kratifitas. (wina sanjaya, 2009, 266)
3. Questioning (Tanya jawab)
Dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
4. Learning Community (Komunitas belajar)
Adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.
5. Modeling (Pemodelan)
Dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
6. Reflection (Refleksi)
Yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
7. Authentic Assessment (Penilaian otentik)
Prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa. (http://bandono.web.id/2008/03/07/menyusun-model-pembelajaran)
E. Aplikasi pembelajaran CTL pada pelajaran Al-quran Hadis
Pada contoh berikut adalah terapan model metode pembelajaran CTL terhadap mata pelajaran Al-quran Hadis di kelas X semester 2 memahami dan menjelaskan ayat-ayat tentang keikhlasan dalam beribadah
F. MetodePembelajaran CTL
a) Langkah Pembelajaran
1) Kegiatan Awal
a. Mengamati dan mengarahkan sikap siswa agar siap memulai pelajaran
b. Mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa
c. Melakukan tes penjajakan [pre-tes] dan mengidentifikasi keadaan siswa berkaitan dengan kompetensi yang akan di capai
d. Menjelaskan potensi yang harus dicapai serta manfaat dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari

2) Kegiatan Inti
1. Pilihlah materi pembelajaran yang dapat dibagi menjadi beberapa segmen ( bagian)
2. Bagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa adalah 40 sementara, jumlah segmen yang ada 4 , maka masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang.
3. Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami submateri pembelajaran yang berkaitan dengan ikhlas beribadah
4. Setelah masing-masing kelompok 1 dan 2 di tayangkan sebuah film atau gambar tentang kejadian gempa untuk menghadirkan panggilan hati dalam rangka menolong atau membantu yang terkenak musibah. Kemudian kelompok 3 dan 4 ditayangkan film atau gambar seorang anak kecil sehabis udhuk yang di lihat orang tuanya karena ingin dikasih uang jajan ahirnya berdoa khusuk
5. Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing
6. Siswa melaporkan hasil diskusi
7. Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain

3) Kegiatan Akhir
a. Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah ikhlas beribadah sesuai dengan indikator

III. KESIMPULAN
CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan bagian dari beberapa macam model pembelajaran dengan berdasarkan 7 komponen yang meliputi; Hubungan Bermakna (Konstruktivisme) bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), Refleksi (Reflection), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) kemudian dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan metode CTL dalam aplikatifnya terdapat pada karakteristik CTL yaitu; Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activtinging knowledge), Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi. (Sanjaya Wina, 2009.256).