Senin, 22 Maret 2010
makki madani
ILMU-ILMU MAKKI DAN MADANI ”
AINUL YAQIN
NIM : 095 112 065
I. PENDAHULUAN
Al-Qur’an sebagai kalamullah sekaligus mukjizat nomor wahid yang diturunkan kepada Khatimul Ambiyak Wal-Mursalin melalui malaikat Jibril, secara bertahap selama 23 tahun untuk menjawab pertanyaan yang di majukan kepada Muhammad SAW. (Asbabunnuzul) (Bahar Azwar, 2005: 9) yang diturunkan sebagai “.......Petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenahi petunjuk itu dan pembeda antara Haq dan Bathil, “ (QS. Al-Baqoroh: 185) (Depag, 1993: 45).
Sementara Qurais Syihab dalam buku Sejarah dan Ulumul Qur’an menerangkan bahwa ayat-ayat Makkiyah turun selama 12 tahun 5 bulan 13 hari (Qurais Syihab, 1999: 64) sisanya tidak dijelaskan apakah semua disebut ayat-ayat Madaniyah.
Karena Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia, maka manusia yang merasa dimanusiakan oleh Allah sangatlah penting memahaminya, al-Qur’an merupakan samudra ilmu bagi manusia ditinjau dari segala aspek, sebab turunnya, daerah-daerah atau tempat turunnya, demikian juga waktu, sehingga bisa menganalisa nasyakh mansyukhnya ayat, yang hal itu diberi nama dengan ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah oleh kesepakatan ulama. Abul Qasim Al-Nisaburiy dalam bukunya “Dirosat fi ‘Ulum al-Qur’an” pernah berkata bahwa Ilmu-ilmu Al-Qur’an yang paling mulya diantaranya adalah:
1. Mengenai Nuzulnya
2. Tempat dan urutannya yang turun di Makkah dan Madinah
3. Ayat yang turun di Makkah hukumnya Madinah
4. Ayat yang turun di Madinah hukumnya Makkah
5. Ayat yang turun di Makkah tentang penduduk Madinah
6. Ayat yang turun di Madinah tentang penduduk Makkah
7. Ayat yang turun di Madinah mirip Makkah
8. Ayat yang turun di Juhfah
9. Ayat yang turun di Baital Maqdis
10. Ayat yang turun di Ta’if
11. Ayat yang turun di Hudaibiyah
12. Ayat yang turun di malam hari
13. Ayat yang turun di siang hari
14. Ayat yang turun di saksikan sejumlah malaikat
15. Ayat yang turun tanpa di saksikan sejumlah malaikat
16. Ayat-ayat Madaniyah di Surat-Surat Makkiyah
17. Ayat-ayat Makkiyah di Surat-Surat Madaniyah
18. Ayat-ayat yang di bawa dari Makkah ke Madinah
19. Ayat-ayat yang di bawa dari Madinah ke Makkah
20. Ayat-ayat yang di bawa dari Madinah ke Habsyah
21. Ayat-ayat yang nturun secara Global
22. Ayat-ayat yang turun berikut tafsirnya
23. Ayat-ayat yang status katagorinya diperselisihkan, sebagian mengatakan Madaniyah sebagian mengatakan Makkiyah. (Kamaluddin Marzuki, 1994: 46)
Dari 23 permasalahan di atas membuat pembaca kebingungan dan melelahkan, namun semua itu sangat penting dipahami dan dikuasai bagi yang ingin mengenal Kalamullah lebih mendalam. Pada permasalahan di atas para pakar Al-Qur’an dan ulama mufassirin menyebutkan dengan istilah ilmu-ilmu Makkiyah dan Madaniyah, akan tetapi pembahas menelaah dari perkataan Abul Qasim begitu membingungkan serta atas dasar alasan menghormati dan menghargai dari berbagai pendapat para ulama yang berbeda memahami pembagian Makkiyah dan Madaniyah, maka pembahas mencoba menarik benang merah dan menawarkan bahwa :
Ayat-ayat yang bermasalah saling tarik menarik antara Makkiyah dan Madaniyah, pembahas memberikan istilah dengan ayat-ayat Bainal Makki wal Madani (antara ayat Makkiyah dan Madaniyah) dan di harapkan oleh pembahas agar pembaca lebih cepat memahami pengertian-pengertiannya, perbedaandan ciri-cirinya serta cara mengetahuinya, termasuk beberapa Surat Makkiyah dan Madaniyah yang diperselisihkan.
II. PEMBAHASAN
A. Pendekatan pada Pemahaman Surat Makkiyah dan Madaniyah
Para ulama mencoba menganalisa pemahaman Makkiyah dan Madaniyah bersandar pada utama yaitu :
1. Sima’ie Naqli (pendengaran seperti apa adanya)
Cara Sima’ie Naqli yaitu didasarkan pada riwayat shahih dari para sahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan turunnya wahyu.
2. Qiyasi Ijtihadi (kias hasil ijtihad) (Mudzakkir AS, 2006: 82)
Cara Qiyasi Ijtihadi yaitu didasarkan pada ciri-ciri Makki dan Madani yaitu jika dalam Surat Makki terdapat suatu ayat yang mengandung ayat Madani atau mengandung peristiwa Madani maka dikatakan Madani. (Mudzakkir AS, 2006: 83)
B. Perbedaan Makki dan Madani
1. Ditinjau dari segi kaitannya dengan waktu turunnya.
Makki adalah yang diturunkan sebelum hijrah meskipun bukan di Makkah.
Madani adalah yang turun setelah hijrah walaupun turunnya di Makkah (Ismail Moh. Bakir, 1991: 01) sebagaimana yang terdapat pada Surat An-Nisa’ ayat 58:
• •• ...
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya… (QS. An-Nisa’: 58) (Depag, 1989: 128)
2. Ditinjau dari segi tempat turunnya.
Makki adalah yang turun di Makkah dan sekitarnya seperti di Mina, Arafah dan Hudaibiyah.
Madani adalah ayat yang turun di Madinah dan sekitarnya seperti di Uhud, Quba’ dan Sil (Ismail Moh. Bakir, 1991: 01)
3. Ditinjau dari segi sasaran pembicara
Makki adalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Makkah.
Madani adalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Madinah.
Berdasarkan pendapat ini para pendukungnya menyatakan bahwa ayat Qur’an yang mengandung seruan Yaa ‘ayyuhan nas adalah Makki sedangkan ayat yang mengandung seruan Yaa ‘ayyuhal ladzina ‘amanu adalah Madani (Ismail Moh. Bakir, 1991: 02)
Namun melalui pengamatan yang cermat tidak semua Surat Qur’an berdasarkan seruan tadi misalkan ayat yang di Surat al-Baqarah memakai kalimat Yaa ‘ayyuhan nas sedangkan Surat al-Baqarah disepakati sebagai Surat Madani seperti al-Baqarah ayat 21.
••
Wahai manusia beribadahlah kepada tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 21). (Depag, 1989: 11)
Atau di Surat al-Hajj, Makki akan tetapi di dalamnya ada lafadz Yaa ‘ayyuhal ladzina ‘amanu seperti pada al-Hajj ayat 77
Wahai orang-orang yang yang beriman berrukuklah kalian, dan bersujudlah, dan menyembahlah kepada Tuhanmu dan berbuat baiklah agar kalian termasuk orang-orang yang beruntung. (QS. al-Hajj: 77) (Depag, 1989: 523)
C. Ciri-Ciri Khusus untuk Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah
1. Ciri-ciri Surat Makkiyah
a. Setiap Surat yang mengandung “KALLA”
b. Setiap Surat yang mengandung “SAJADAH”
c. Setiap Surat yang terdapat Yaa ‘ayyuhan nas kecuali pada Surat Al-Hajj ayat 77.
d. Setiap Surat yang mengandung kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu kecuali Al-Baqarah
e. Setiap Surat yang terdapat kisah Adam dan Iblis kecuali Al-Baqarah
f. Setiap Surat yang di buka dengan huruf singkatan seperti Nun, Alif la m mim, kecuali Surat al-Baqarah dan Ali Imran sedangkan Surat Ar-Ra’du masih diperselisihkan.
Sedangkan ditinjau dari ciri-ciri temanya Makkiyah mempunyai kriteria:
a. Peletakan dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlaq mulia yang menjadi dasar utama terbentuknya suatu masyarakat penyingkapan dosa orang musyrik seperti perempuan yang di kubur hidup-hidup
b. Mengisahkan para Nabi dan umatnya sebagai pandangan bagi mereka untuk mengetahui para pendusta sebelumnya serta sebagai hiburan buat Nabi untuk lebih tabah menghadapi gangguan
c. Ajakan tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian sebagai risalah kebangkitan dari hari pembalasan dan argumentasi terhadap orang-orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti nasional dengan ayat kauniyah
d. Suku kata yang pendek-pendek disertai dengan kata yang mengesankan dan pernyataan yang singkat (Moh. Abdul Adzim, 2002: 204)
2. Ciri-ciri Surat Madaniyah
a. Setiap Surat berisi kewajiban atau Had dan Fara’id
b. Setiap surat yang di dalamnya disebutkan orang-orang munafik keculi surat Al-Ankabut
c. Setiap surat yang di dalamnya terdapat dialog dengan ahli kitab
d. Setiap surat yang ayatnya panjang-panjang dan ada ungkapan Yaa ‘ayyuhal ladzina ‘amanu (Moh. Abdul Adzim, 2002: 205)
Sedangkan ditinjau dari ciri khas temanya, Madaniyah punya kreteria
a. Menjelaskan ibadah muamalah, had, kekeluargaan, warisan jihad, hubungan sosial, hubungan internasional, baik di waktu damai maupun perang, kaidah hukum dan masalah perundang undangan
b. Seruan terhadap ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani serta ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang. (Moh. Abdul Adzim, 2002: 205)
D. Pembagian Surat-Surat Makkiyah, Madaniyah Serta di Antara Makkiyah dan Madaniyah
1. Berikut susunan surat-surat Makkiyah berdasarkan kronologi turunnya adalah sebagai berikut (M. Qurais Shihab, 1999: 71)
No. Urut No. Surat Nama Surat
1. 96 Al-Alaq
2. 68 Al-Qalam
3. 73 Al-Muzzammil
4. 74 Al-Muddatsir
5. 1 Al-Fatihah
6. 111 Al-Masad
7. 81 Al-Takwir
8. 87 Al-’Ala
9 92 Al-lail
10. 89 Al-Fajr
11. 93 Al-Duha
12. 94 Al-Insyiroh
13. 103 Al-Ashr
14. 100 Al-Adiyat
15. 108 Al-Kawtsar
16. 102 Al-Takasur
17. 107 Al-Maun
18. 109 Al-Kafirun
19. 105 Al-Fil
20. 113 Al-Falaq
21. 114 Al-Nas
22. 112 Al-Ikhlas
23. 53 An-Najm
24. 80 ’Abasa
25. 97 Al-Qadar
26. 91 Al-Syams
27. 85 Al-Buruj
28. 95 Al-Tin
29. 106 Al-Quraisy
30. 101 Al-Baqarah
31. 75 Al-Qiyamah
32. 104 Al-Humazah
33. 77 Al-Mursalat
34. 50 Qaf
35. 90 Al-Balad
36. 86 Al-Thariq
37. 54 Al-Qamar
38. 38 Shad
39. 7 Al-A’raf
40 72 Al-Jin
41. 36 Yasin
42. 25 Al-Furqan
43. 35 Al-Fathir
44. 19 Maryam
45 20 Thaha
46 56 Al-Waqi’ah
47 26 As-Syuara’
48 27 Al-Namal
49 28 Al-Qashas
50 17 Al-Isra’
51 10 Yunus
52 11 Hud
53 12 Yusuf
54 15 Al-Hijr
55 6 Al-An’am
56 37 Al-Shaffat
57 31 Luqman
58 34 Sabak
59 39 Al-Zumar
60 40 Ghafir
61 41 Fushshilat
62 42 Al-Syura
63 43 Al-Zukhrof
64 44 Al-Dukhan
65 45 Al-Jatsiah
66 46 Al-Ahqaf
67 51 Al-Dzariyat
68 88 Al-Ghasyiyah
69 18 Al-Kahfi
70 16 Al-Nahl
71 71 Nuh
72 14 Ibrahim
73 21 Al-Anbiya’
74 23 Al-Mu’minun
75 32 Al-Sajadah
76 52 Al-Thur
77 67 Al-Mulk
78 69 Al-Haqqah
79 70 Al-Ma’arij
80 78 Al-Naba’
81 79 Al-Naziyat
82 82 Al-Infithar
83 84 Al-Insyiqaq
84 30 Al-Rum
85 29 Al-Ankabut
86 83 Al-Muthaffifin
2. Berikut susunan surat-surat Madaniyah berdasarkan kronologi turunnya adalah sebagai berikut (Qurais Shihab, 1999: 72)
No. Urut No. Surat Nama Surat
1. 2 Al-Baqarah
2. 8 Al-Anfal
3. 73 Al-Imran
4. 33 Al-Ahzab
5. 60 Al-Mumtahanah
6. 4 Al-nisa’
7. 57 Al-Hadid
8. 47 Al-Qital
9 65 Al-thalaq
10. 59 Al-Hasyr
11. 24 Al-Nur
12. 22 Al-Hajj
13. 63 Al-Munafiqun
14. 58 Al-Nujadilah
15. 49 Al-Hujurat
16. 66 Al-Tahrim
17. 64 Al-Taghabun
18. 61 Al-Shaf
19. 62 Al-Jumuah
20. 48 Al-Fath
21. 5 Al-Maidah
22. 9 Al-Tawbah
23. 110 Al-Nashr
3. Berikut susunan surat-surat di antara Makkiyah dan Madaniyah berdasarkan beberapa Surat dan ayat yang diperselisihkan oleh para Ulama.
Menurut Quraish shihab dalam bukunya Sejarah dan Ulumul Qur’an, Surat Makkiyah tidak berarti seluruh ayat yang terdapat dalam Surat tersebut diturunkan di Makkah sebelum hijrah; sebaliknya. Penamaan itu hanyalah karena surat tersebut memuat mayoritas ayat Makkiyah atau Madaniyah” (Qurais Shihab, 1999: 72), juga atas dasar dari pendapat Abul Qasim yang begitu membingungkan pembaca serta atas dasar alasan menghormati dan menghargai dari berbagai pendapat para ulama yang berbeda memahami pembagian Makkiyah dan Madaniyah. adalah sebagai berikut :
No. Urut Nama Surat/Ayat Keterangan
1. Al-Fatihah Diperselisihkan para Ulama’
2. Al-Ra’d Diperselisihkan para Ulama’
3. Al-Rahman Diperselisihkan para Ulama’
4. Al-Shaf Diperselisihkan para Ulama’
5. Al-Taghabun Diperselisihkan para Ulama’
6. Al-Tathfif Diperselisihkan para Ulama’
7. Al-Qadar Diperselisihkan para Ulama’
8. Al-Bayyinah Diperselisihkan para Ulama’
9 Al-Zalzalah Diperselisihkan para Ulama’
10. Al-Ikhlash Diperselisihkan para Ulama’
11. Al-Mu’awwidzatayn
(Al-Falaq dan Al-nas) Diperselisihkan para Ulama’
12. Ayat 13 Surat Al-Hujarah Turun di Makkah hukumnya Madinah
13. Ayat 3-5 Al-Maidah Turun di Makkah hukumnya Madinah pada hari jumat ketika umat Islam Wuquf di Arafah waktu haji Wada’
14. Ayat 17 Al-Anbiyak Madinah mirip Makkah, turun berhubungan dengan kedatangan kaum Nasrani Najran
Hal di atas kami kutip dari pembahasan Quraish Shihab dalam buku ”Sejarah dan Ulumul Qur’an” beberapa surat atau ayat yang bermasalah dalam kesimpulan Antara Makki dan Madani tidak semua kami katagorikan pada ayat yang bermasalah, seperti Ayat yang di turunkan pada siang hari, malam hari, yang di saksikan sejumlah malaikat atau yang tidak disaksikan malaikat, karena bagi pembahas masih jelas waktu dan tempat diturunkannya.
III. FAIDAH – FAIDAHNYA
Berpijak terhadap pengertian Makkiyah dan Madaniyah seperti telah diuraikan pada pembagian tersebut, setidaknya akan dapat menafsirkan ayat-ayat Al-Quran sesuai historis, geografis, hudud atau faraid dan lain sebagainya, kendatipun demikian perlu diketehui bahwa tidaklah cukup untuk memahami Ulumul Quran tanpa disiplin ilmu yang lain. Disamping demikian pemahaman terhadap ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah sangat bermamfaatuntuk langkah-langkah dalam menyampaikan da’wah islamiyah untuk menghindari kekeliruan dalam menafsirkan dan memberikan informsi kepada masyarakat, seperti karakter orang-orang Mekah yangberbeda dengan orang–orang Madinah sehingga membutuhkan penyampaian dakwah yang berbeda, seperti pada surat al-An’am Ayat 33,
•
Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah,QS: al-An’am:33 (Depag, 1989: 523)
Dalam ayat tersebut Allah menghibur Nabi Muhammad s.a.w. dengan menyatakan bahwa orang-orang musyrikin yang mendustakan Nabi, pada hakekatnya adalah mendustakan Allah sendiri, karena Nabi itu diutus untuk menyampaikan ayat-ayat Allah.
Demikian pula surat Al-Hijr,ayat 14-15:
•
14. dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya,
15. tentulah mereka berkata: "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan Kami adalah orang orang yang kena sihir". QS, Al-Hijr,: 14-15 (Depag, 1989: 523)
Di samping itu juga terdapat ayat-ayat yang menunjukkan keberpihakan sebelah, kepada orang musyrikin terkadang mencaci, mencela dan bernada keras dengan menunjukkan ketololan mereka serta menghibur nabi dan orang-orang Muslim dalam menghadapi berbagai tantangan dari mereka.
Disamping itu pula terdapat terdapat ayat-ayat yang menganjurkan untuk bersikap toleran dan suka member maaf kepada mereka.
Lain halnya pada situasi setelah Rosulullah Hijrah ke kota Madinah, masyarakat Kota Madinah terdapat tiga golongan Manusia yaitu:
Pertama : Golongan Yahudi
Terhadap golongan ini, Al-Quran membantah, mengureksi serta mengajak mereka, agar kembali pada kalimat yang bersamaan antara mereka dengan umat Islam, yaitu hanya bertuhan kan Allah sebagai sesembahan Umat hingga ahir Zaman
Kedua : Golongan Munafik
Terhadap Golongan ini, Al-Quran membuka kedok kejahatan-kejahatan dan rahasia-rahasianya.
Ketiga : Golongan Muslim, yang terdiri dari Muhajirin dan Ansor
Terhadap golongan Islam ini, al-Quran di samping agar umat islam terus tetap menempuh jalan yang yang diridhai oleh Allah juga al-Quran secara bertahap memberikan aturan-aturan hukum yang kehidupan manusia secara perorangan maupun kemasyarakatan (kenegaraan), dalam bidang politik, perekonomian, budaya dan lain sebagainya. (Zuhdi Masjfuk,H,1997: 73)
Dari sekian macam beraneka ragam multi Aqidah yang dihadapi Rosulullah di kota Madinah belum lagi kondisi orang Musyrik yang di Mekah tentunya harus melalui penanganan-penanganan yang berbeda dan semua itu terselesaikan dengan ayat-ayat yang turun di Mekah dan di Madinah serta yang turun diantara Mekah dan Madinah, sehingga Islam betul-betul bias menitralisir segala permasalahan Umat, bahkan tidak hanya itu, dengan al-Alquran kita bisa sampai sekarang sudah bisa menjawab tantangan Zaman.
IV. PENUTUP dan KESIMPULAN
Dari Analisa pembahas atas kongklusi Ilmu-ilmu Makki dan Madani maka pembahas membagi pada tiga pokok Klasifikasi.
1. Makkiyah adalah :
Ayat Qur’an yang turun sebelum hijrah walaupun turun disekitar Madinah, ayat Qur’an yang turun di Makkah walupun turunnya setelah hijrah, ayat Qur’an yang turun khitabnya di tujukan kepada penduduk Makkah
2. Madaniyah adalah :
Ayat Qur’an yang turun sesudah hijrah walaupun turun di sekitar Makkah, ayat Qur’an yang turun di Madinah, ayat Qur’an yang khitobnya ditujukan di kepada penduduk Madinah
3. Diantara Makkiyah dan Madaniyah (Baina Al-Makki Wa Al-Madani)
Ayat Qur’an yang dipermasalahkan penempatannya oleh para ulama’ karena saling tarik menarik seperti surat Al-Hajj ayat 77,
Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. QS. Al-Hajj : 77, (Depag, 1989: 523)
Dan pada surat Al-Baqarah ayat 21.
••
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, QS, al-Baqarah: 21(Depag, 1989: 523)
Bahkan masih banyak ayat yang bermasalah berbeda penafsiran dalam menempatkan antara makkiyah dan Madaniyah Seperti surah al-A’rad namun bagaimanapun tujuan dalam mengklasifikasi ayat tersebut masih tidak keluar pada eksistensinya, untuk memberikan pemahaman yang lebih mudah atas Al-Quran sebagai kitab yang terahir diturunkan pada nabi ahir zaman.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdul Adzim-Azzarqany, Syekh Muhammmad, 2002, Manahil a-Urfah Fi’ulum al-Qur’an, Jakarta: Gaya Media Pratama.
Anwar, Rosihan, 2001, Samudra Al-Qur’an, Bandung: Pustaka Setia .
Azwar, Bahar, 2005, Manfaat Puasa menurut ilmu Kesehatan, Jakarta : PT Agro Media Pustaka
Departemen Agama, 2000, Al-Qur’an Terjemah, Semarang: CV. Al-Waah.
Ismail, Moh. Baqir, 1991, Dirasah fi Ulumil Qur’an, Kairo: Darul Manar.
Khalil Al-Qatan Manna’, 1973, Mabahis fi Ulumil Qur’an, Masyurat Al-Asra’i Hadis, Terj. Mudzakkir, 2001, Bogor: Pustaka Letera Antar Nusa.
Marzuki, Kamaluddin, 1994, Ulumul Qur’an, Bandung: PT. Remaja Rosida Karya.
Shihab, M Quraish, dkk., 1999, Sejarah dan Ulumul Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus.
Zuhdi Masjfuk, H, Prof. Drs, 1997, Pengantar Ulumul Qur’an, Surabaya: Karya Abditama.
AINUL YAQIN
NIM : 095 112 065
I. PENDAHULUAN
Al-Qur’an sebagai kalamullah sekaligus mukjizat nomor wahid yang diturunkan kepada Khatimul Ambiyak Wal-Mursalin melalui malaikat Jibril, secara bertahap selama 23 tahun untuk menjawab pertanyaan yang di majukan kepada Muhammad SAW. (Asbabunnuzul) (Bahar Azwar, 2005: 9) yang diturunkan sebagai “.......Petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenahi petunjuk itu dan pembeda antara Haq dan Bathil, “ (QS. Al-Baqoroh: 185) (Depag, 1993: 45).
Sementara Qurais Syihab dalam buku Sejarah dan Ulumul Qur’an menerangkan bahwa ayat-ayat Makkiyah turun selama 12 tahun 5 bulan 13 hari (Qurais Syihab, 1999: 64) sisanya tidak dijelaskan apakah semua disebut ayat-ayat Madaniyah.
Karena Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia, maka manusia yang merasa dimanusiakan oleh Allah sangatlah penting memahaminya, al-Qur’an merupakan samudra ilmu bagi manusia ditinjau dari segala aspek, sebab turunnya, daerah-daerah atau tempat turunnya, demikian juga waktu, sehingga bisa menganalisa nasyakh mansyukhnya ayat, yang hal itu diberi nama dengan ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah oleh kesepakatan ulama. Abul Qasim Al-Nisaburiy dalam bukunya “Dirosat fi ‘Ulum al-Qur’an” pernah berkata bahwa Ilmu-ilmu Al-Qur’an yang paling mulya diantaranya adalah:
1. Mengenai Nuzulnya
2. Tempat dan urutannya yang turun di Makkah dan Madinah
3. Ayat yang turun di Makkah hukumnya Madinah
4. Ayat yang turun di Madinah hukumnya Makkah
5. Ayat yang turun di Makkah tentang penduduk Madinah
6. Ayat yang turun di Madinah tentang penduduk Makkah
7. Ayat yang turun di Madinah mirip Makkah
8. Ayat yang turun di Juhfah
9. Ayat yang turun di Baital Maqdis
10. Ayat yang turun di Ta’if
11. Ayat yang turun di Hudaibiyah
12. Ayat yang turun di malam hari
13. Ayat yang turun di siang hari
14. Ayat yang turun di saksikan sejumlah malaikat
15. Ayat yang turun tanpa di saksikan sejumlah malaikat
16. Ayat-ayat Madaniyah di Surat-Surat Makkiyah
17. Ayat-ayat Makkiyah di Surat-Surat Madaniyah
18. Ayat-ayat yang di bawa dari Makkah ke Madinah
19. Ayat-ayat yang di bawa dari Madinah ke Makkah
20. Ayat-ayat yang di bawa dari Madinah ke Habsyah
21. Ayat-ayat yang nturun secara Global
22. Ayat-ayat yang turun berikut tafsirnya
23. Ayat-ayat yang status katagorinya diperselisihkan, sebagian mengatakan Madaniyah sebagian mengatakan Makkiyah. (Kamaluddin Marzuki, 1994: 46)
Dari 23 permasalahan di atas membuat pembaca kebingungan dan melelahkan, namun semua itu sangat penting dipahami dan dikuasai bagi yang ingin mengenal Kalamullah lebih mendalam. Pada permasalahan di atas para pakar Al-Qur’an dan ulama mufassirin menyebutkan dengan istilah ilmu-ilmu Makkiyah dan Madaniyah, akan tetapi pembahas menelaah dari perkataan Abul Qasim begitu membingungkan serta atas dasar alasan menghormati dan menghargai dari berbagai pendapat para ulama yang berbeda memahami pembagian Makkiyah dan Madaniyah, maka pembahas mencoba menarik benang merah dan menawarkan bahwa :
Ayat-ayat yang bermasalah saling tarik menarik antara Makkiyah dan Madaniyah, pembahas memberikan istilah dengan ayat-ayat Bainal Makki wal Madani (antara ayat Makkiyah dan Madaniyah) dan di harapkan oleh pembahas agar pembaca lebih cepat memahami pengertian-pengertiannya, perbedaandan ciri-cirinya serta cara mengetahuinya, termasuk beberapa Surat Makkiyah dan Madaniyah yang diperselisihkan.
II. PEMBAHASAN
A. Pendekatan pada Pemahaman Surat Makkiyah dan Madaniyah
Para ulama mencoba menganalisa pemahaman Makkiyah dan Madaniyah bersandar pada utama yaitu :
1. Sima’ie Naqli (pendengaran seperti apa adanya)
Cara Sima’ie Naqli yaitu didasarkan pada riwayat shahih dari para sahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan turunnya wahyu.
2. Qiyasi Ijtihadi (kias hasil ijtihad) (Mudzakkir AS, 2006: 82)
Cara Qiyasi Ijtihadi yaitu didasarkan pada ciri-ciri Makki dan Madani yaitu jika dalam Surat Makki terdapat suatu ayat yang mengandung ayat Madani atau mengandung peristiwa Madani maka dikatakan Madani. (Mudzakkir AS, 2006: 83)
B. Perbedaan Makki dan Madani
1. Ditinjau dari segi kaitannya dengan waktu turunnya.
Makki adalah yang diturunkan sebelum hijrah meskipun bukan di Makkah.
Madani adalah yang turun setelah hijrah walaupun turunnya di Makkah (Ismail Moh. Bakir, 1991: 01) sebagaimana yang terdapat pada Surat An-Nisa’ ayat 58:
• •• ...
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya… (QS. An-Nisa’: 58) (Depag, 1989: 128)
2. Ditinjau dari segi tempat turunnya.
Makki adalah yang turun di Makkah dan sekitarnya seperti di Mina, Arafah dan Hudaibiyah.
Madani adalah ayat yang turun di Madinah dan sekitarnya seperti di Uhud, Quba’ dan Sil (Ismail Moh. Bakir, 1991: 01)
3. Ditinjau dari segi sasaran pembicara
Makki adalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Makkah.
Madani adalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Madinah.
Berdasarkan pendapat ini para pendukungnya menyatakan bahwa ayat Qur’an yang mengandung seruan Yaa ‘ayyuhan nas adalah Makki sedangkan ayat yang mengandung seruan Yaa ‘ayyuhal ladzina ‘amanu adalah Madani (Ismail Moh. Bakir, 1991: 02)
Namun melalui pengamatan yang cermat tidak semua Surat Qur’an berdasarkan seruan tadi misalkan ayat yang di Surat al-Baqarah memakai kalimat Yaa ‘ayyuhan nas sedangkan Surat al-Baqarah disepakati sebagai Surat Madani seperti al-Baqarah ayat 21.
••
Wahai manusia beribadahlah kepada tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 21). (Depag, 1989: 11)
Atau di Surat al-Hajj, Makki akan tetapi di dalamnya ada lafadz Yaa ‘ayyuhal ladzina ‘amanu seperti pada al-Hajj ayat 77
Wahai orang-orang yang yang beriman berrukuklah kalian, dan bersujudlah, dan menyembahlah kepada Tuhanmu dan berbuat baiklah agar kalian termasuk orang-orang yang beruntung. (QS. al-Hajj: 77) (Depag, 1989: 523)
C. Ciri-Ciri Khusus untuk Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah
1. Ciri-ciri Surat Makkiyah
a. Setiap Surat yang mengandung “KALLA”
b. Setiap Surat yang mengandung “SAJADAH”
c. Setiap Surat yang terdapat Yaa ‘ayyuhan nas kecuali pada Surat Al-Hajj ayat 77.
d. Setiap Surat yang mengandung kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu kecuali Al-Baqarah
e. Setiap Surat yang terdapat kisah Adam dan Iblis kecuali Al-Baqarah
f. Setiap Surat yang di buka dengan huruf singkatan seperti Nun, Alif la m mim, kecuali Surat al-Baqarah dan Ali Imran sedangkan Surat Ar-Ra’du masih diperselisihkan.
Sedangkan ditinjau dari ciri-ciri temanya Makkiyah mempunyai kriteria:
a. Peletakan dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlaq mulia yang menjadi dasar utama terbentuknya suatu masyarakat penyingkapan dosa orang musyrik seperti perempuan yang di kubur hidup-hidup
b. Mengisahkan para Nabi dan umatnya sebagai pandangan bagi mereka untuk mengetahui para pendusta sebelumnya serta sebagai hiburan buat Nabi untuk lebih tabah menghadapi gangguan
c. Ajakan tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian sebagai risalah kebangkitan dari hari pembalasan dan argumentasi terhadap orang-orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti nasional dengan ayat kauniyah
d. Suku kata yang pendek-pendek disertai dengan kata yang mengesankan dan pernyataan yang singkat (Moh. Abdul Adzim, 2002: 204)
2. Ciri-ciri Surat Madaniyah
a. Setiap Surat berisi kewajiban atau Had dan Fara’id
b. Setiap surat yang di dalamnya disebutkan orang-orang munafik keculi surat Al-Ankabut
c. Setiap surat yang di dalamnya terdapat dialog dengan ahli kitab
d. Setiap surat yang ayatnya panjang-panjang dan ada ungkapan Yaa ‘ayyuhal ladzina ‘amanu (Moh. Abdul Adzim, 2002: 205)
Sedangkan ditinjau dari ciri khas temanya, Madaniyah punya kreteria
a. Menjelaskan ibadah muamalah, had, kekeluargaan, warisan jihad, hubungan sosial, hubungan internasional, baik di waktu damai maupun perang, kaidah hukum dan masalah perundang undangan
b. Seruan terhadap ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani serta ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang. (Moh. Abdul Adzim, 2002: 205)
D. Pembagian Surat-Surat Makkiyah, Madaniyah Serta di Antara Makkiyah dan Madaniyah
1. Berikut susunan surat-surat Makkiyah berdasarkan kronologi turunnya adalah sebagai berikut (M. Qurais Shihab, 1999: 71)
No. Urut No. Surat Nama Surat
1. 96 Al-Alaq
2. 68 Al-Qalam
3. 73 Al-Muzzammil
4. 74 Al-Muddatsir
5. 1 Al-Fatihah
6. 111 Al-Masad
7. 81 Al-Takwir
8. 87 Al-’Ala
9 92 Al-lail
10. 89 Al-Fajr
11. 93 Al-Duha
12. 94 Al-Insyiroh
13. 103 Al-Ashr
14. 100 Al-Adiyat
15. 108 Al-Kawtsar
16. 102 Al-Takasur
17. 107 Al-Maun
18. 109 Al-Kafirun
19. 105 Al-Fil
20. 113 Al-Falaq
21. 114 Al-Nas
22. 112 Al-Ikhlas
23. 53 An-Najm
24. 80 ’Abasa
25. 97 Al-Qadar
26. 91 Al-Syams
27. 85 Al-Buruj
28. 95 Al-Tin
29. 106 Al-Quraisy
30. 101 Al-Baqarah
31. 75 Al-Qiyamah
32. 104 Al-Humazah
33. 77 Al-Mursalat
34. 50 Qaf
35. 90 Al-Balad
36. 86 Al-Thariq
37. 54 Al-Qamar
38. 38 Shad
39. 7 Al-A’raf
40 72 Al-Jin
41. 36 Yasin
42. 25 Al-Furqan
43. 35 Al-Fathir
44. 19 Maryam
45 20 Thaha
46 56 Al-Waqi’ah
47 26 As-Syuara’
48 27 Al-Namal
49 28 Al-Qashas
50 17 Al-Isra’
51 10 Yunus
52 11 Hud
53 12 Yusuf
54 15 Al-Hijr
55 6 Al-An’am
56 37 Al-Shaffat
57 31 Luqman
58 34 Sabak
59 39 Al-Zumar
60 40 Ghafir
61 41 Fushshilat
62 42 Al-Syura
63 43 Al-Zukhrof
64 44 Al-Dukhan
65 45 Al-Jatsiah
66 46 Al-Ahqaf
67 51 Al-Dzariyat
68 88 Al-Ghasyiyah
69 18 Al-Kahfi
70 16 Al-Nahl
71 71 Nuh
72 14 Ibrahim
73 21 Al-Anbiya’
74 23 Al-Mu’minun
75 32 Al-Sajadah
76 52 Al-Thur
77 67 Al-Mulk
78 69 Al-Haqqah
79 70 Al-Ma’arij
80 78 Al-Naba’
81 79 Al-Naziyat
82 82 Al-Infithar
83 84 Al-Insyiqaq
84 30 Al-Rum
85 29 Al-Ankabut
86 83 Al-Muthaffifin
2. Berikut susunan surat-surat Madaniyah berdasarkan kronologi turunnya adalah sebagai berikut (Qurais Shihab, 1999: 72)
No. Urut No. Surat Nama Surat
1. 2 Al-Baqarah
2. 8 Al-Anfal
3. 73 Al-Imran
4. 33 Al-Ahzab
5. 60 Al-Mumtahanah
6. 4 Al-nisa’
7. 57 Al-Hadid
8. 47 Al-Qital
9 65 Al-thalaq
10. 59 Al-Hasyr
11. 24 Al-Nur
12. 22 Al-Hajj
13. 63 Al-Munafiqun
14. 58 Al-Nujadilah
15. 49 Al-Hujurat
16. 66 Al-Tahrim
17. 64 Al-Taghabun
18. 61 Al-Shaf
19. 62 Al-Jumuah
20. 48 Al-Fath
21. 5 Al-Maidah
22. 9 Al-Tawbah
23. 110 Al-Nashr
3. Berikut susunan surat-surat di antara Makkiyah dan Madaniyah berdasarkan beberapa Surat dan ayat yang diperselisihkan oleh para Ulama.
Menurut Quraish shihab dalam bukunya Sejarah dan Ulumul Qur’an, Surat Makkiyah tidak berarti seluruh ayat yang terdapat dalam Surat tersebut diturunkan di Makkah sebelum hijrah; sebaliknya. Penamaan itu hanyalah karena surat tersebut memuat mayoritas ayat Makkiyah atau Madaniyah” (Qurais Shihab, 1999: 72), juga atas dasar dari pendapat Abul Qasim yang begitu membingungkan pembaca serta atas dasar alasan menghormati dan menghargai dari berbagai pendapat para ulama yang berbeda memahami pembagian Makkiyah dan Madaniyah. adalah sebagai berikut :
No. Urut Nama Surat/Ayat Keterangan
1. Al-Fatihah Diperselisihkan para Ulama’
2. Al-Ra’d Diperselisihkan para Ulama’
3. Al-Rahman Diperselisihkan para Ulama’
4. Al-Shaf Diperselisihkan para Ulama’
5. Al-Taghabun Diperselisihkan para Ulama’
6. Al-Tathfif Diperselisihkan para Ulama’
7. Al-Qadar Diperselisihkan para Ulama’
8. Al-Bayyinah Diperselisihkan para Ulama’
9 Al-Zalzalah Diperselisihkan para Ulama’
10. Al-Ikhlash Diperselisihkan para Ulama’
11. Al-Mu’awwidzatayn
(Al-Falaq dan Al-nas) Diperselisihkan para Ulama’
12. Ayat 13 Surat Al-Hujarah Turun di Makkah hukumnya Madinah
13. Ayat 3-5 Al-Maidah Turun di Makkah hukumnya Madinah pada hari jumat ketika umat Islam Wuquf di Arafah waktu haji Wada’
14. Ayat 17 Al-Anbiyak Madinah mirip Makkah, turun berhubungan dengan kedatangan kaum Nasrani Najran
Hal di atas kami kutip dari pembahasan Quraish Shihab dalam buku ”Sejarah dan Ulumul Qur’an” beberapa surat atau ayat yang bermasalah dalam kesimpulan Antara Makki dan Madani tidak semua kami katagorikan pada ayat yang bermasalah, seperti Ayat yang di turunkan pada siang hari, malam hari, yang di saksikan sejumlah malaikat atau yang tidak disaksikan malaikat, karena bagi pembahas masih jelas waktu dan tempat diturunkannya.
III. FAIDAH – FAIDAHNYA
Berpijak terhadap pengertian Makkiyah dan Madaniyah seperti telah diuraikan pada pembagian tersebut, setidaknya akan dapat menafsirkan ayat-ayat Al-Quran sesuai historis, geografis, hudud atau faraid dan lain sebagainya, kendatipun demikian perlu diketehui bahwa tidaklah cukup untuk memahami Ulumul Quran tanpa disiplin ilmu yang lain. Disamping demikian pemahaman terhadap ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah sangat bermamfaatuntuk langkah-langkah dalam menyampaikan da’wah islamiyah untuk menghindari kekeliruan dalam menafsirkan dan memberikan informsi kepada masyarakat, seperti karakter orang-orang Mekah yangberbeda dengan orang–orang Madinah sehingga membutuhkan penyampaian dakwah yang berbeda, seperti pada surat al-An’am Ayat 33,
•
Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah,QS: al-An’am:33 (Depag, 1989: 523)
Dalam ayat tersebut Allah menghibur Nabi Muhammad s.a.w. dengan menyatakan bahwa orang-orang musyrikin yang mendustakan Nabi, pada hakekatnya adalah mendustakan Allah sendiri, karena Nabi itu diutus untuk menyampaikan ayat-ayat Allah.
Demikian pula surat Al-Hijr,ayat 14-15:
•
14. dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya,
15. tentulah mereka berkata: "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan Kami adalah orang orang yang kena sihir". QS, Al-Hijr,: 14-15 (Depag, 1989: 523)
Di samping itu juga terdapat ayat-ayat yang menunjukkan keberpihakan sebelah, kepada orang musyrikin terkadang mencaci, mencela dan bernada keras dengan menunjukkan ketololan mereka serta menghibur nabi dan orang-orang Muslim dalam menghadapi berbagai tantangan dari mereka.
Disamping itu pula terdapat terdapat ayat-ayat yang menganjurkan untuk bersikap toleran dan suka member maaf kepada mereka.
Lain halnya pada situasi setelah Rosulullah Hijrah ke kota Madinah, masyarakat Kota Madinah terdapat tiga golongan Manusia yaitu:
Pertama : Golongan Yahudi
Terhadap golongan ini, Al-Quran membantah, mengureksi serta mengajak mereka, agar kembali pada kalimat yang bersamaan antara mereka dengan umat Islam, yaitu hanya bertuhan kan Allah sebagai sesembahan Umat hingga ahir Zaman
Kedua : Golongan Munafik
Terhadap Golongan ini, Al-Quran membuka kedok kejahatan-kejahatan dan rahasia-rahasianya.
Ketiga : Golongan Muslim, yang terdiri dari Muhajirin dan Ansor
Terhadap golongan Islam ini, al-Quran di samping agar umat islam terus tetap menempuh jalan yang yang diridhai oleh Allah juga al-Quran secara bertahap memberikan aturan-aturan hukum yang kehidupan manusia secara perorangan maupun kemasyarakatan (kenegaraan), dalam bidang politik, perekonomian, budaya dan lain sebagainya. (Zuhdi Masjfuk,H,1997: 73)
Dari sekian macam beraneka ragam multi Aqidah yang dihadapi Rosulullah di kota Madinah belum lagi kondisi orang Musyrik yang di Mekah tentunya harus melalui penanganan-penanganan yang berbeda dan semua itu terselesaikan dengan ayat-ayat yang turun di Mekah dan di Madinah serta yang turun diantara Mekah dan Madinah, sehingga Islam betul-betul bias menitralisir segala permasalahan Umat, bahkan tidak hanya itu, dengan al-Alquran kita bisa sampai sekarang sudah bisa menjawab tantangan Zaman.
IV. PENUTUP dan KESIMPULAN
Dari Analisa pembahas atas kongklusi Ilmu-ilmu Makki dan Madani maka pembahas membagi pada tiga pokok Klasifikasi.
1. Makkiyah adalah :
Ayat Qur’an yang turun sebelum hijrah walaupun turun disekitar Madinah, ayat Qur’an yang turun di Makkah walupun turunnya setelah hijrah, ayat Qur’an yang turun khitabnya di tujukan kepada penduduk Makkah
2. Madaniyah adalah :
Ayat Qur’an yang turun sesudah hijrah walaupun turun di sekitar Makkah, ayat Qur’an yang turun di Madinah, ayat Qur’an yang khitobnya ditujukan di kepada penduduk Madinah
3. Diantara Makkiyah dan Madaniyah (Baina Al-Makki Wa Al-Madani)
Ayat Qur’an yang dipermasalahkan penempatannya oleh para ulama’ karena saling tarik menarik seperti surat Al-Hajj ayat 77,
Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. QS. Al-Hajj : 77, (Depag, 1989: 523)
Dan pada surat Al-Baqarah ayat 21.
••
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, QS, al-Baqarah: 21(Depag, 1989: 523)
Bahkan masih banyak ayat yang bermasalah berbeda penafsiran dalam menempatkan antara makkiyah dan Madaniyah Seperti surah al-A’rad namun bagaimanapun tujuan dalam mengklasifikasi ayat tersebut masih tidak keluar pada eksistensinya, untuk memberikan pemahaman yang lebih mudah atas Al-Quran sebagai kitab yang terahir diturunkan pada nabi ahir zaman.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdul Adzim-Azzarqany, Syekh Muhammmad, 2002, Manahil a-Urfah Fi’ulum al-Qur’an, Jakarta: Gaya Media Pratama.
Anwar, Rosihan, 2001, Samudra Al-Qur’an, Bandung: Pustaka Setia .
Azwar, Bahar, 2005, Manfaat Puasa menurut ilmu Kesehatan, Jakarta : PT Agro Media Pustaka
Departemen Agama, 2000, Al-Qur’an Terjemah, Semarang: CV. Al-Waah.
Ismail, Moh. Baqir, 1991, Dirasah fi Ulumil Qur’an, Kairo: Darul Manar.
Khalil Al-Qatan Manna’, 1973, Mabahis fi Ulumil Qur’an, Masyurat Al-Asra’i Hadis, Terj. Mudzakkir, 2001, Bogor: Pustaka Letera Antar Nusa.
Marzuki, Kamaluddin, 1994, Ulumul Qur’an, Bandung: PT. Remaja Rosida Karya.
Shihab, M Quraish, dkk., 1999, Sejarah dan Ulumul Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus.
Zuhdi Masjfuk, H, Prof. Drs, 1997, Pengantar Ulumul Qur’an, Surabaya: Karya Abditama.
Sabtu, 20 Maret 2010
HERMENEUTIKA MODEL FAZLUR RAHMAN
Oleh: Ainul Yaqin
SISWA PASCA IAIN WALISONGO
I. Pendahuluan
a. Riwayat Hidup Fazlurrahman dan pola pemikirannya
Fazlur Rahman tokoh pemikir Islam modern yang lahir pada tahun 1919 di daerah barat laut Pakistan. Yaitu ditengah-tengah keluarga Malak letaknya di Hazara sebelum terpencahnya India, kini merupakan bagian dari Pakistan. Ayahnya bernama Maulana Shihabuddin, beliau alumni Sekolah Menengah terkemuka yaitu Darul Ulum Deoban sebuah lembaga yang mengkaji tentang pemahaman islam salafi yang fukus pada Fikih, Ilmu Kalam, Hadis, Tafsir, dan yang lainnya, walaupun Fazlurrahman tidak belajar ilmu tersebut di lenbaga Darul Ulum akan tetapi dia langsung mendapatkan kajian privat dari ayahnya sebab ayahnya seorang kyai yang mengajar di madrasah tradisional paling bergengsi di anak benua Indo-Pakistan. Serta keluarganya bermadzhab Hanafi, suatu madzhab fiqih yang dikenal paling rasional di antara madzhab sunni lainnya.
Pada tahun 1942, Fazlur Rahman mendapat gelar M.A dalam sastra Arab di Universitas Punjab, pada 1946 kuliah di Oxford University, dan meraih gelar doktor filsafat (Ph.D) pada tahun 1951, kemudian mengajar beberapa saat di Universitas Durham. Setelah itu dia bekerja pada Institute of Islamic Studies Mc. Gill University Kanada sebagai associate professor of philosophy. ia menguasai banyak bahasa: bahasa Latin, Yunani, Inggris, Perancis, Jerman, Turki, Persia, Arab dan Urdu. Setelah beberapa tahun mengembara di negri Barat Rahman kembali ke negrinya di Pakistan, pada waktu itu Pakistan sedang di landa perdebatan sengit antara berbagai kelompok Islam –Konservatif, modernis dan Sekuler dalam menentukan struktur Islam yang relevan untuk Islam Pakistan, nah pada waktu itu Rahman terlibat secara Intensif dalam kontroversi dalam rangka turut memberikan definisi Ideologis bagi Pakistan sebagai Negara Islam. Melalui kariernya sebagai direktur pada Institute of Islamic Reseach pada tahun 1962, Rahman leluasa mengepakkan sayapnya dalam melanjutkan Visi dan Misinya, sampai dua tahu kemudian (1964) Rahman ditunjuk sebagai anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam. Pada kondisi strategis itu Rahman memamfaatkan term-term pembaharuan dengan disambut oleh kelompok modernis, sehingga seringkali bertentangan dengan opini-opini kelompok kalangan tradisional fundamintalis, sehingga mencapai pada puncak tantangan yang bertubi-tubi ketika Rahman meluncurkan karya ilmiyahnya dengan berbahasa Urdun Fikr-u-Nazhr pada tahun 1967. Dalam karangannya menyatakan bahwa “Al-Quran itu secara keseluruhannya adalah kalam Allah dan dalam pengertian biasa juga seluruhnya merupakan perkataan Muhammad” pernyataan tersebut membuat heboh masyarakat Pakistan terutama kalangan Fundamentalis Konservatif seperti Al-bayyinat, bahkan mereka telah memberikan keputusan dengan mengklaim sebagai “pengingkar Al-Quran” dan kontroversi itu lebih memanas dan meledak dalam demonstrasi Massa dan aksi mogok total yang dilakukan oleh elemen masyarakat mulai mahasiswa sampai sopir taxi demonstrasi tersebut terjadi pada awal 1968.
pada 1969. ia memutuskan hijrah ke Chicago untuk menjabat sebagai guru besar dalam kajian Islam di segala aspeknya pada Departement of Near Eastern Languages and Civilization, University of Chicago. Sebagai guru besar dia mengajar mata kuliah pemahaman Al-Quran, Filsafat Islam, selain itu juga sering mengisi kajian islam pada seminar internasional bahkan beliau juga pernah datang ke Indonesia bersama Prof. Sherif Mardin dari Istambul pada tahun 1985 untuk meninjau dan memberikan Advise (kabar) terhadap penyelenggara tinggi islam di bawah naungan Departemen Agama.
Pemahaman penyusun yang terbatas mencoba membahas tentang pemikiran dan sumbangannya, Makalah ini merupakan pembahasan khusus terhadap tokoh Islam modern diantara yang paling awal mempolopori corak tafsir Hermeneutik dinamis bagi membuka ruang ijtihad semasa dan memecahkan kemandekan pemikiran Islam kontemporer. Tokoh yang dimaksudkan ialah Fazlur Rahman, seorang sarjana dan ilmuwan dari Pakistan yang kemudian menetap di Amerika Syarikat. Dilahirkan pada tahun 1919 di daerah Barat Laut Pakistan, beliau pernah menjadi profesor di Universiti Chicago sehingga akhir hayatnya pada tahun 1998 akibat komplikasi pembedahan jantung. Menurut para sarjana dunia Islam maupun Barat, Fazlur Rahman merupakan salah satu pemikir Islam terpenting di abad ke-20.
b. Karya-karya Fazlurrahman
Dari Akumulasi latar belakang Pendidikan yang berbeda antara timur dan barat tampaknya akan sangat mempengaruhi gaya berfikir dan solusi yang ditawarkan dalam menyikapi persoalan yang berkembang ditengah masyarakat muslim. Hal tersebut dilatarbelakangi ketika Rahman memfokuskan kajiannya pada Filsafat dan Teologi yang mengacu pada sumber islam klasik sehingga dapat membuahkan karya yang berjudul Avicenna’s Psychology Prophecy in Islam, pada karangan tersebut memaparkan analisisnya seobyektif mungkin, dan tidak menimbulkan kecendrungan apologi (pembelaan maaf) yang bersifat pribadi. Juga karangan beliau adalah Prophecy in Islam : Philosophy and Orthodoxy dan masih ada karangan lainnya.
II. Persoalan Pendekatan dan Pemahaman al-Qur’an
Persoalan Al-qur’an menurut Fazlur Rahman, adalah persoalan kaedah dan pemahaman (method and hermeneutics) terhadap al-Qur’an yang belum pernah dibicarakan dengan tuntas di dalam tradisi Islam dan merupakan perkara yang mendesak. Corak penafsiran yang diwarisi dari tradisi keIslaman zaman klasik telah gagal memaparkan pesan-pesan al-Qur’an secara berpadu. Akibat dari kaedah yang menafsirkan ayat demi ayat, serta kecenderungan terhadap penggunaan ayat-ayat al-Qur’an secara atomistik, para mufassirun dan umat Islam umumnya tidak dapat menangkap keterpaduan pesan al-Qur’an yang dilandaskan suatu weltanschauung (pandangan dunia atau worldview) yang pasti.
Fazlur Rahman selanjutnya mengkritik kecenderungan menafsir dan memperlakukan ayat-ayat al-Qur’an secara sepotong-sepotong dan tidak menentu (piecemeal and ad-hoc), yang hingga kini, masih berlanjutan. Dengan perubahan sosial dan masukan ide-ide baru yang berasal dari Barat, setengah pemikir Islam cenderung mencari-cari dan menggunakan ayat-ayat Al-Qu’ran yang dapat menjustifikasikan posisi mereka sama kuat untuk mempertahankan konsep-konsep dan institusi-institusi yang terbit dari Barat, maupun menolak penerimaannya.
Di dalam latar pemikiran apologetik sebeginilah Fazlur Rahman mengusulkan diwujudkan suatu kaedah hermeneutika yang lebih mantap. Sumbangannya yang paling bermakna ke arah proses ini ialah dengan pengusulan teori ‘gerakan ganda’ (double movement) yang kini menjadi landasan bagi penafsiran-penafsiran baru yang bersifat kontekstual dan dinamis.
Mengenai motif kaedah hermeneutika yang cuba dibangunkannya, Fazlur Rahman menjelaskan:
“The method of Qur’anic hermeneutics I am talking about is concerned with an understanding of its message that will enable those who have faith in it and want to live by its guidance- in both their individual and collective lives- to do so coherently and meaningfully.”
Menurut Fazlur Rahman, pemahaman tepat pada pesan al-Qur’an dapat dipisahkan daripada keimanan itu sendiri, meskipun kita tidak boleh menafikan pemahaman boleh mendatangkan keimanan dan keimanan juga boleh dan sepatutnya membenihkan pemahaman yang tepat.
Implikasi dari perbedaan yang dibuat oleh Fazlur Rahman antara pendekatan pure cognitive dan emotive-faith ini memberi ruang pada penafsiran-penafsiran al-Qur’an yang berlandaskan kajian-kajian sejarah dan ilmiah. Oleh kerana pendekatan terhadap al-Qur’an selama ini bersifat atomistik dan ahistorikal, Fazlur haruslah membangunkan justifikasi yang kuat mengapa pendekatan historikal itu merupakan kemestian dan, lebih penting lagi, mengapa suatu kaedah yang legitimat dari sisi epistemologi pewahyuan. Perkara yang terakhir ini dapat kita tinjau melalui nisbah antara wahyu dan penerima (Nabi Muhammad), dan juga duduk perkara pewahyuan itu sendiri (nature of revelation).
Berikut, kita akan membincarakan tentang
1). pemahaman Fazlur Rahman terhadap proses pewahyuan dari kata-kata Tuhan (transendental) kepada ucapan dan teks (temporal);
2). teori double-movement di dalam rangka mendekati dan menggali pesan-pesan al-Qur’an;
3). keobjektifan sejarah dalam penggunaan hermeneutika;
1. Teori Pewahyuan dan Ruang Temporal
Di dalam rangka pemahaman ortodoks, proses pewahyuan merupakan suatu imlak (dictation) antara outhor (Tuhan) dan penerima (Nabi Muhammad) melalui perantaraan (malaikat Jibril). Dalam arti kata lain, sang penerima seringkali dipaparkan seperti sebuah perakam suara (tape recorder) yang memainkan semula segala apa yang ditransmisikan secara mekanis (yaitu, menjadi teks). Ini bermakna peranan dan konteks penerima itu seringkali tidak diberi perhatian sehingga wahyu-teks itu dilihat sebagai sesuatu yang berada, secara keseluruhannya, di luar ruang spatio-temporal.
Pemahaman ortodoks seperti ini, sebagaimana yang dikritik Fazlur Rahman, sememangnya kurang lengkap karena aspek temporal wahyu-teks tidak difikirkan langsung. Hasilnya, wahyu-teks itu mempunyai komponen temporal karena wujud di ruang yang semestinya temporal dan berubah-ubah. Oleh itu, proses pewahyuan itu lebih kompleks dari apa yang digambarkan oleh kelompok ortodoks. Mungkin inilah yang menyebabkan timbulnya pendekatan yang ahistorikal dalam menafsir atau mempergunakan ayat-ayat al-Qur’an. Seperti yang diperhatikan Ebrahim Moosa, persoalaan “interface of revelation with the world” begitu penting sekiranya sejarah ingin berperan di dalam memahami wahyu yang bersifat transendental.
Jika diperhatikan, penekanan pada aspek sosio-historikal teks al-Qur’an ini merupakan salah satu ciri utama gerakan neomodernisme di mana Fazlur Rahman merupakan salah seorang pengggagas utamanya. Aspek sosio-historikal ini bukan hanya mencakupi situasi turunnya sesuatu ayat (asbab al-nuzul) tetapi, sebagaimana digambarkan oleh Nurcholish Madjid, merangkumi pemahaman pada konteks budaya Arab secara keseluruhannya pada zaman turunnya wahyu (al-Qur’an).
Nurcholish Madjid menulis: “It seems to me that Fazlur Rahman is right when he says that the Qur’an doesn’t come down to the Prophet in a vacuum. So one of the ways to understand the message is to understand the context. So if you talk about the asbab al-nuzul or the occasions of revelation it is not only the specific occasions of revelation but also the cultural environment.”
Berbalik pada penolakan terhadap pemahaman naif kelompok ortodoks, Fazlur Rahman menekankan bahwa al-Qur’an itu sendiri tidak menggambarkan wahyu sebagai sesuatu yang bersifat eksternal sepenuhnya dari diri Nabi Muhammad itu sendiri. Al-Qur’an menjelaskan: “Ia [al-Qur’an] dibawa turun oleh al-Ruh al-Amin [malaikat Jibril yang amanah] ke dalam hatimu {Muhammad.SAW}” dan juga “maka Jibril itu telah menurunkannya [al-Qur’an] ke dalam hatimu dengan seizin Allah.”
Fazlur kemudian berpendapat bahawa kelompok ortodoks (sebagaimana pemikiran medieval umumnya), “lacked the necessary intellectual tools to combine in its formulation of the dogma the otherness and verbal character of the Revelation on the one hand, and its intimate connection with the work and the religious personality of the Prophet on the other, i.e. it lacked the intellectual capacity to say both that the Qur’an is entirely the word of God and, in an ordinary sense, also entirely the word of Muhammad. The Qur’an obviously holds both, for it insists that it has come to the ‘heart’ of the Prophet, how can it be external to him?”
Kritik Rahman terhadap pemahaman ortodoks dan pemahamannya terhadap pergelutan komponen transendental dan temporal di dalam proses pewahyuan seharusnya merupakan titik-tolak pergeserannya dengan kelompok ulama konservatif, terutamanya di Pakistan sewaktu dia menjabat jawatan Pengarah Lembaga Penelitian Islam. Walaupun memformulasikan teori pewahyuannya bukanlah sesuatu yang menyimpang dari tradisi intelektual Islam (teori ini pernah diungkapkan oleh Syeah Wali Allah dan Muhammad Iqbal), Fazlur Rahman sering disalah-artikan sebagai orang yang mengatakan al-Qur’an itu ciptaan Muhammad. padahal, Fazlur Rahman secara terang-terangan mengatakan:
“Setiap Muslim sejak datangnya Islam telah meyakini, dan harus meyakini, bahwa al-Qur’an merupakan Kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Tanpa kepercayaan teramat penting ini, tidak satu pun yang bahkan dapat menjadi seorang Muslim nominal (hanya dalam sebutan).” Menurut Abd A’la pula, teori pewahyuan Rahman juga dipengaruhi oleh pendapat al-Ghazali yang membedakan kalam Allah (al-Qur’an yang sebenarnya) dan mushaf (teks al-Qur’an secara fizikal) itu sendiri. A’la menulis:
“Pengaruh al-Ghazali terhadap Fazlur Rahman juga tampak ketika al-Ghazali berupaya menjelaskan hubungan kalam Allah dengan al-Qur’an. Untuk ini, ia membedakan antara bacaan (qira’ah), yang dibaca (maqru’), dan al-Qur’an. Bacaan adalah perbuatan yang bersifat inderawi yang dilakukan pembaca dalam waktu-waktu tertentu. Oleh kerana itu, bacaan adalah baru. Sedang “yang dibaca” adalah Kalam Allah yang qadim yang terdapat pada zat-Nya. Apa yang dibaca adalah searti dengan al-Qur’an. “Apa yang dibaca” dalam pandangan al-Ghazali adalah sesuatu yang terdapat di balik bacaan, bukan mushhaf itu sendiri.”
Selanjutnya, kita akan melihat secara khusus sumbangan Fazlur Rahman dalam bidang metodologi penafsiran al-Qur’an kontemporer dan usulan pendekatan hermeneutika al-Qur’an.
2. Teori Gerakan Ganda (Double Movement)
Antara sumbangan terpenting Fazlur Rahman di dalam bidang kajian al-Qur’an ialah usulan teori ‘gerakan ganda’ (double movement) yang begitu berpengaruh melahirkan tafsir-tafsir kontekstual, terutamanya di dalam bidang hukum.
Pertama sekali, Fazlur Rahman mendefinisikan al-Qur’an sebagai respons Tuhan, melalui Nabi Muhammad selaku wadah, terhadap kondisi moral dan sosial masyarakat Arab waktu itu. “The Qu’ran is a divine response, through the Prophet’s mind, to the moral-social situation of the Prophet’s Arabia.” Oleh itu, al-Qur’an itu tidak terlepas dari konteks sosial dan sejarah.
Di dalam rangka pemahaman historis terhadap al-Qur’an, Fazlur Rahman mengetengahkan tentang teori ‘gerakan ganda’-nya. Di sini, Fazlur Rahman menjelaskan ‘gerakan ganda’ sebagai langkah menyelusuri dari situasi saat ini kepada situasi pewahyuan, dan kemudian kembali dari lampau kepada masa kini.
a. Dari situasi kini kepada situasi pewahyuan, Di dalam gerakan kembali pada konteks al-Qur’an sewaktu ia diturunkan, ada dua langkah yang diperlukan. Pertama, sang penafsir harus memahami makna yang benar sesuatu ayat dengan mengkaji latar sejarah atau persoalan yang menyentuh sebab ayat itu diturunkan. Di dalam rangka ini, kajian umum terhadap situasi makro kehidupan sosial Arab menjelang dan sekitar penurunan wahyu, harus dilaksanakan. Kedua, sang penafsir harus pula menggarap prinsip-prinsip dasar dari ayat-ayat yang menyentuh persoalan-persoalan khusus itu, dalam arti kata tujuan sosio-moral dibalik setiap ayat. Di dalam kedua-dua proses ini, semangat (élan) ajaran al-Qur’an secara keseluruhan haruslah diambil kiranya, demi menjaga keutuhan pesan yang cuba diketengahkan melalui wahyu itu.
b. Dari konteks pewahyuan kepada konteks masakini, Dengan prinsip-prinsip dasar yang digarap dari ayat-ayat spesifik itu, sang penafsir haruslah memaknakan ayat-ayat itu kembali dan mengaplikasikannya pada konteks dan situasi sosial masa kini. Langkah ini juga memerlukan penelitian secukupnya akan kondisi masa kini supaya prinsip-prinsip al-Qur’an dapat diterapkan sesuai dengan keperluan masyarakat.
Dengan pergerakan berganda sebegini di dalam penafsiran teks, Fazlur Rahman yakin ijtihad dapat diberi nafas baru. Sekiranya pergerakan ini berjaya dilakukan, pesan-pesan al-Qur’an dapat ‘hidup’ dan menjadi efektif sekali lagi.
Pergerakan berganda seperti yang dikemukan oleh Fazlur Rahman memang berkesan di dalam mengaitkan kerelevanan teks al-Qur’an pada konteks kini, terutamanya di dalam rangka penafsiran hukum dari al-Qur’an. Lebih penting lagi, beliau memastikan perlunya pendekatan multidisciplinary kerana pesan al-Qur’an terlalu penting dan kompleks untuk diperlakukan sewenang-wenangnya oleh berbagai kelompok pun yang berkepentingan mempromosikan penafsiran tunggal. Abdullah Saeed menulis:
“The importance of Rahman’s ‘double-movement’ approach is that he takes into account both the conditions of the time of the revelation and those of the modern period in relating the text to the community. In utilising this double movement theory, it is expected that not only the traditional ulama, who should determine what is Islamically acceptable and what is not, will be involved, but that it will also involve other ‘specialists’ of relevance from fields as diverse as history, philosophy, law, ethics, sociology, and anthropology to assist in the process of deriving Islamic law that is meaningful, relevant and appropriate.”
Isu adanya keragaman tafsir yang kadangkala kelihatan bertentangan antara sesama merupakan perkara yang tidak disenangi berbagai pihak. Menurut para pengkritik Fazlur Rahman, pendapatnya tentang keragaman penafsiran ini serupa dengan mengakui tiadanya kebenaran absolut yang ditentukan Tuhan. Namun, para pengkritik ini tersasar kerana Rahman bukan merelativasikan kebenaran mutlak; sebaliknya, beliau hanya memperlihatkan bahwa keseragaman tafsir secara absolut merupakan sesuatu yang tidak mungkin dan tidak desirable. Sebaliknya, Fazlur Rahman menawarkan perbedaan penafsiran yang tidak menentu dibahaskan secara terbuka dan dengan mengaplikasikan metodologi yang diajukan atau memperlihatkan asumsi-asumsi tersendiri secara tulus dan saksama. Tulisnya: “What is important is first of all to use the kind of method I am advocating to eliminate vagrant interpretations. For the rest, every interpreter must explicitly state his general assumptions with regard to Qur’anic interpretation in general and specific assumptions and premises with regard to specific issues or passages. Once his assumptions are made explicit then discussion among differing interpreters is possible and subjectivity is further reduced.”
Selaras dengan semangat demokratisnya, Fazlur Rahman membangkitkan keperluan mendebatkan dan membincangkan perbedaan secara terbuka dan memberi peluang pada masyarakat umum memilih interpretasi keagamaan yang paling sesuai buat mereka:
“What is certain [from individual or collective efforts at interpretating the Qur’an] is that there have to be several attempts so that, through discussion and debate, the community at large can accept some interpretations and discard others. It is obviously not necessary that a certain interpretation once accepted must continue to be accepted; there is always both room and necessity for new interpretations.”
Menariknya juga, Rahman melihat proses penafsiran itu sebagai sesuatu yang dinamis dan tidak absolut, walaupun ini haruslah dibedakan dengan konsep relativiti kebenaran (relativism of truth). Rahman sudah tentunya bukan merelativitaskan kebenaran maupun menolak adanya kebenaran absolut. Sebaliknya, Rahman menyeru pada pertanggungjawaban proses penafsiran kerana beliau seringkali tidak dapat lari dari konteks persekitaran dan sejarah sang penafsir itu. Perkara ini akan menjadi jelas sekiranya kita melihat dengan lebih lanjut pendapat Rahman akan objektivitas sejarah di dalam penafsiran sejarah yang subjektif.
3. Hermeneutika dan Objektivitas Sejarah
Sekiranya unsur sosio-historikal sesuatu teks itu amat penting dan tidak dapat diabaikan dalam proses penafsiran, bagaimana pula persoalan objektivitas sejarah? Dalam arti kata lain, sekiranya segala penafsiran terhadap objek sejarah itu tidak dapat lari dari subjektivitas sang penafsir, dapatkah kita mempertahankan kaedah sosiohistoris yang dikatakan dapat menangkap makna yang benar yang ingin disampaikan oleh teks?
Menghadapi persoalan ini, Fazlur Rahman nampaknya tidak menghuraikan secara jelas atau terperinci melainkan merujuk pada perdebatan antara dua mazhab hermeneutika, yaitu antara Emillio Betti (pendukung teori objektivas sejarah) dan Hans-Georg Gadamer (pendukung teori subjektivitas sejarah). Rahman kelihatan berpihak pada teori usulan Betti karena model tafsir yang diajukannya bergantung pada asumsi adanya objektivitas dalam kajian sesuatu objek yang wujud dalam sejarah (atau boleh juga disebut sebagai kajian terhadap tradisi). Keberpihakannya pada teori usulan Betti sekaligus meletakkannya di dalam posisi bertentangan dengan pendapat Hans-Georg Gadamer, pemikir besar bidang falsafah hermeneutika. Gadamer berpendapat bahawa “The recognition that all understanding inevitably involves some prejudice gives the hermeneutical problem, its real thrust.” Oleh itu, menurut Gadamer, kesilapan projek Pencerahan Eropah di dalam mempertahankan historical objectivism terletak pada pengabaian persoalan subjectivism di dalam mengkaji objek sejarah.
Sementera itu, Fazlur Rahman, seperti halnya Emilio Betti, mengkritik pendapat Gadamer yang jelas memposisikan setiap pemahaman sebagai subjektif. Menjelaskan kritiknya terhadap pendapat Gadamer, Fazlur Rahman menulis:
“Every critique or modification of a tradition involves a consciousness of what is being criticized or rejected and hence, to that extent, self-awareness. In view of the revolutionary changes wrought by some men in their traditions, it is therefore not proper to say that their responses were predetermined, and primarily by their effective histories. What seems reasonable to hold is that all conscious responses to the past involve two moments that must be distinguished. One is the objective ascertaining of the past (– which Gadamer does not allow), which is possible in principle provided requisite evidence is available; the other is the response itself, which necessarily involves values and which is determined (not predetermined) by my present situation., of which effective history is a part but of which my conscious effort and self-aware activity also constitute an important part. For Gadamer these two moments are utterly inseparable and indistinguishable.”
Dengan pemahaman hermeneutika tersebut proses mempersoalkan tradisi dan merubah tradisi demi menjaga dan melestarikan pesan-pesan normatifnya dapat berlangsung terus di dalam sejarah. Di sini, penting diingatkan bahawa secara dasarnya, Fazlur Rahman berpegang teguh pada objektivitas etika dan moral. bahkan, Fazlur Rahman berpendapat bahwa “élan [semangat] dasar al-Qur’an adalah moral, dari mana mengalir penekanannya yang tegas terhadap monoteisme maupun keadilan sosial.” Oleh itu, Fazlur Rahman tidak terpaut pada pemahaman teks secara harfiah (literal) kerana teks itu muncul dan terbatas oleh sejarah kecuali pesan-pesan normatifnya. Inilah yang membuat Fazlur Rahman berani merombak dan memikir ulang sebahagian besar tradisi pemikiran yang telah kuat di dalam masyarakat.
Orientasi pemikiran seperti ini sudah tentunya layak dikatakan ‘liberal’; bukan dalam pemahaman negatif, tetapi akomodatif, tidak rigid dan sukar ditinggalkan karena pegangannya pada prinsip dan dasar normatif moral-etika begitu mendalam dan teguh. Tiga komponen yang dibahas di atas (1) pemahaman sosio-historis; (2) teori gerakan ganda; dan (3) pegangan pada aspek normatif moral-etika berhasil diterapkan oleh Fazlur Rahman, secara praktikal, di dalam karya agungnya, Major Themes of the Qur’an.
4. Pendekatan Tafsir Tematis
Selain dari pada sumbangannya pada bidang kajian al-Qur’an dan hermeneutika, Fazlur Rahman juga merealisasikan projek pembaharuan pemahaman terhadap al-Qur’an didalam bidang penulisan tafsir (exegesis) itu sendiri. Malah, sumbangan terakhirnya ini dapat dianggap sebagai yang terpenting kerana Rahman telah berjaya meneruskan dan memperkayakan tradisi tafsir ke-Islaman kontemporer. Ini dapat kita lihat dalam karya agungnya, Major Themes of the Qur’an. Buku tafsir ini pertama kali dicetak pada tahun 1980, sedekade selepas beliau meletakkan jabatan selaku anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam Pemerintah Pakistan dan berhijrah ke Amerika Syarikat.
Menurut Fazlur Rahman, upaya menyatukan ayat-ayat mengikut tema adalah satu-satunya cara memberi pembaca gambaran keterpaduan al-Qur’an dan pesan Tuhan pada manusia. Ini berbeda dari cara merekonstruksikan makna teks ayat-per-ayat atau menurut urutan kronologis yang akan hanya memberi gambaran kurang lengkap akan pesan yang benar atau “master idea” yang mengalir di dalam teks al-Qur’an. “Master idea” al-Qur’an ini, atau seringkali disebut oleh Fazlur Rahman sebagai weltanschauung begitu penting dalam skema falsafah Rahman. Menjelaskan keprihatinan Rahman terhadap perkara ini, Ebrahim Moosa menulis: “Without grasping the worldview of the Qur’an, modern interpreters would not be able to differentiate the past social contexts, mores, and customs that were grafted onto the interpretation of the original revelation.”
Fazlur Rahman berpendapat kajian-kajian terhadap teks al-Qur’an yang dilakukan di Barat dapat dibahagikan kepada tiga kategori: (1) kajian-kajian yang cuba mencari pengaruh Judeo-Kristian di dalam al-Qur’an; (2) kajian-kajian yang cuba merekonstruksikan ayat-ayat al-Qur’am mengikut urutan kronologis; dan (3) kajian-kajian yang cuba membahaskan isi kandungan al-Qur’an. Menurut Rahman, kategori ketiga ini kurang diberi perhatian; mungkin karena para pengkaji non-Muslim dari Barat merasakan bahawa tugas menerangkan apa yang ingin disampaikan al-Qur’an adalah tanggungjawab pengikut Islam sendiri. Oleh karena itu, Fazlur Rahman mengupayakan satu tafsir yang menggunakan pendekatan tematis. Menurutnya, pendekatan inilah yang dapat menangkap makna wahyu Tuhan yang terpadu, konsisten dan koheren.
Di dalam tafsir tematisnya, Fazlur Rahman membahaskan tema-tema penting ssebagaimana disentuh oleh al-Qur’an. Menurutnya, al-Qur’an merupakan dokumen yang ditujukan untuk manusia, dan walaupun rujukan pada nama Tuhan begitu menyeruah didalamnya, al-Qur’an itu sendiri bukanlah suatu risalah mengenai Tuhan maupun sifat-Nya. Sebaliknya, Fazlur Rahman menulis: “There is no doubt that a central aim of the Qur’an is to establish a viable social order on earth that will be just and ethically based.”
Apa saja yang akan kondusif bagi integritas tersebut akan menjadi baik; dan apa saja yang mengalangi integritas tersebut dan membawa ke arah disintegrasi serta kemusnahan, akan menjadi jelek.”
Konsep-konsep ini penting di dalam rangka memahami pesan-pesan Ilahi melalui wahyu-Nya yang terakam di dalam teks al-Qur’an. Secara umum, bolehlah dikatakan bahwa ketakwaan yang diinginkan oleh al-Qur’an tidak lain daripada kemestian manusia menjalankan tanggunjawabnya selaku khalifah, sesuai dengan posisi uniknya di dalam skala penciptaan.
Tafsir tematis Fazlur Rahman melontarkan banyak lagi pemikiran-pemikiran yang bernafas baru. Inilah sumbangan terpenting Rahman di dalam bidang tafsir kontemporer. Sebagaimana ditegaskan oleh Komaruddin Hidayat, cara Rahman merekonstruksi tradisi kenabian dan pesan dasar wahyu ke dalam suatu rumusan yang bersifat moral-etikal bagi kehidupan (sepertimana yang dilakukan melalui tafsir tematisnya) merupakan suatu upaya menimbulkan sosok utuh, baik bersifat individu atau masyarakat, yang mencerminkan bentuk kehidupan yang rasional, humanis dan religius tanpa harus mengingkari proses kesejarahannya. Mungkin inilah keperluan yang mendesak bagi masyarakat Islam dewasa ini.
III. ISRA’ DALAM PANDANGAN FAZLUR RAHMAN
Dalam penafsiran Fazlur Rahman tentang tex “al-Quran” mengikuti pemahaman madzhab Obyektifitas yang mengacu pada konsep pemikirannya yaitu (1) pemahaman sosio-historis; (2) teori gerakan ganda (Doble movement); dan (3) pegangan pada aspek normatif moral-etika sebuah contoh ketika Fazlur Rahman menafsirkan al-Quran Surat al-Isra’ ayat 1 :
Artinya. Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya(Muhammad) pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke “Masjid yang terjauh” Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 17: 1)
Artinya. 19. Sesungguhnya Al Qur'aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),
20. Yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan Tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy,
21. Yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.
22. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.
23. Dan Sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.
24. Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. (QS. 81: 19-24)
Ayat tersebut di atas menyinggung hal-hal yang yang bersifat ultimasi seperti obyek-obyek “Masjid yang terjauh” di alam keterangan yang pertama dan “ufuk yang paling nyata” di dalam keterangan yang kedua. Keterangan yang terahir ini menunjukkan persamaan yang sangat menyolok dengan yang pertama di antara ketiga keterangan di atas: sama-sama menyebutkan Malaekat Jibril sebagai mahluk yang sangat kuat dan “ufuk” sebagai titik pengalaman yang terjauh. Mungkin pula di dalam peristiwa Mi’raj itu ada lebih dari dua buah pengalaman karena “Masjid yang Terjauh” di dalam ayat (17:1), yang mungkin sekali adalah yang terakhir diturunkan diantara ketiga keterangan di atas, tidak disebutkan di dalam kedua keterangan lainnya. Karena pengalaman pengalaman lainnya tersebut bersifat spiritual maka entitas-entitas yang disebutkan di keterangan ini sudah tentu tidak mungkin bersifat Fisis, walaupun harus kita ingat bahwa jika pengalaman spiritual mempunyai intensitas yang sedemikian besar sehingga jarak diantara subyek dan obyek hilang, maka “suara-suara” “terdengar” dan “gambaran-gambaran” terlihat oleh si subyek dan pengalaman spiritulnya itu mengambil bentuk yang Quasi-konkrit.
IV. Kesimpulan atau Penutupan
Dalam kesimpulan ini Pemakalah mengantarkan pesan Fazlur pada sipembaca bahwa Al-Quran sebagai teks petunjuk bagi manusia, juga Fazlur mendapati ada 3 konsep terpenting di dalam al-Qur’an: Iman, Islam dan Taqwa. Menurut Fazlur Rahman, ketiga-tiga konsep atau tema ini mengandung makna dasar yang sama: “Istilah Iman, dari akar kata a-m-n, memiliki arti pokok “keamanan, bebas dari bahaya, damai” Tema Islam, yang akar katanya adalah s-l-m, juga memiliki pengertian yang sama: “aman dan integral, terlindung dari disintegrasi, kehancuran.” Tema ketiga, taqwa, yang sangat mendasar bagi al-Qur’an di samping kedua istilah di atas, memiliki akar kata w-q-y yang juga berarti “melindungi dari bahaya, menjaga dari kemusnahan, tersia-siakan atau disintegrasi.” Suatu refleksi dan analisis terhadap ketiga istilah kunci ini, secara langsung mengarahkan kita ke dalam “bawah sadar al-Qur’an” sebagaimana adanya .
Fazlur Rahman adalah tokoh yang telah mewarnai pemikiran Islam agar tetap eksis disamping kritikan atasnya, ini terbukti dari sumbangan Fazlur Rahman di dalam bidang ilmu al-Qur’an kontemporer telah meletakkan beliau sebagai salah seorang penggagas reformisme Islam abad ke-20 yang paling penting dan kreatif. Teori hermeneutika dan tafsir tematisnya telah memberi petunjuk ke arah membongkar penafsiran-penafsiran lama yang kuno dan tidak berfungsi lagi di dalam perubahan sosial masyarakat yang jauh berbeda dari zaman terdahulu.
Di dalam penafsiran-penafsiran baru, yang kadangkala berbeda dan adakalanya menggugat pemahaman Islam yang telah kuat dan ketinggalan, bukanlah sesuatu yang harus dilihat sebagai menghancurkan kestabilan atau kebenaran Islam. Sebaliknya, ia akan lebih memperkaya dan menguatkan Islam kerana kebenaran itu hanya bisa tercapai melalui proses menahan kecenderungan untuk mengabsolutkan pendapat dan pendirian diri atau pihak masing-masing. Saleh Syukri dalam bukunya menjelaskan “metode hermeneutika disamping memandang ayat-ayat al-quran secara utuh, meneliti kata-kata al-quran sesuai dengan konteksnya dan menjadikan azbabun-nuzul sebagai data sejarah yang penting dalam menemukan kontekstual ayat, juga memfungsikan pendekatan sastra-linguistik, sejarah, sosiologi, antropologi, dan sebagainya sebagai alat bantu yang penting dalam menafsirkan ayat-ayat al-quran”
Akhir kata jangan pernah takut mempelajari sesuatu, kita tidak akan sesat ketika hidayah Allah SWT bersama kita. Amin, Wallahu ‘alam.
DAFTAR PUSTAKA
Abd A’la, 2003. Dari Neomodernisme ke Islam Liberal: Jejak Fazlur Rahman dalam Wacana Islam di Indonesia. Jakarta: Paramadina.
Abdullah Saeed (ed.), 2005. Approaches to the Qur’an in Contemporary Indonesia. London: Oxford University Press and The Institute of Ismaili Studies.
Adian Husaini, 2006. Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi. Jakarta: Gema Insani.
Amina Wadud, 1999. Qur’an and Women: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective. New York & Oxford: Oxford University Press.
Daniel W. Brown, 1996. Rethinking Tradition in Modern Islamic Thought. Cambridge and New York: Cambridge University Press.
Fachry Ali dan Bahtiar Effendy, 1986. Merambah Jalan baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru. Bandung: Mizan.
Farid Esack, 2002. Qur’an, Liberation & Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity against Oppression. Oxford: Oneworld.
_______, 2002. The Qur’an: A Short Introduction. Oxford: Oneworld.
Fazlur Rahman, 1982. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, Chicago and London: The University of Chicago Press.
_______, 1965. Islamic Methodology in History. Karachi: Central Institute of Islamic Research.
_______, 1987. Metode dan Alternatif Neomodernisme Islam. Bandung: Mizan.
_______, 1999. Major Themes of the Qur’an, 2nd edition. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust.
, 1976. “Some Islamic Issues in the Ayyub Khan Era” dalam Donald P. Little (ed.), Essays on Islamic Civilization (Presented to Niyazi Berkes). Leiden: E.J. Brill.
Hassan Hanafi, 1996. “Method of Thematic Interpretation of the Qur’an” dalam Stephan Wild (ed.), The Qur’an as Text. Leiden, New York and Koln: E.J. Brill.
Komaruddin Hidayat, 1996. Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik. Jakarta: Paramadina.
Maryam Jameela, t.t. Islam dan Moderenisme: Kritik Terhadap Berbagai Usaha Sekularisasi Dunia Islam. Surabaya: Usaha Nasional.
Mahyuddin Anas, 1980. Tema pokok al-quran fazlurrahman, Bandung. Pustaka
Moosa Ibrahim, 2001. Gelombang Perubahan dalam Islam Staudi Fundamintalis dalam Islam. Jakarta. Pt. RajaGrafindo Persada
Richard E. Palmer, 1969. Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer. Evanston: Northwestern University Press.
Saleh Syukri Ahmad, 2007, Metodologi Tafsir Al-Quran Kontemporer dalam Pandangan Fazlurrahman. Jambi. Sultan Thaha Press
Sutrisnno. 2005. Fazlurrahman Kajian terhadap Metode, Epistimologi dan Sistem pendidikan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
Suha Taji-Farouki (ed.), 2006. Modern Muslim Intellectuals and the Qur’an. London: Oxford University Press & The Institute of Ismaili Studies.
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and Secularism. Kuala Lumpur: Muslim Youth Movement of Malaysia, 1978.
Taufik Adnan Amal, 1989. Islam dan Tantangan Modernitas: Studi atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman. Bandung: Mizan.
Taufik Adnan Amal & Syamsu Rizal Panggabean, 1989. Tafsir Kontekstual Al-Quran: Sebuah Kerangka Konseptual. Bandung: Mizan.
Oleh: Ainul Yaqin
SISWA PASCA IAIN WALISONGO
I. Pendahuluan
a. Riwayat Hidup Fazlurrahman dan pola pemikirannya
Fazlur Rahman tokoh pemikir Islam modern yang lahir pada tahun 1919 di daerah barat laut Pakistan. Yaitu ditengah-tengah keluarga Malak letaknya di Hazara sebelum terpencahnya India, kini merupakan bagian dari Pakistan. Ayahnya bernama Maulana Shihabuddin, beliau alumni Sekolah Menengah terkemuka yaitu Darul Ulum Deoban sebuah lembaga yang mengkaji tentang pemahaman islam salafi yang fukus pada Fikih, Ilmu Kalam, Hadis, Tafsir, dan yang lainnya, walaupun Fazlurrahman tidak belajar ilmu tersebut di lenbaga Darul Ulum akan tetapi dia langsung mendapatkan kajian privat dari ayahnya sebab ayahnya seorang kyai yang mengajar di madrasah tradisional paling bergengsi di anak benua Indo-Pakistan. Serta keluarganya bermadzhab Hanafi, suatu madzhab fiqih yang dikenal paling rasional di antara madzhab sunni lainnya.
Pada tahun 1942, Fazlur Rahman mendapat gelar M.A dalam sastra Arab di Universitas Punjab, pada 1946 kuliah di Oxford University, dan meraih gelar doktor filsafat (Ph.D) pada tahun 1951, kemudian mengajar beberapa saat di Universitas Durham. Setelah itu dia bekerja pada Institute of Islamic Studies Mc. Gill University Kanada sebagai associate professor of philosophy. ia menguasai banyak bahasa: bahasa Latin, Yunani, Inggris, Perancis, Jerman, Turki, Persia, Arab dan Urdu. Setelah beberapa tahun mengembara di negri Barat Rahman kembali ke negrinya di Pakistan, pada waktu itu Pakistan sedang di landa perdebatan sengit antara berbagai kelompok Islam –Konservatif, modernis dan Sekuler dalam menentukan struktur Islam yang relevan untuk Islam Pakistan, nah pada waktu itu Rahman terlibat secara Intensif dalam kontroversi dalam rangka turut memberikan definisi Ideologis bagi Pakistan sebagai Negara Islam. Melalui kariernya sebagai direktur pada Institute of Islamic Reseach pada tahun 1962, Rahman leluasa mengepakkan sayapnya dalam melanjutkan Visi dan Misinya, sampai dua tahu kemudian (1964) Rahman ditunjuk sebagai anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam. Pada kondisi strategis itu Rahman memamfaatkan term-term pembaharuan dengan disambut oleh kelompok modernis, sehingga seringkali bertentangan dengan opini-opini kelompok kalangan tradisional fundamintalis, sehingga mencapai pada puncak tantangan yang bertubi-tubi ketika Rahman meluncurkan karya ilmiyahnya dengan berbahasa Urdun Fikr-u-Nazhr pada tahun 1967. Dalam karangannya menyatakan bahwa “Al-Quran itu secara keseluruhannya adalah kalam Allah dan dalam pengertian biasa juga seluruhnya merupakan perkataan Muhammad” pernyataan tersebut membuat heboh masyarakat Pakistan terutama kalangan Fundamentalis Konservatif seperti Al-bayyinat, bahkan mereka telah memberikan keputusan dengan mengklaim sebagai “pengingkar Al-Quran” dan kontroversi itu lebih memanas dan meledak dalam demonstrasi Massa dan aksi mogok total yang dilakukan oleh elemen masyarakat mulai mahasiswa sampai sopir taxi demonstrasi tersebut terjadi pada awal 1968.
pada 1969. ia memutuskan hijrah ke Chicago untuk menjabat sebagai guru besar dalam kajian Islam di segala aspeknya pada Departement of Near Eastern Languages and Civilization, University of Chicago. Sebagai guru besar dia mengajar mata kuliah pemahaman Al-Quran, Filsafat Islam, selain itu juga sering mengisi kajian islam pada seminar internasional bahkan beliau juga pernah datang ke Indonesia bersama Prof. Sherif Mardin dari Istambul pada tahun 1985 untuk meninjau dan memberikan Advise (kabar) terhadap penyelenggara tinggi islam di bawah naungan Departemen Agama.
Pemahaman penyusun yang terbatas mencoba membahas tentang pemikiran dan sumbangannya, Makalah ini merupakan pembahasan khusus terhadap tokoh Islam modern diantara yang paling awal mempolopori corak tafsir Hermeneutik dinamis bagi membuka ruang ijtihad semasa dan memecahkan kemandekan pemikiran Islam kontemporer. Tokoh yang dimaksudkan ialah Fazlur Rahman, seorang sarjana dan ilmuwan dari Pakistan yang kemudian menetap di Amerika Syarikat. Dilahirkan pada tahun 1919 di daerah Barat Laut Pakistan, beliau pernah menjadi profesor di Universiti Chicago sehingga akhir hayatnya pada tahun 1998 akibat komplikasi pembedahan jantung. Menurut para sarjana dunia Islam maupun Barat, Fazlur Rahman merupakan salah satu pemikir Islam terpenting di abad ke-20.
b. Karya-karya Fazlurrahman
Dari Akumulasi latar belakang Pendidikan yang berbeda antara timur dan barat tampaknya akan sangat mempengaruhi gaya berfikir dan solusi yang ditawarkan dalam menyikapi persoalan yang berkembang ditengah masyarakat muslim. Hal tersebut dilatarbelakangi ketika Rahman memfokuskan kajiannya pada Filsafat dan Teologi yang mengacu pada sumber islam klasik sehingga dapat membuahkan karya yang berjudul Avicenna’s Psychology Prophecy in Islam, pada karangan tersebut memaparkan analisisnya seobyektif mungkin, dan tidak menimbulkan kecendrungan apologi (pembelaan maaf) yang bersifat pribadi. Juga karangan beliau adalah Prophecy in Islam : Philosophy and Orthodoxy dan masih ada karangan lainnya.
II. Persoalan Pendekatan dan Pemahaman al-Qur’an
Persoalan Al-qur’an menurut Fazlur Rahman, adalah persoalan kaedah dan pemahaman (method and hermeneutics) terhadap al-Qur’an yang belum pernah dibicarakan dengan tuntas di dalam tradisi Islam dan merupakan perkara yang mendesak. Corak penafsiran yang diwarisi dari tradisi keIslaman zaman klasik telah gagal memaparkan pesan-pesan al-Qur’an secara berpadu. Akibat dari kaedah yang menafsirkan ayat demi ayat, serta kecenderungan terhadap penggunaan ayat-ayat al-Qur’an secara atomistik, para mufassirun dan umat Islam umumnya tidak dapat menangkap keterpaduan pesan al-Qur’an yang dilandaskan suatu weltanschauung (pandangan dunia atau worldview) yang pasti.
Fazlur Rahman selanjutnya mengkritik kecenderungan menafsir dan memperlakukan ayat-ayat al-Qur’an secara sepotong-sepotong dan tidak menentu (piecemeal and ad-hoc), yang hingga kini, masih berlanjutan. Dengan perubahan sosial dan masukan ide-ide baru yang berasal dari Barat, setengah pemikir Islam cenderung mencari-cari dan menggunakan ayat-ayat Al-Qu’ran yang dapat menjustifikasikan posisi mereka sama kuat untuk mempertahankan konsep-konsep dan institusi-institusi yang terbit dari Barat, maupun menolak penerimaannya.
Di dalam latar pemikiran apologetik sebeginilah Fazlur Rahman mengusulkan diwujudkan suatu kaedah hermeneutika yang lebih mantap. Sumbangannya yang paling bermakna ke arah proses ini ialah dengan pengusulan teori ‘gerakan ganda’ (double movement) yang kini menjadi landasan bagi penafsiran-penafsiran baru yang bersifat kontekstual dan dinamis.
Mengenai motif kaedah hermeneutika yang cuba dibangunkannya, Fazlur Rahman menjelaskan:
“The method of Qur’anic hermeneutics I am talking about is concerned with an understanding of its message that will enable those who have faith in it and want to live by its guidance- in both their individual and collective lives- to do so coherently and meaningfully.”
Menurut Fazlur Rahman, pemahaman tepat pada pesan al-Qur’an dapat dipisahkan daripada keimanan itu sendiri, meskipun kita tidak boleh menafikan pemahaman boleh mendatangkan keimanan dan keimanan juga boleh dan sepatutnya membenihkan pemahaman yang tepat.
Implikasi dari perbedaan yang dibuat oleh Fazlur Rahman antara pendekatan pure cognitive dan emotive-faith ini memberi ruang pada penafsiran-penafsiran al-Qur’an yang berlandaskan kajian-kajian sejarah dan ilmiah. Oleh kerana pendekatan terhadap al-Qur’an selama ini bersifat atomistik dan ahistorikal, Fazlur haruslah membangunkan justifikasi yang kuat mengapa pendekatan historikal itu merupakan kemestian dan, lebih penting lagi, mengapa suatu kaedah yang legitimat dari sisi epistemologi pewahyuan. Perkara yang terakhir ini dapat kita tinjau melalui nisbah antara wahyu dan penerima (Nabi Muhammad), dan juga duduk perkara pewahyuan itu sendiri (nature of revelation).
Berikut, kita akan membincarakan tentang
1). pemahaman Fazlur Rahman terhadap proses pewahyuan dari kata-kata Tuhan (transendental) kepada ucapan dan teks (temporal);
2). teori double-movement di dalam rangka mendekati dan menggali pesan-pesan al-Qur’an;
3). keobjektifan sejarah dalam penggunaan hermeneutika;
1. Teori Pewahyuan dan Ruang Temporal
Di dalam rangka pemahaman ortodoks, proses pewahyuan merupakan suatu imlak (dictation) antara outhor (Tuhan) dan penerima (Nabi Muhammad) melalui perantaraan (malaikat Jibril). Dalam arti kata lain, sang penerima seringkali dipaparkan seperti sebuah perakam suara (tape recorder) yang memainkan semula segala apa yang ditransmisikan secara mekanis (yaitu, menjadi teks). Ini bermakna peranan dan konteks penerima itu seringkali tidak diberi perhatian sehingga wahyu-teks itu dilihat sebagai sesuatu yang berada, secara keseluruhannya, di luar ruang spatio-temporal.
Pemahaman ortodoks seperti ini, sebagaimana yang dikritik Fazlur Rahman, sememangnya kurang lengkap karena aspek temporal wahyu-teks tidak difikirkan langsung. Hasilnya, wahyu-teks itu mempunyai komponen temporal karena wujud di ruang yang semestinya temporal dan berubah-ubah. Oleh itu, proses pewahyuan itu lebih kompleks dari apa yang digambarkan oleh kelompok ortodoks. Mungkin inilah yang menyebabkan timbulnya pendekatan yang ahistorikal dalam menafsir atau mempergunakan ayat-ayat al-Qur’an. Seperti yang diperhatikan Ebrahim Moosa, persoalaan “interface of revelation with the world” begitu penting sekiranya sejarah ingin berperan di dalam memahami wahyu yang bersifat transendental.
Jika diperhatikan, penekanan pada aspek sosio-historikal teks al-Qur’an ini merupakan salah satu ciri utama gerakan neomodernisme di mana Fazlur Rahman merupakan salah seorang pengggagas utamanya. Aspek sosio-historikal ini bukan hanya mencakupi situasi turunnya sesuatu ayat (asbab al-nuzul) tetapi, sebagaimana digambarkan oleh Nurcholish Madjid, merangkumi pemahaman pada konteks budaya Arab secara keseluruhannya pada zaman turunnya wahyu (al-Qur’an).
Nurcholish Madjid menulis: “It seems to me that Fazlur Rahman is right when he says that the Qur’an doesn’t come down to the Prophet in a vacuum. So one of the ways to understand the message is to understand the context. So if you talk about the asbab al-nuzul or the occasions of revelation it is not only the specific occasions of revelation but also the cultural environment.”
Berbalik pada penolakan terhadap pemahaman naif kelompok ortodoks, Fazlur Rahman menekankan bahwa al-Qur’an itu sendiri tidak menggambarkan wahyu sebagai sesuatu yang bersifat eksternal sepenuhnya dari diri Nabi Muhammad itu sendiri. Al-Qur’an menjelaskan: “Ia [al-Qur’an] dibawa turun oleh al-Ruh al-Amin [malaikat Jibril yang amanah] ke dalam hatimu {Muhammad.SAW}” dan juga “maka Jibril itu telah menurunkannya [al-Qur’an] ke dalam hatimu dengan seizin Allah.”
Fazlur kemudian berpendapat bahawa kelompok ortodoks (sebagaimana pemikiran medieval umumnya), “lacked the necessary intellectual tools to combine in its formulation of the dogma the otherness and verbal character of the Revelation on the one hand, and its intimate connection with the work and the religious personality of the Prophet on the other, i.e. it lacked the intellectual capacity to say both that the Qur’an is entirely the word of God and, in an ordinary sense, also entirely the word of Muhammad. The Qur’an obviously holds both, for it insists that it has come to the ‘heart’ of the Prophet, how can it be external to him?”
Kritik Rahman terhadap pemahaman ortodoks dan pemahamannya terhadap pergelutan komponen transendental dan temporal di dalam proses pewahyuan seharusnya merupakan titik-tolak pergeserannya dengan kelompok ulama konservatif, terutamanya di Pakistan sewaktu dia menjabat jawatan Pengarah Lembaga Penelitian Islam. Walaupun memformulasikan teori pewahyuannya bukanlah sesuatu yang menyimpang dari tradisi intelektual Islam (teori ini pernah diungkapkan oleh Syeah Wali Allah dan Muhammad Iqbal), Fazlur Rahman sering disalah-artikan sebagai orang yang mengatakan al-Qur’an itu ciptaan Muhammad. padahal, Fazlur Rahman secara terang-terangan mengatakan:
“Setiap Muslim sejak datangnya Islam telah meyakini, dan harus meyakini, bahwa al-Qur’an merupakan Kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Tanpa kepercayaan teramat penting ini, tidak satu pun yang bahkan dapat menjadi seorang Muslim nominal (hanya dalam sebutan).” Menurut Abd A’la pula, teori pewahyuan Rahman juga dipengaruhi oleh pendapat al-Ghazali yang membedakan kalam Allah (al-Qur’an yang sebenarnya) dan mushaf (teks al-Qur’an secara fizikal) itu sendiri. A’la menulis:
“Pengaruh al-Ghazali terhadap Fazlur Rahman juga tampak ketika al-Ghazali berupaya menjelaskan hubungan kalam Allah dengan al-Qur’an. Untuk ini, ia membedakan antara bacaan (qira’ah), yang dibaca (maqru’), dan al-Qur’an. Bacaan adalah perbuatan yang bersifat inderawi yang dilakukan pembaca dalam waktu-waktu tertentu. Oleh kerana itu, bacaan adalah baru. Sedang “yang dibaca” adalah Kalam Allah yang qadim yang terdapat pada zat-Nya. Apa yang dibaca adalah searti dengan al-Qur’an. “Apa yang dibaca” dalam pandangan al-Ghazali adalah sesuatu yang terdapat di balik bacaan, bukan mushhaf itu sendiri.”
Selanjutnya, kita akan melihat secara khusus sumbangan Fazlur Rahman dalam bidang metodologi penafsiran al-Qur’an kontemporer dan usulan pendekatan hermeneutika al-Qur’an.
2. Teori Gerakan Ganda (Double Movement)
Antara sumbangan terpenting Fazlur Rahman di dalam bidang kajian al-Qur’an ialah usulan teori ‘gerakan ganda’ (double movement) yang begitu berpengaruh melahirkan tafsir-tafsir kontekstual, terutamanya di dalam bidang hukum.
Pertama sekali, Fazlur Rahman mendefinisikan al-Qur’an sebagai respons Tuhan, melalui Nabi Muhammad selaku wadah, terhadap kondisi moral dan sosial masyarakat Arab waktu itu. “The Qu’ran is a divine response, through the Prophet’s mind, to the moral-social situation of the Prophet’s Arabia.” Oleh itu, al-Qur’an itu tidak terlepas dari konteks sosial dan sejarah.
Di dalam rangka pemahaman historis terhadap al-Qur’an, Fazlur Rahman mengetengahkan tentang teori ‘gerakan ganda’-nya. Di sini, Fazlur Rahman menjelaskan ‘gerakan ganda’ sebagai langkah menyelusuri dari situasi saat ini kepada situasi pewahyuan, dan kemudian kembali dari lampau kepada masa kini.
a. Dari situasi kini kepada situasi pewahyuan, Di dalam gerakan kembali pada konteks al-Qur’an sewaktu ia diturunkan, ada dua langkah yang diperlukan. Pertama, sang penafsir harus memahami makna yang benar sesuatu ayat dengan mengkaji latar sejarah atau persoalan yang menyentuh sebab ayat itu diturunkan. Di dalam rangka ini, kajian umum terhadap situasi makro kehidupan sosial Arab menjelang dan sekitar penurunan wahyu, harus dilaksanakan. Kedua, sang penafsir harus pula menggarap prinsip-prinsip dasar dari ayat-ayat yang menyentuh persoalan-persoalan khusus itu, dalam arti kata tujuan sosio-moral dibalik setiap ayat. Di dalam kedua-dua proses ini, semangat (élan) ajaran al-Qur’an secara keseluruhan haruslah diambil kiranya, demi menjaga keutuhan pesan yang cuba diketengahkan melalui wahyu itu.
b. Dari konteks pewahyuan kepada konteks masakini, Dengan prinsip-prinsip dasar yang digarap dari ayat-ayat spesifik itu, sang penafsir haruslah memaknakan ayat-ayat itu kembali dan mengaplikasikannya pada konteks dan situasi sosial masa kini. Langkah ini juga memerlukan penelitian secukupnya akan kondisi masa kini supaya prinsip-prinsip al-Qur’an dapat diterapkan sesuai dengan keperluan masyarakat.
Dengan pergerakan berganda sebegini di dalam penafsiran teks, Fazlur Rahman yakin ijtihad dapat diberi nafas baru. Sekiranya pergerakan ini berjaya dilakukan, pesan-pesan al-Qur’an dapat ‘hidup’ dan menjadi efektif sekali lagi.
Pergerakan berganda seperti yang dikemukan oleh Fazlur Rahman memang berkesan di dalam mengaitkan kerelevanan teks al-Qur’an pada konteks kini, terutamanya di dalam rangka penafsiran hukum dari al-Qur’an. Lebih penting lagi, beliau memastikan perlunya pendekatan multidisciplinary kerana pesan al-Qur’an terlalu penting dan kompleks untuk diperlakukan sewenang-wenangnya oleh berbagai kelompok pun yang berkepentingan mempromosikan penafsiran tunggal. Abdullah Saeed menulis:
“The importance of Rahman’s ‘double-movement’ approach is that he takes into account both the conditions of the time of the revelation and those of the modern period in relating the text to the community. In utilising this double movement theory, it is expected that not only the traditional ulama, who should determine what is Islamically acceptable and what is not, will be involved, but that it will also involve other ‘specialists’ of relevance from fields as diverse as history, philosophy, law, ethics, sociology, and anthropology to assist in the process of deriving Islamic law that is meaningful, relevant and appropriate.”
Isu adanya keragaman tafsir yang kadangkala kelihatan bertentangan antara sesama merupakan perkara yang tidak disenangi berbagai pihak. Menurut para pengkritik Fazlur Rahman, pendapatnya tentang keragaman penafsiran ini serupa dengan mengakui tiadanya kebenaran absolut yang ditentukan Tuhan. Namun, para pengkritik ini tersasar kerana Rahman bukan merelativasikan kebenaran mutlak; sebaliknya, beliau hanya memperlihatkan bahwa keseragaman tafsir secara absolut merupakan sesuatu yang tidak mungkin dan tidak desirable. Sebaliknya, Fazlur Rahman menawarkan perbedaan penafsiran yang tidak menentu dibahaskan secara terbuka dan dengan mengaplikasikan metodologi yang diajukan atau memperlihatkan asumsi-asumsi tersendiri secara tulus dan saksama. Tulisnya: “What is important is first of all to use the kind of method I am advocating to eliminate vagrant interpretations. For the rest, every interpreter must explicitly state his general assumptions with regard to Qur’anic interpretation in general and specific assumptions and premises with regard to specific issues or passages. Once his assumptions are made explicit then discussion among differing interpreters is possible and subjectivity is further reduced.”
Selaras dengan semangat demokratisnya, Fazlur Rahman membangkitkan keperluan mendebatkan dan membincangkan perbedaan secara terbuka dan memberi peluang pada masyarakat umum memilih interpretasi keagamaan yang paling sesuai buat mereka:
“What is certain [from individual or collective efforts at interpretating the Qur’an] is that there have to be several attempts so that, through discussion and debate, the community at large can accept some interpretations and discard others. It is obviously not necessary that a certain interpretation once accepted must continue to be accepted; there is always both room and necessity for new interpretations.”
Menariknya juga, Rahman melihat proses penafsiran itu sebagai sesuatu yang dinamis dan tidak absolut, walaupun ini haruslah dibedakan dengan konsep relativiti kebenaran (relativism of truth). Rahman sudah tentunya bukan merelativitaskan kebenaran maupun menolak adanya kebenaran absolut. Sebaliknya, Rahman menyeru pada pertanggungjawaban proses penafsiran kerana beliau seringkali tidak dapat lari dari konteks persekitaran dan sejarah sang penafsir itu. Perkara ini akan menjadi jelas sekiranya kita melihat dengan lebih lanjut pendapat Rahman akan objektivitas sejarah di dalam penafsiran sejarah yang subjektif.
3. Hermeneutika dan Objektivitas Sejarah
Sekiranya unsur sosio-historikal sesuatu teks itu amat penting dan tidak dapat diabaikan dalam proses penafsiran, bagaimana pula persoalan objektivitas sejarah? Dalam arti kata lain, sekiranya segala penafsiran terhadap objek sejarah itu tidak dapat lari dari subjektivitas sang penafsir, dapatkah kita mempertahankan kaedah sosiohistoris yang dikatakan dapat menangkap makna yang benar yang ingin disampaikan oleh teks?
Menghadapi persoalan ini, Fazlur Rahman nampaknya tidak menghuraikan secara jelas atau terperinci melainkan merujuk pada perdebatan antara dua mazhab hermeneutika, yaitu antara Emillio Betti (pendukung teori objektivas sejarah) dan Hans-Georg Gadamer (pendukung teori subjektivitas sejarah). Rahman kelihatan berpihak pada teori usulan Betti karena model tafsir yang diajukannya bergantung pada asumsi adanya objektivitas dalam kajian sesuatu objek yang wujud dalam sejarah (atau boleh juga disebut sebagai kajian terhadap tradisi). Keberpihakannya pada teori usulan Betti sekaligus meletakkannya di dalam posisi bertentangan dengan pendapat Hans-Georg Gadamer, pemikir besar bidang falsafah hermeneutika. Gadamer berpendapat bahawa “The recognition that all understanding inevitably involves some prejudice gives the hermeneutical problem, its real thrust.” Oleh itu, menurut Gadamer, kesilapan projek Pencerahan Eropah di dalam mempertahankan historical objectivism terletak pada pengabaian persoalan subjectivism di dalam mengkaji objek sejarah.
Sementera itu, Fazlur Rahman, seperti halnya Emilio Betti, mengkritik pendapat Gadamer yang jelas memposisikan setiap pemahaman sebagai subjektif. Menjelaskan kritiknya terhadap pendapat Gadamer, Fazlur Rahman menulis:
“Every critique or modification of a tradition involves a consciousness of what is being criticized or rejected and hence, to that extent, self-awareness. In view of the revolutionary changes wrought by some men in their traditions, it is therefore not proper to say that their responses were predetermined, and primarily by their effective histories. What seems reasonable to hold is that all conscious responses to the past involve two moments that must be distinguished. One is the objective ascertaining of the past (– which Gadamer does not allow), which is possible in principle provided requisite evidence is available; the other is the response itself, which necessarily involves values and which is determined (not predetermined) by my present situation., of which effective history is a part but of which my conscious effort and self-aware activity also constitute an important part. For Gadamer these two moments are utterly inseparable and indistinguishable.”
Dengan pemahaman hermeneutika tersebut proses mempersoalkan tradisi dan merubah tradisi demi menjaga dan melestarikan pesan-pesan normatifnya dapat berlangsung terus di dalam sejarah. Di sini, penting diingatkan bahawa secara dasarnya, Fazlur Rahman berpegang teguh pada objektivitas etika dan moral. bahkan, Fazlur Rahman berpendapat bahwa “élan [semangat] dasar al-Qur’an adalah moral, dari mana mengalir penekanannya yang tegas terhadap monoteisme maupun keadilan sosial.” Oleh itu, Fazlur Rahman tidak terpaut pada pemahaman teks secara harfiah (literal) kerana teks itu muncul dan terbatas oleh sejarah kecuali pesan-pesan normatifnya. Inilah yang membuat Fazlur Rahman berani merombak dan memikir ulang sebahagian besar tradisi pemikiran yang telah kuat di dalam masyarakat.
Orientasi pemikiran seperti ini sudah tentunya layak dikatakan ‘liberal’; bukan dalam pemahaman negatif, tetapi akomodatif, tidak rigid dan sukar ditinggalkan karena pegangannya pada prinsip dan dasar normatif moral-etika begitu mendalam dan teguh. Tiga komponen yang dibahas di atas (1) pemahaman sosio-historis; (2) teori gerakan ganda; dan (3) pegangan pada aspek normatif moral-etika berhasil diterapkan oleh Fazlur Rahman, secara praktikal, di dalam karya agungnya, Major Themes of the Qur’an.
4. Pendekatan Tafsir Tematis
Selain dari pada sumbangannya pada bidang kajian al-Qur’an dan hermeneutika, Fazlur Rahman juga merealisasikan projek pembaharuan pemahaman terhadap al-Qur’an didalam bidang penulisan tafsir (exegesis) itu sendiri. Malah, sumbangan terakhirnya ini dapat dianggap sebagai yang terpenting kerana Rahman telah berjaya meneruskan dan memperkayakan tradisi tafsir ke-Islaman kontemporer. Ini dapat kita lihat dalam karya agungnya, Major Themes of the Qur’an. Buku tafsir ini pertama kali dicetak pada tahun 1980, sedekade selepas beliau meletakkan jabatan selaku anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam Pemerintah Pakistan dan berhijrah ke Amerika Syarikat.
Menurut Fazlur Rahman, upaya menyatukan ayat-ayat mengikut tema adalah satu-satunya cara memberi pembaca gambaran keterpaduan al-Qur’an dan pesan Tuhan pada manusia. Ini berbeda dari cara merekonstruksikan makna teks ayat-per-ayat atau menurut urutan kronologis yang akan hanya memberi gambaran kurang lengkap akan pesan yang benar atau “master idea” yang mengalir di dalam teks al-Qur’an. “Master idea” al-Qur’an ini, atau seringkali disebut oleh Fazlur Rahman sebagai weltanschauung begitu penting dalam skema falsafah Rahman. Menjelaskan keprihatinan Rahman terhadap perkara ini, Ebrahim Moosa menulis: “Without grasping the worldview of the Qur’an, modern interpreters would not be able to differentiate the past social contexts, mores, and customs that were grafted onto the interpretation of the original revelation.”
Fazlur Rahman berpendapat kajian-kajian terhadap teks al-Qur’an yang dilakukan di Barat dapat dibahagikan kepada tiga kategori: (1) kajian-kajian yang cuba mencari pengaruh Judeo-Kristian di dalam al-Qur’an; (2) kajian-kajian yang cuba merekonstruksikan ayat-ayat al-Qur’am mengikut urutan kronologis; dan (3) kajian-kajian yang cuba membahaskan isi kandungan al-Qur’an. Menurut Rahman, kategori ketiga ini kurang diberi perhatian; mungkin karena para pengkaji non-Muslim dari Barat merasakan bahawa tugas menerangkan apa yang ingin disampaikan al-Qur’an adalah tanggungjawab pengikut Islam sendiri. Oleh karena itu, Fazlur Rahman mengupayakan satu tafsir yang menggunakan pendekatan tematis. Menurutnya, pendekatan inilah yang dapat menangkap makna wahyu Tuhan yang terpadu, konsisten dan koheren.
Di dalam tafsir tematisnya, Fazlur Rahman membahaskan tema-tema penting ssebagaimana disentuh oleh al-Qur’an. Menurutnya, al-Qur’an merupakan dokumen yang ditujukan untuk manusia, dan walaupun rujukan pada nama Tuhan begitu menyeruah didalamnya, al-Qur’an itu sendiri bukanlah suatu risalah mengenai Tuhan maupun sifat-Nya. Sebaliknya, Fazlur Rahman menulis: “There is no doubt that a central aim of the Qur’an is to establish a viable social order on earth that will be just and ethically based.”
Apa saja yang akan kondusif bagi integritas tersebut akan menjadi baik; dan apa saja yang mengalangi integritas tersebut dan membawa ke arah disintegrasi serta kemusnahan, akan menjadi jelek.”
Konsep-konsep ini penting di dalam rangka memahami pesan-pesan Ilahi melalui wahyu-Nya yang terakam di dalam teks al-Qur’an. Secara umum, bolehlah dikatakan bahwa ketakwaan yang diinginkan oleh al-Qur’an tidak lain daripada kemestian manusia menjalankan tanggunjawabnya selaku khalifah, sesuai dengan posisi uniknya di dalam skala penciptaan.
Tafsir tematis Fazlur Rahman melontarkan banyak lagi pemikiran-pemikiran yang bernafas baru. Inilah sumbangan terpenting Rahman di dalam bidang tafsir kontemporer. Sebagaimana ditegaskan oleh Komaruddin Hidayat, cara Rahman merekonstruksi tradisi kenabian dan pesan dasar wahyu ke dalam suatu rumusan yang bersifat moral-etikal bagi kehidupan (sepertimana yang dilakukan melalui tafsir tematisnya) merupakan suatu upaya menimbulkan sosok utuh, baik bersifat individu atau masyarakat, yang mencerminkan bentuk kehidupan yang rasional, humanis dan religius tanpa harus mengingkari proses kesejarahannya. Mungkin inilah keperluan yang mendesak bagi masyarakat Islam dewasa ini.
III. ISRA’ DALAM PANDANGAN FAZLUR RAHMAN
Dalam penafsiran Fazlur Rahman tentang tex “al-Quran” mengikuti pemahaman madzhab Obyektifitas yang mengacu pada konsep pemikirannya yaitu (1) pemahaman sosio-historis; (2) teori gerakan ganda (Doble movement); dan (3) pegangan pada aspek normatif moral-etika sebuah contoh ketika Fazlur Rahman menafsirkan al-Quran Surat al-Isra’ ayat 1 :
Artinya. Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya(Muhammad) pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke “Masjid yang terjauh” Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 17: 1)
Artinya. 19. Sesungguhnya Al Qur'aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),
20. Yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan Tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy,
21. Yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.
22. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.
23. Dan Sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.
24. Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. (QS. 81: 19-24)
Ayat tersebut di atas menyinggung hal-hal yang yang bersifat ultimasi seperti obyek-obyek “Masjid yang terjauh” di alam keterangan yang pertama dan “ufuk yang paling nyata” di dalam keterangan yang kedua. Keterangan yang terahir ini menunjukkan persamaan yang sangat menyolok dengan yang pertama di antara ketiga keterangan di atas: sama-sama menyebutkan Malaekat Jibril sebagai mahluk yang sangat kuat dan “ufuk” sebagai titik pengalaman yang terjauh. Mungkin pula di dalam peristiwa Mi’raj itu ada lebih dari dua buah pengalaman karena “Masjid yang Terjauh” di dalam ayat (17:1), yang mungkin sekali adalah yang terakhir diturunkan diantara ketiga keterangan di atas, tidak disebutkan di dalam kedua keterangan lainnya. Karena pengalaman pengalaman lainnya tersebut bersifat spiritual maka entitas-entitas yang disebutkan di keterangan ini sudah tentu tidak mungkin bersifat Fisis, walaupun harus kita ingat bahwa jika pengalaman spiritual mempunyai intensitas yang sedemikian besar sehingga jarak diantara subyek dan obyek hilang, maka “suara-suara” “terdengar” dan “gambaran-gambaran” terlihat oleh si subyek dan pengalaman spiritulnya itu mengambil bentuk yang Quasi-konkrit.
IV. Kesimpulan atau Penutupan
Dalam kesimpulan ini Pemakalah mengantarkan pesan Fazlur pada sipembaca bahwa Al-Quran sebagai teks petunjuk bagi manusia, juga Fazlur mendapati ada 3 konsep terpenting di dalam al-Qur’an: Iman, Islam dan Taqwa. Menurut Fazlur Rahman, ketiga-tiga konsep atau tema ini mengandung makna dasar yang sama: “Istilah Iman, dari akar kata a-m-n, memiliki arti pokok “keamanan, bebas dari bahaya, damai” Tema Islam, yang akar katanya adalah s-l-m, juga memiliki pengertian yang sama: “aman dan integral, terlindung dari disintegrasi, kehancuran.” Tema ketiga, taqwa, yang sangat mendasar bagi al-Qur’an di samping kedua istilah di atas, memiliki akar kata w-q-y yang juga berarti “melindungi dari bahaya, menjaga dari kemusnahan, tersia-siakan atau disintegrasi.” Suatu refleksi dan analisis terhadap ketiga istilah kunci ini, secara langsung mengarahkan kita ke dalam “bawah sadar al-Qur’an” sebagaimana adanya .
Fazlur Rahman adalah tokoh yang telah mewarnai pemikiran Islam agar tetap eksis disamping kritikan atasnya, ini terbukti dari sumbangan Fazlur Rahman di dalam bidang ilmu al-Qur’an kontemporer telah meletakkan beliau sebagai salah seorang penggagas reformisme Islam abad ke-20 yang paling penting dan kreatif. Teori hermeneutika dan tafsir tematisnya telah memberi petunjuk ke arah membongkar penafsiran-penafsiran lama yang kuno dan tidak berfungsi lagi di dalam perubahan sosial masyarakat yang jauh berbeda dari zaman terdahulu.
Di dalam penafsiran-penafsiran baru, yang kadangkala berbeda dan adakalanya menggugat pemahaman Islam yang telah kuat dan ketinggalan, bukanlah sesuatu yang harus dilihat sebagai menghancurkan kestabilan atau kebenaran Islam. Sebaliknya, ia akan lebih memperkaya dan menguatkan Islam kerana kebenaran itu hanya bisa tercapai melalui proses menahan kecenderungan untuk mengabsolutkan pendapat dan pendirian diri atau pihak masing-masing. Saleh Syukri dalam bukunya menjelaskan “metode hermeneutika disamping memandang ayat-ayat al-quran secara utuh, meneliti kata-kata al-quran sesuai dengan konteksnya dan menjadikan azbabun-nuzul sebagai data sejarah yang penting dalam menemukan kontekstual ayat, juga memfungsikan pendekatan sastra-linguistik, sejarah, sosiologi, antropologi, dan sebagainya sebagai alat bantu yang penting dalam menafsirkan ayat-ayat al-quran”
Akhir kata jangan pernah takut mempelajari sesuatu, kita tidak akan sesat ketika hidayah Allah SWT bersama kita. Amin, Wallahu ‘alam.
DAFTAR PUSTAKA
Abd A’la, 2003. Dari Neomodernisme ke Islam Liberal: Jejak Fazlur Rahman dalam Wacana Islam di Indonesia. Jakarta: Paramadina.
Abdullah Saeed (ed.), 2005. Approaches to the Qur’an in Contemporary Indonesia. London: Oxford University Press and The Institute of Ismaili Studies.
Adian Husaini, 2006. Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi. Jakarta: Gema Insani.
Amina Wadud, 1999. Qur’an and Women: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective. New York & Oxford: Oxford University Press.
Daniel W. Brown, 1996. Rethinking Tradition in Modern Islamic Thought. Cambridge and New York: Cambridge University Press.
Fachry Ali dan Bahtiar Effendy, 1986. Merambah Jalan baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru. Bandung: Mizan.
Farid Esack, 2002. Qur’an, Liberation & Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity against Oppression. Oxford: Oneworld.
_______, 2002. The Qur’an: A Short Introduction. Oxford: Oneworld.
Fazlur Rahman, 1982. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, Chicago and London: The University of Chicago Press.
_______, 1965. Islamic Methodology in History. Karachi: Central Institute of Islamic Research.
_______, 1987. Metode dan Alternatif Neomodernisme Islam. Bandung: Mizan.
_______, 1999. Major Themes of the Qur’an, 2nd edition. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust.
, 1976. “Some Islamic Issues in the Ayyub Khan Era” dalam Donald P. Little (ed.), Essays on Islamic Civilization (Presented to Niyazi Berkes). Leiden: E.J. Brill.
Hassan Hanafi, 1996. “Method of Thematic Interpretation of the Qur’an” dalam Stephan Wild (ed.), The Qur’an as Text. Leiden, New York and Koln: E.J. Brill.
Komaruddin Hidayat, 1996. Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik. Jakarta: Paramadina.
Maryam Jameela, t.t. Islam dan Moderenisme: Kritik Terhadap Berbagai Usaha Sekularisasi Dunia Islam. Surabaya: Usaha Nasional.
Mahyuddin Anas, 1980. Tema pokok al-quran fazlurrahman, Bandung. Pustaka
Moosa Ibrahim, 2001. Gelombang Perubahan dalam Islam Staudi Fundamintalis dalam Islam. Jakarta. Pt. RajaGrafindo Persada
Richard E. Palmer, 1969. Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer. Evanston: Northwestern University Press.
Saleh Syukri Ahmad, 2007, Metodologi Tafsir Al-Quran Kontemporer dalam Pandangan Fazlurrahman. Jambi. Sultan Thaha Press
Sutrisnno. 2005. Fazlurrahman Kajian terhadap Metode, Epistimologi dan Sistem pendidikan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
Suha Taji-Farouki (ed.), 2006. Modern Muslim Intellectuals and the Qur’an. London: Oxford University Press & The Institute of Ismaili Studies.
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and Secularism. Kuala Lumpur: Muslim Youth Movement of Malaysia, 1978.
Taufik Adnan Amal, 1989. Islam dan Tantangan Modernitas: Studi atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman. Bandung: Mizan.
Taufik Adnan Amal & Syamsu Rizal Panggabean, 1989. Tafsir Kontekstual Al-Quran: Sebuah Kerangka Konseptual. Bandung: Mizan.
Minggu, 07 Maret 2010
beasiswa bidik 2010
BEASISWA PENDIDIKAN BAGI CALON MAHASISWA BERPRESTASI DARI KELUARGA KURANG MAMPU
Written by Admin on January 15, 2010 – 5:18 pm -PROGRAM BEASISWA BIDIK MISI
BEASISWA PENDIDIKAN BAGI CALON MAHASISWA BERPRESTASI DARI KELUARGA KURANG MAMPU
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI
DIREKTORAT KELEMBAGAAN TAHUN 2010
KATA PENGANTARBEASISWA PENDIDIKAN BAGI CALON MAHASISWA BERPRESTASI DARI KELUARGA KURANG MAMPU
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI
DIREKTORAT KELEMBAGAAN TAHUN 2010
Tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran. Hak setiap warga Negara tersebut telah dicantumkan dalam Pasal 31 (1) Undang-Undang Dasar 1945. Berdasarkan pasal tersebut, maka Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi, dan masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu diperlukan biaya yang cukup besar. Oleh karena itu bagi setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya kurang mampu membiayai pendidikannya, dan berhak mendapatkan beasiswa bagi mereka yang berprestasi.
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2010 meluncurkan program Beasiswa Bidik Misi untuk memberikan beasiswa dan biaya pendidikan kepada 20.000 mahasiswa dan atau calon mahasiswa dari keluarga yang secara ekonomi kurang mampu dan berprestasi, baik di bidang akademik/kurikuler, ko-kurikuler maupun ekstrakurikuler.
Program ini sangat penting untuk memutus mata rantai kemiskinan dengan cara elegan, sehingga dimasukkan sebagai program kerja 100 hari dalam Kabinet Indonesia Bersatu II.
Agar program penyaluran beasiswa Bidik Misi dapat dilaksanakan sesuai dengan prinsip 3T, yaitu: Tepat Sasaran, Tepat Jumlah, dan Tepat Waktu, maka diharapkan para pimpinan perguruan tinggi dalam melakukan sosialisasi, seleksi, dan penyaluran Beasiswa Bidik Misi mengacu pada pedoman ini.
Penerbitan pedoman program beasiswa Bidik Misi ini diharapkan dapat memudahkan bagi perguruan tinggi penyelenggara agar penyaluran beasiswa kepada mahasiswa dapat tercapai sesuai dengan harapan kita semua. Selain itu pedoman ini diharapkan juga dapat memudahkan bagi para calon mahasiswa atau mahasiswa yang akan mengusulkan sebagai calon penerima beasiswa, dan memudahkan bagi mahasiswa yang telah ditetapkan sebagai penerima beasiswa untuk mendapatkan haknya.
Dengan terbitnya buku ini, proses penyaluran beasiswa kepada mahasiswa diharapkan akan berjalan dengan lebih baik, dan mahasiswa dapat menyelesaikan studinya dengan lancar, berprestasi tepat waktu yang akhirnya dapat ikut andil dalam meneruskan perjuangan bangsa menuju pembangunan Indonesia sejahtera.
Akhirnya kami mengucapkan penghargaan dan terima kasih kepada tim penyusun pedoman ini dan semua pihak yang telah membantu dalam mewujudkan buku pedoman Program Beasiswa Bidik Misi ini.
Jakarta, Desember 2009
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi
Fasli Jalal
Info lengkap: http://kelembagaan.dikti.go.id/index.php/component/content/article/43-berita/388-bidik-misi#_Toc2482110%2024
Related posts:
- Program Beasiswa TNI Calon Perwira Prajurit Karier Untuk Mahasiswa S1 Masih kuliah dan punya cita-cita jadi perwira TNI? Mau dapat...
- Beasiswa Mahasiswa S1 dan S2 dari Tanoto Program 2009/2010 Tanoto Foundation adalah yayasan memiliki kepedulian pada pengembangan sumber daya...
- Program Beasiswa TNI Calon Perwira Prajurit Karier Untuk Mahasiswa S1 Masih kuliah dan punya cita-cita jadi perwira TNI? Mau dapat...
- Program Beasiswa TNI Calon Perwira Prajurit Karier Untuk Mahasiswa S1 Masih kuliah dan punya cita-cita jadi perwira TNI? Mau dapat...
- Beasiswa S2 dan S3 Luar Negeri bagi Dosen PTN dan PTS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI Jalan Raya Jenderal...
Sabtu, 06 Maret 2010
beasiswa paramadina 2010
PARAMADINA FELLOWSHIP 2010
The Gateway for a Bright Future
Universitas Paramadina bekerjasama dengan para dermawan Indonesia untuk “ketiga kalinya”, memberikan beasiswa kepada siswa-siswi lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau sederajat yang memiliki potensi akademis maupun non-akademis untuk mengikuti pendidikan (S-1) di Universitas Paramadina, pada Program Studi :
* Manajemen dan Bisnis
* Falsafah dan Agama,
* Ilmu Komunikasi,
* Psikologi,
* Hubungan Internasional,
* Teknik Informatika,
* Desain Komunikasi Visual
* Desain Produk Industri.
Kualifikasi
* Siswa kelas 3 atau lulusan SLTA atau sederajat dari seluruh Indonesia.
* Siswa kelas 3 atau lulusan SLTA atau sederajat, dengan nilai rata-rata NEM/UAN, STTB, dan Raport Kelas I, II dan III, minimum 7,50.
* Termasuk 10 siswa atau lulusan terbaik di kelas selama 4 (empat) semester.
* Tanggal lahir 1 Januari 1987 dan setelahnya.
* Memiliki kecerdasan emosional dan jiwa kepemimpinan, mudah bersosialisasi, serta beretika tinggi.
* Aktif dalam kegiatan organisasi intra dan ekstra sekolah.
* Mampu berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.
* Memahami dan menyetujui semua persyaratan dan ketentuan yang berlaku dalam program beasiswa ini **
**) Ketentuan yang berlaku :
1. Penerima beasiswa harus menyelesaikan masa kuliah dalam kurun 4 tahun kalender akademik.
2. Siswa yang tidak mendapatkan nilai IPK minimal 3,00 selama dua semester pada saat perkuliahan, dinyatakan gagal dan tidak lagi memperoleh beasiswa untuk penyelesaian sisa masa studi.
3. Nominasi ini akan gugur dengan sendirinya apabila siswa/pendaftar dinyatakan tidak lulus UAN.
4. Tidak sedang menerima beasiswa untuk Pendidikan Tinggi.
5. Tidak boleh menerima beasiswa lain, selama menjalani PF.
Proses Pendaftaran
Formulir pendaftaran dapat diperoleh di Bagian Informasi Universitas Paramadina tanpa dipungut biaya atau dapat di download di website kami : http://www.paramadina.ac.id/downloads/Fellowship/Formulir_PF_2010.pdf . Formulir Pendaftaran yang sudah diisi diserahkan sebelum batas waktu yang ditentukan dengan disertai :
1. Satu halaman tulisan yang berjudul “Saya di Tahun 2025” dan satu halaman tulisan berjudul “Pengalaman Pahit Saya.” (Petunjuk dan lembar essay terlampir).
2. Dua surat rekomendasi yaitu dari Kepala Sekolah atau Tokoh Masyarakat dan Guru. (Form surat rekomendasi terlampir).
3. Fotocopy transkip nilai (dilegalisir) :
* Untuk Lulusan SLTA
o fotocopy NEM
o STTB
o Ijazah
o Raport Kelas 1, 2, dan 3
* Untuk Siswa SLTA Kelas 3
o Raport Kelas 1, 2, dan 3.
4. Fotocopy Sertifikat Penghargaan yang pernah diraih.
5. Satu foto berwarna ukuran 3 x 4 cm
6. Fotocopy Kartu Identitas (KTP)
7. Fotocopy Kartu Keluarga.
Catatan :
* Formulir dan kelengkapan dokumen pendaftaran, dapat diserahkan langsung ke Bagian Informasi Universitas Paramadina (Senin – Jum’at 09.00 – 16.00 WIB dan Sabtu 09.00 – 13.00 WIB) atau dikirim melalui pos.
* Kami tidak menerima pengembalian formulir dan berkas pendaftaran melalui e-mail.
Batas Waktu Pendaftaran
Batas akhir penyerahan formulir dan berkas pendaftaran Program Paramadina Fellowship 2010 adalah :
* Melalui pos, dengan stempel pos, 10 April 2010.
Paramadina Fellowship 2010, dengan nilai beasiswa sebesar Rp. 125.000.000 (seratus duapuluh lima juta rupiah) mencakup pendanaan :
* Dana transportasi dari tempat asal menuju ke Universitas Paramadina.
* Biaya studi selama 4 tahun kalender akademik. Penerima beasiswa diharapkan dapat menyelesaikan studi, maksimal 4 tahun.
* Dana aktivitas kemahasiswaan sebesar Rp 2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah).
* Tunjangan buku 1 juta rupiah per-semester.
* Biaya hidup (living allowance) sebesar 1 juta rupiah per-bulan.**
* Disediakan asrama, wajib tinggal selama 2 tahun atau 4 semester berturut-turut.**
* Kemungkinan pelatihan dan magang selama studi, di perusahaan Donor.
* Peluang kesempatan kerja atau tawaran kerja dari Donor, setelah menyelesaikan studi S-1.
**) Keterangan :
Penerima beasiswa dari wilayah Jabodetabek, berhak atas biaya hidup dan wajib tinggal di asrama.
Informasi
Untuk memperoleh informasi Paramadina Fellowship 2009,
Sdri. Lina & Riri
Telp. +62 21 7918 1188 Ext. 888/200
www.paramadina.ac.id
The Gateway for a Bright Future
Universitas Paramadina bekerjasama dengan para dermawan Indonesia untuk “ketiga kalinya”, memberikan beasiswa kepada siswa-siswi lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau sederajat yang memiliki potensi akademis maupun non-akademis untuk mengikuti pendidikan (S-1) di Universitas Paramadina, pada Program Studi :
* Manajemen dan Bisnis
* Falsafah dan Agama,
* Ilmu Komunikasi,
* Psikologi,
* Hubungan Internasional,
* Teknik Informatika,
* Desain Komunikasi Visual
* Desain Produk Industri.
Kualifikasi
* Siswa kelas 3 atau lulusan SLTA atau sederajat dari seluruh Indonesia.
* Siswa kelas 3 atau lulusan SLTA atau sederajat, dengan nilai rata-rata NEM/UAN, STTB, dan Raport Kelas I, II dan III, minimum 7,50.
* Termasuk 10 siswa atau lulusan terbaik di kelas selama 4 (empat) semester.
* Tanggal lahir 1 Januari 1987 dan setelahnya.
* Memiliki kecerdasan emosional dan jiwa kepemimpinan, mudah bersosialisasi, serta beretika tinggi.
* Aktif dalam kegiatan organisasi intra dan ekstra sekolah.
* Mampu berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.
* Memahami dan menyetujui semua persyaratan dan ketentuan yang berlaku dalam program beasiswa ini **
**) Ketentuan yang berlaku :
1. Penerima beasiswa harus menyelesaikan masa kuliah dalam kurun 4 tahun kalender akademik.
2. Siswa yang tidak mendapatkan nilai IPK minimal 3,00 selama dua semester pada saat perkuliahan, dinyatakan gagal dan tidak lagi memperoleh beasiswa untuk penyelesaian sisa masa studi.
3. Nominasi ini akan gugur dengan sendirinya apabila siswa/pendaftar dinyatakan tidak lulus UAN.
4. Tidak sedang menerima beasiswa untuk Pendidikan Tinggi.
5. Tidak boleh menerima beasiswa lain, selama menjalani PF.
Proses Pendaftaran
Formulir pendaftaran dapat diperoleh di Bagian Informasi Universitas Paramadina tanpa dipungut biaya atau dapat di download di website kami : http://www.paramadina.ac.id/downloads/Fellowship/Formulir_PF_2010.pdf . Formulir Pendaftaran yang sudah diisi diserahkan sebelum batas waktu yang ditentukan dengan disertai :
1. Satu halaman tulisan yang berjudul “Saya di Tahun 2025” dan satu halaman tulisan berjudul “Pengalaman Pahit Saya.” (Petunjuk dan lembar essay terlampir).
2. Dua surat rekomendasi yaitu dari Kepala Sekolah atau Tokoh Masyarakat dan Guru. (Form surat rekomendasi terlampir).
3. Fotocopy transkip nilai (dilegalisir) :
* Untuk Lulusan SLTA
o fotocopy NEM
o STTB
o Ijazah
o Raport Kelas 1, 2, dan 3
* Untuk Siswa SLTA Kelas 3
o Raport Kelas 1, 2, dan 3.
4. Fotocopy Sertifikat Penghargaan yang pernah diraih.
5. Satu foto berwarna ukuran 3 x 4 cm
6. Fotocopy Kartu Identitas (KTP)
7. Fotocopy Kartu Keluarga.
Catatan :
* Formulir dan kelengkapan dokumen pendaftaran, dapat diserahkan langsung ke Bagian Informasi Universitas Paramadina (Senin – Jum’at 09.00 – 16.00 WIB dan Sabtu 09.00 – 13.00 WIB) atau dikirim melalui pos.
* Kami tidak menerima pengembalian formulir dan berkas pendaftaran melalui e-mail.
Batas Waktu Pendaftaran
Batas akhir penyerahan formulir dan berkas pendaftaran Program Paramadina Fellowship 2010 adalah :
* Melalui pos, dengan stempel pos, 10 April 2010.
* Langsung diantar ke Universitas Paramadina, 17 April 2010.
Dana BeasiswaParamadina Fellowship 2010, dengan nilai beasiswa sebesar Rp. 125.000.000 (seratus duapuluh lima juta rupiah) mencakup pendanaan :
* Dana transportasi dari tempat asal menuju ke Universitas Paramadina.
* Biaya studi selama 4 tahun kalender akademik. Penerima beasiswa diharapkan dapat menyelesaikan studi, maksimal 4 tahun.
* Dana aktivitas kemahasiswaan sebesar Rp 2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah).
* Tunjangan buku 1 juta rupiah per-semester.
* Biaya hidup (living allowance) sebesar 1 juta rupiah per-bulan.**
* Disediakan asrama, wajib tinggal selama 2 tahun atau 4 semester berturut-turut.**
* Kemungkinan pelatihan dan magang selama studi, di perusahaan Donor.
* Peluang kesempatan kerja atau tawaran kerja dari Donor, setelah menyelesaikan studi S-1.
**) Keterangan :
Penerima beasiswa dari wilayah Jabodetabek, berhak atas biaya hidup dan wajib tinggal di asrama.
Informasi
Untuk memperoleh informasi Paramadina Fellowship 2009,
Sdri. Lina & Riri
Telp. +62 21 7918 1188 Ext. 888/200
Sdri. Muna
Telp. +62 21 7918 1188 Ext. 232/235
Universitas Paramadina
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
Telp. +62 21 7918 1188
Fax. +62 21 799 3375
fellowship@paramadina.ac.idwww.paramadina.ac.id
lihatlah beasiswa di sini
http://www.ppsdms. net/
REKRUTMEN BEASISWA PPSDMS NURUL FIKRI ANGKATAN V (2010-2012)
Assalamu’alaikum Wr Wb
Mohon bantuan Bapak, Ibu dan rekan-rekan semua untuk menyebarkan informasi ini ke milis-milis, rekan, sahabat, saudara atau bahkan calon peserta terkait.
Saat ini, pendaftaran Gelombang I sudah selesai dan meloloskan sebanyak 131 orang. Selanjutnya dibuka pendaftaran Gelombang II mulai dari tanggal 1 Februari 2010 lalu dan ditutup pada 15 Maret 2010. Paling tidak itu untuk pendaftaran secara online. Untuk pengumpulan berkas diberi tambahan waktu sampai 26 Maret 2010.
Sekedar tambahan informasi, mulai angkatan V ini telah dibuka Rekrutmen untuk PPSDMS Putri khusus untuk Regional 1 Jakarta dengan konsep Non Asrama. Insya Allah akan direkrut sebanyak 30 Mahasiswi UI terbaik yang akan menjadi angkatan I PPSDMS Putri.
Assalamu’alaikum Wr Wb
Mohon bantuan Bapak, Ibu dan rekan-rekan semua untuk menyebarkan informasi ini ke milis-milis, rekan, sahabat, saudara atau bahkan calon peserta terkait.
Saat ini, pendaftaran Gelombang I sudah selesai dan meloloskan sebanyak 131 orang. Selanjutnya dibuka pendaftaran Gelombang II mulai dari tanggal 1 Februari 2010 lalu dan ditutup pada 15 Maret 2010. Paling tidak itu untuk pendaftaran secara online. Untuk pengumpulan berkas diberi tambahan waktu sampai 26 Maret 2010.
Sekedar tambahan informasi, mulai angkatan V ini telah dibuka Rekrutmen untuk PPSDMS Putri khusus untuk Regional 1 Jakarta dengan konsep Non Asrama. Insya Allah akan direkrut sebanyak 30 Mahasiswi UI terbaik yang akan menjadi angkatan I PPSDMS Putri.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Adi Wahyu Adji | PPSDMS Nurul Fikri | 0856 7877 037 | adji@ppsdms. org
Link Pendaftaran online, pengumuman hasil seleksi Gelombang I, mekanisme pengumpulan berkas, dll : http://register. ppsdms.org/
Link seputar PPSDMS : www.ppsdms.org | www.alumnippsdms. org | http://www.ppsdms. net/
Link seputar PPSDMS : www.ppsdms.org | www.alumnippsdms. org | http://www.ppsdms. net/
============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= ========= ========= =========
REKRUTMEN BEASISWA PPSDMS NURUL FIKRI ANGKATAN V (2010-2012)
Sekilas PPSDMS
PPSDMS adalah institusi non-profit, non-partisan, relijius, terbuka dan kebersamaan, yang memiliki visi: “melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang memiliki pemahaman Islam yang komprehensif, integritas dan kredibilitas tinggi, berkepribadian matang, moderat, serta peduli terhadap kehidupan bangsa dan negara.”
Saat ini PPSDMS memberikan beasiswa dan pembinaan bagi 162 mahasiswa terpilih di 7 PTN di 5 kota, yaitu Universitas Indonesia (Jakarta), Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjajaran (Bandung), Universitas Gadjahmada (Yogyakarta) , Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan Universitas Airlangga (Surabaya), serta Institut Pertanian Bogor (Bogor).
Sebanyak 243 alumni PPSDMS sejak angkatan 1 (2002-2004) telah tersebar di berbagai institusi politik dan NGO, dan beberapa di antaranya yang sedang melanjutkan studi S2 dan S3 di dalam dan luar negeri.
Kriteria Umum:
Kriteria Umum:
* Muslim, belum menikah dan bersedia untuk tidak menikah selama menjadi peserta PPSDMS.
* Laki-laki dan perempuan untuk PPSDMS di Regional 1 Jakarta dan khusus laki-laki untuk PPSDMS di 4 Regional lainnya (Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Bogor).
* Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sekurang-kurangnya 3,00 dan Indeks Prestasi Semester (IPS) sekurang-kurangnya 2,50 sejak awal kuliah.
* Warga negara Republik Indonesia.
* Berkelakuan baik, tidak pernah tersangkut perkara pidana dan kasus narkoba.
* Mahasiswa S1 Reguler angkatan 2008 dan 2009 dari Universitas Indonesia/UI, Institut Teknologi Bandung/ITB, Universitas Padjadjaran/ UNPAD (kecuali Teknik dan MIPA), Universitas Gadjah Mada/UGM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember/ITS, Universitas Airlangga/UNAIR (kecuali Teknik dan MIPA), dan Institut Pertanian Bogor/IPB.
* Bersedia mengikuti program pembinaan dan tinggal di Asrama PPSDMSS selama dua tahun (4 semester) dan tunduk pada ketentuan yang berlaku di PPSDMS.
* Berperilaku sehari-hari yang sesuai dengan akhlak Islami serta moral dan etika masyarakat.
* Laki-laki dan perempuan untuk PPSDMS di Regional 1 Jakarta dan khusus laki-laki untuk PPSDMS di 4 Regional lainnya (Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Bogor).
* Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sekurang-kurangnya 3,00 dan Indeks Prestasi Semester (IPS) sekurang-kurangnya 2,50 sejak awal kuliah.
* Warga negara Republik Indonesia.
* Berkelakuan baik, tidak pernah tersangkut perkara pidana dan kasus narkoba.
* Mahasiswa S1 Reguler angkatan 2008 dan 2009 dari Universitas Indonesia/UI, Institut Teknologi Bandung/ITB, Universitas Padjadjaran/ UNPAD (kecuali Teknik dan MIPA), Universitas Gadjah Mada/UGM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember/ITS, Universitas Airlangga/UNAIR (kecuali Teknik dan MIPA), dan Institut Pertanian Bogor/IPB.
* Bersedia mengikuti program pembinaan dan tinggal di Asrama PPSDMSS selama dua tahun (4 semester) dan tunduk pada ketentuan yang berlaku di PPSDMS.
* Berperilaku sehari-hari yang sesuai dengan akhlak Islami serta moral dan etika masyarakat.
Kriteria Khusus:
* Motivasi dan keinginan yang kuat serta rencana yang jelas untuk mengembangkan dirinya menjadi pemimpin.
* Modal spiritual (spiritual capital) yang memadai untuk dikembangkan sebagai pemimpin, serta tingkat kematangan spiritual (spiritual maturity) yang tinggi, yang membuatnya mampu menampilkan kinerja yang baik secara konsisten dalam berbagai keadaan.
* Paradigma (fikrah) Islam yang bersih (hanif) berlandaskan Al Quran dan As Sunnah, serta memiliki motivasi dan keinginan yang kuat untuk berkontribusi bagi dakwah dan kemaslahatan umat.
* Nasionalisme dan wawasan kebangsaan yang kuat, serta kepedulian yang tinggi terhadap nasib dan permasalahan bangsa.
* Kemampuan untuk membangun titik temu, kerjasama, dan kebersamaan dengan berbagai pihak.
* Kemampuan untuk mencapai profesionalisme yang tinggi, baik di bidang ilmu yang ditekuninya, maupun di bidang-bidang lain yang strategis bagi pembangunan bangsa dan negara.
* Modal spiritual (spiritual capital) yang memadai untuk dikembangkan sebagai pemimpin, serta tingkat kematangan spiritual (spiritual maturity) yang tinggi, yang membuatnya mampu menampilkan kinerja yang baik secara konsisten dalam berbagai keadaan.
* Paradigma (fikrah) Islam yang bersih (hanif) berlandaskan Al Quran dan As Sunnah, serta memiliki motivasi dan keinginan yang kuat untuk berkontribusi bagi dakwah dan kemaslahatan umat.
* Nasionalisme dan wawasan kebangsaan yang kuat, serta kepedulian yang tinggi terhadap nasib dan permasalahan bangsa.
* Kemampuan untuk membangun titik temu, kerjasama, dan kebersamaan dengan berbagai pihak.
* Kemampuan untuk mencapai profesionalisme yang tinggi, baik di bidang ilmu yang ditekuninya, maupun di bidang-bidang lain yang strategis bagi pembangunan bangsa dan negara.
Komponen Beasiswa:
* Fasilitas asrama (khusus Putra) meliputi: kamar, tempat tidur, ruang belajar, perpustakaan, komputer, printer, dsb. Untuk PPSDMS Putri bersifat non Asrama.
* Pembinaan meliputi: Kajian Islam Kontemporer, Training Pengembangan Diri, Training Jurnalistik, Studi Pustaka, Dialog Tokoh, Diskusi Paska Kampus, Training Bahasa Inggris, dsb. Khusus PPSDMS Putri disediakan program Kajian Kepemimpinan Perempuan dan Kajian Fikih Perempuan.
* Uang saku Rp. 300.000,- per bulan..
* Pembinaan meliputi: Kajian Islam Kontemporer, Training Pengembangan Diri, Training Jurnalistik, Studi Pustaka, Dialog Tokoh, Diskusi Paska Kampus, Training Bahasa Inggris, dsb. Khusus PPSDMS Putri disediakan program Kajian Kepemimpinan Perempuan dan Kajian Fikih Perempuan.
* Uang saku Rp. 300.000,- per bulan..
Jumlah Peserta Yang Akan Diterima:
* Regional 1 Jakarta, 30 orang mahasiswa putra dan 30 orang mahasiswa putri UI
* Regional 2 Bandung, 35 orang mahasiswa ITB dan UNPAD
* Regional 3 Yogyakarta, 30 orang mahasiswa UGM
* Regional 4 Surabaya, 35 orang mahasiswa ITS dan UNAIR
* Regional 5 Bogor, 30 orang mahasiswa IPB
* Regional 2 Bandung, 35 orang mahasiswa ITB dan UNPAD
* Regional 3 Yogyakarta, 30 orang mahasiswa UGM
* Regional 4 Surabaya, 35 orang mahasiswa ITS dan UNAIR
* Regional 5 Bogor, 30 orang mahasiswa IPB
Tahapan:
*
1. Rekrutmen PPSDMS Angkatan V terdiri dari 3 tahap dengan tahap 1 terbagi menjadi 2 gelombang.
2. Adapun jadwal selengkapnya untuk semua tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Rekrutmen PPSDMS Angkatan V terdiri dari 3 tahap dengan tahap 1 terbagi menjadi 2 gelombang.
2. Adapun jadwal selengkapnya untuk semua tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
TAHAPAN SELEKSI
WAKTU
BENTUK SELEKSI
JADWAL PENGUMUMAN
Tahap I Gelombang 1 1 Desember 2009 s.d. 31 Januari 2010 Administratif :
Tahap I Gelombang 1 1 Desember 2009 s.d. 31 Januari 2010 Administratif :
- Pendaftaran Online (www.ppsdms.org)
- Pengiriman Berkas-berkas: Formulir Pendaftaran, CV terbaru beserta lampiran pendukung (fotocopy Sertifikat, dll) dan Surat Rekomendasi ke PPSDMS
Pengumuman Peserta Lolos Seleksi Tahap 1 Gelombang 1:
Pengumuman Peserta Lolos Seleksi Tahap 1 Gelombang 1:
15 Februari 2010
Tahap I Gelombang 2 1 Februari s.d. 15 Maret 2010.
Batas akhir pengumpulan berkas 26 Maret 2010
Pengumuman Peserta Lolos Seleksi Tahap 1 Gelombang 2:
Tahap I Gelombang 2 1 Februari s.d. 15 Maret 2010.
Batas akhir pengumpulan berkas 26 Maret 2010
Pengumuman Peserta Lolos Seleksi Tahap 1 Gelombang 2:
2 April 2010
Tahap II 17 April 2010 Tes Tertulis (TPA, Bahasa Inggris dan Spiritual Capital Assesment) Pengumuman Peserta Lolos Seleksi Tahap 2 :
Tahap II 17 April 2010 Tes Tertulis (TPA, Bahasa Inggris dan Spiritual Capital Assesment) Pengumuman Peserta Lolos Seleksi Tahap 2 :
30 April 2010
Tahap III 1 s.d. 30 Mei 2010 Tes Kesehatan dan Fisik, Tes Presentasi, dan Wawancara Pengumuman Peserta Lolos Seleksi Tahap 3: 11 Juni 2010
Tahap IV 19 Juni 2010 Psikotest Pengumuman Peserta Lolos Seleksi Tahap 4: 2 Juli 2010
Tahap III 1 s.d. 30 Mei 2010 Tes Kesehatan dan Fisik, Tes Presentasi, dan Wawancara Pengumuman Peserta Lolos Seleksi Tahap 3: 11 Juni 2010
Tahap IV 19 Juni 2010 Psikotest Pengumuman Peserta Lolos Seleksi Tahap 4: 2 Juli 2010
Alur Pendaftaran
1. Register di sini . Gunakan email yang valid dan aktif saat melakukan registrasi.
3. Login dengan username dan user yang telah Anda buat, dan kemudian isi biodata pribadi Anda.
4. Upload foto close up Anda di form biodata tersebut.
5. Download formulir registrasi di sini. Isi dan lengkapi formulir tersebut kemudian upload file-nya di form biodata Anda.
6. Download contoh Surat Rekomendasi di sini.
Kontak Person
Manajer Asrama PPSDMS:
* Regional I Jakarta: M. Faisal Karim – 0856 9774 4450 – ical_karim@yahoo. com
* Regional II Bandung: Eko Kurnia Saputra – 0856 2425 0494 – eko_ks@yahoo. co..id
* Regional III Yogyakarta: M. Reza Ikhwan – 0857 4080 8085 – rezaikhwan@gmail. com
* Regional IV Surabaya: Dani Setiawan – 0856 4532 8762 – ma_ppsdms04@ yahoo.com
* Regional V Bogor: Fachriadi Tanjung – 0813 1838 6540 – brother_fachri@ yahoo.com
* Regional II Bandung: Eko Kurnia Saputra – 0856 2425 0494 – eko_ks@yahoo. co..id
* Regional III Yogyakarta: M. Reza Ikhwan – 0857 4080 8085 – rezaikhwan@gmail. com
* Regional IV Surabaya: Dani Setiawan – 0856 4532 8762 – ma_ppsdms04@ yahoo.com
* Regional V Bogor: Fachriadi Tanjung – 0813 1838 6540 – brother_fachri@ yahoo.com
Kantor Pusat dan Asrama PPSDMS:
* Kantor Pusat PPSDMS (Regional I Jakarta): Jl. Lenteng Agung Raya No. 20, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan 12640. Telp (021) 7888 3828, Fax (021) 7888 3829, e-mail: info@ppsdms. org.
* PPSDMS Regional II Bandung: Jl. Tubagus Ismail VIII No. 62A RT 05 RW 08, Bandung. Telp. (022) 2512099.
* PPSDMS Regional III Yogyakarta: Jl. Kaliurang Km.8 Gg. Nakula No.5 Ngabean Lor Sleman Yogyakarta 55583 Telp. (0274) 7412804.
* PPSDMS Regional IV Surabaya: Jl. Darma Husada Utara, No. 39, Surabaya 66285 Telp (031) 5933434.
* PPSDMS Regional V Bogor : Jl. Darmaga Kampus IPB Ciampea Bogor 16620. Telp. (0251) 8422932.
* PPSDMS Regional II Bandung: Jl. Tubagus Ismail VIII No. 62A RT 05 RW 08, Bandung. Telp. (022) 2512099.
* PPSDMS Regional III Yogyakarta: Jl. Kaliurang Km.8 Gg. Nakula No.5 Ngabean Lor Sleman Yogyakarta 55583 Telp. (0274) 7412804.
* PPSDMS Regional IV Surabaya: Jl. Darma Husada Utara, No. 39, Surabaya 66285 Telp (031) 5933434.
* PPSDMS Regional V Bogor : Jl. Darmaga Kampus IPB Ciampea Bogor 16620. Telp. (0251) 8422932.
Adi Wahyu Adji | Bidang Program PPSDMS Nurul Fikri | 0856 7877 037 | adji@ppsdms. org


FORMULIR PENDAFTARAN CALON PESERTA
PROGRAM PEMBINAAN SUMBER DAYA MANUSIA STRATEGIS (PPSDMS) NURUL FIKRI
ANGKATAN V, PERIODE PEMBINAAN 2010-2012
| A. DATA PRIBADI | ||||
| Nama lengkap | |
| ||
| Nama panggilan | | |||
| Agama | | |||
| Jenis kelamin | | |||
| Tempat & tanggal lahir | | |||
| Anak ke … dari … bersaudara | …… / …… | |||
| Tinggi & berat badan | | |||
| Alamat saat ini dan kode pos | | |||
| Alamat email | | |||
| Alamat Blog Pribadi (jika ada) | | |||
| Nomor HP | | |||
| Perguruan Tinggi Negeri (PTN) | UI / ITB / UNPAD / UGM / ITS / UNAIR / IPB *) | |||
| Fakultas | | |||
| Departemen/Jurusan & Prodi | | |||
| Angkatan & nomor mahasiswa | | |||
*) lingkari PTN anda
| B. DATA ORANG TUA | ||||||
| Nama Ayah | | |||||
| Tempat & tanggal lahir/umur | | |||||
| Suku | | |||||
| Pendidikan terakhir | | |||||
| Pekerjaan | | |||||
| Penghasilan per bulan**) | a. Rp 0 – Rp 1.000.000 b. Rp 1.000.000 – Rp. 3.000.000 | c. Rp 3.000.000 - Rp. 6.000.000 d. Di atas Rp. 6.000.000 | ||||
| Alamat saat ini dan kode pos | | |||||
| Nomor telepon/HP | | |||||
| Nama Ibu | | |||||
| Tempat & tanggal lahir/umur | | |||||
| Suku | | |||||
| Pendidikan terakhir | | |||||
| Pekerjaan | | |||||
| Penghasilan per bulan**) | a. Rp 0 – Rp 1.000.000 b. Rp 1.000.000 – Rp. 3.000.000 | c. Rp 3.000.000 - Rp. 6.000.000 d. Di atas Rp. 6.000.000 | ||||
| Alamat saat ini dan kode pos | | |||||
| Nomor telepon/HP | | |||||
| **) pilih salah satu | ||||||
| C. RIWAYAT PENDIDIKAN FORMAL | ||||||
| SD | | |||||
| Alamat | | |||||
| Masuk tahun | | Lulus tahun | | |||
| Prestasi terbaik (deskripsi, tahun) | 1 | | ||||
| 2 | | |||||
| 3 | | |||||
| 4 | | |||||
| 5 | | |||||
| SMP | | ||||||
| Alamat | | ||||||
| Masuk tahun | | Lulus tahun | | ||||
| Prestasi terbaik (deskripsi, tahun) | 1 | | |||||
| 2 | | ||||||
| 3 | | ||||||
| 4 | | ||||||
| 5 | | ||||||
| SMA | | ||||||
| Alamat | | ||||||
| Masuk tahun | | Lulus tahun | | ||||
| Prestasi terbaik (deskripsi, tahun) | 1 | | |||||
| 2 | | ||||||
| 3 | | ||||||
| 4 | | ||||||
| 5 | | ||||||
| Organisasi (nama, jabatan, tahun) | 1 | | |||||
| 2 | | ||||||
| 3 | | ||||||
| 4 | | ||||||
| 5 | | ||||||
| | |||||||
| D. RIWAYAT PENDIDIKAN NON FORMAL | |||||||
| Lembaga (lokasi) | Materi Pendidikan | Waktu Pendidikan | Nilai/Prestasi (jika ada) | ||||
| | | | | ||||
| | | | | ||||
| | | | | ||||
| E. KINERJA DAN KOMPETENSI | |||||||||
| IP Smt 1 | | IP Smt 2 | | IP Smt 3 | | IP Smt 4 | | ||
| IPK | | Sampai semester ke: | |||||||
| Prestasi terbaik (deskripsi, tahun) | 1 | | |||||||
| 2 | | ||||||||
| 3 | | ||||||||
| 4 | | ||||||||
| 5 | | ||||||||
| Organisasi (nama, jabatan, tahun) | 1 | | |||||||
| 2 | | ||||||||
| 3 | | ||||||||
| 4 | | ||||||||
| 5 | | ||||||||
| Kepanitiaan (nama, jabatan, tahun) | 1 | | |||||||
| 2 | | ||||||||
| 3 | | ||||||||
| 4 | | ||||||||
| 5 | | ||||||||
| Skor TOEFL/setara | | ||||||||
| Keahlian/ketrampilan khusus | 1 | | |||||||
| 2 | | ||||||||
| 3 | | ||||||||
| 4 | | ||||||||
| 5 | | ||||||||
| Hobi yang ditekuni | 1 | | |||||||
| 2 | | ||||||||
| 3 | | ||||||||
| 4 | | ||||||||
| 5 | | ||||||||
| F. PEMBINAAN ISLAM (Diisi bagi yang telah mengikuti kegiatan Pembinaan Islam rutin pekanan) | |
| Lama mengikuti (tahun) | |
| Nama Pembina saat ini | |
| Nomor HP | |
| Alamat email | |
| G. INFORMASI BEASISWA LAIN | |||
| | |||
| Nama Institusi Pemberi Beasiswa | Periode | Jumlah Beasiswa diterima setiap bulan | Kewajiban/ikatan |
| | | | |
| | | | |
| | | | |
| | |||
| Nama Institusi Pemberi Beasiswa | Periode | Jumlah Beasiswa diterima setiap bulan | Kewajiban/ikatan |
| | | | |
| | | | |
| | | | |
| E. REFERENSI | ||||
| No | Nama | Hubungan dengan Calon | Nomor HP | Alamat email |
| | | | | |
| | | | | |
| | | | | |
| | | | | |
| | | | | |
Langganan:
Komentar (Atom)
