Minggu, 06 November 2011
Seharusnya kita sadar bahwa "berkorban" itu lebih utama daripada "berqurban"
Berkorbanlah
Sebelum Berqurban
Oleh
AINUL YAQIN
Teringat
kisah kebiasaan orang jahiliyah pada masa islam baru berani membuka selimut
dalam tidurnya saat Rasulullah di Makkah, bahwa kebiasaan orang jahiliyah pada saat
itu biasa membalur dengan daging unta dan darahnya di bangunan Ka’bah.
Berkatalah para sahabat “Kita lebih berhak membalur baitullah” sehingga
turunlah surah al_Hajj ayat 37 sebagai pembelaan Allah bagi kaum muslimin
sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Sementara Quraisy
Shihab dalam tafsir Al-Misbahnya di bab 8 hal. 211 “orang jahiliyah tidak hanya
melulurkan darahnya di Ka’bah akan tetapi mereka juga membakar dagingnya karena
diyakini aroma asap daging yang membumbung tinggi ke angkasa dianggap
menyenangkan tuhannya”.
Islam
mensyari’atkan Qurban untuk mengenang sejarah pada masa Nabi Ibrahim ketika
mengimplementasikan kedekatan sosok sebagai seorang hamba terhadap tuhannya
yaitu Rabbul ‘Alamin, dan orang jahiliyah pada waktu itu juga memahami
garis historis Ibrahim sebagai bapak para Anbiya’ terbukti sebagian dari
orang Jahiliyah terutama diantara dari bani Quraisy ada yang menganut agama
Tauhid sebagaimana agama yang dianut Nabi Ibrahim, walaupun secara aplikasinya terdapat
perbedaan dalam konteks ajaran ritualnya.
Tujuan
Qurban sebagaimana yang telah disampaikan Imam Ash-Shabuni dalam tafsir
Al-Hikamnya ketika menafsirkan ....min sya’airillah... pada surah
al_hajj ayat 36 adalah tanda-tanda syari’at yang di syari’atkan Allah kepada
hamba-Nya. Dinisbatkannya syi’ar tersebut kepada Allah yaitu untuk
mengagungkan. Qurban di sebut syi’ar karena untuk mendekatkan diri kepada Alah
(Taqarrub ila Allah). Lihat Al-Majmu’ 8/215, Syarah Muslim
13/93, Fathul Bari 11/115. Lebih ditegaskan lagi
dalam ayat yang lain “Lan yanala Allaha Luhumuha Wala dima’uha” _tidak
dapat mencapai Allah daging-dagingnya dan tidak juga darahnya_, namun yang
sampai kepada Allah merupakan eksistensi yang sebenarnya yaitu selain untuk
mendekatkan diri kepada Allah adalah sebagai wujud implementasi pengabdian seorang
hamba kepada Rabbnya.
Sejarah
tersebut tentunya banyak membawa hikmah untuk bisa merekonstruksi ibadah kita kepada
Allah, selain dari pemaparan diatas ada yang seharusnya kita lebih tertarik
lagi misalkan pada fokus kajian analisis tekstual tentang pembahasan Qurban,
pada surah al-Kautsar ayat 2 “Fasolli li rabbika wa Anhar” (Maka
dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban),
kemudian kita temukan juga pada surah
al-An’am ayat 162 yang berbunyi “Qul inna Sholati wa Nusuki wa Mahyaya wa
Mamati Lillahi Rabbil ‘Alamin”
(Sesungguhnya
shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta
alam), pada surah al-Kautsar ayat 2 ada kalimat Fasolli
dan Anhar, _sebelum kata perintah berqurban ada perintah untuk melakukan shalat_
demikian juga dalam surah al-An’am ayat 162 terdapat kalimat inna Sholati
dan lafad Nusuki, yang dimaksud
kata Nusuki- sembelihanku adalah Qurban, sebuah keistimewaan ibadah
sunnah mu’akkad _menurut Ulama’ Mayuritas_ bergandeng dengan ibadah wajib nomor
2 dari rukun Islam yaitu sholat setatusnya sebagai tiang agama.
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532)
berpendapat ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan: “Allah
Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang
agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub,
tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, husnuzhan, keyakinan
yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji,
perintah, serta keutamaan-Nya.” dan sebagai solusi serta sarana ibadah paling
utama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun sangat
disayangkan sekali jika mereka yang melakukan ibadah Qurban kemudian
mengabaikan ibadah Sholat sebagai perintah wajib. Fakta yang berbicara ketika
seorang kaya raya bergelimang harta kedatangan Bapak Ta’mir masjid untuk
menawarkan berqurban disaat Eidul Adha yaitu pada yaumun nahri mereka tidak segan-segan memenuhi permintaannya
dengan satu sampai tiga sapi, sebuah etika yang perlu dijadikan cermin.
Ada misi
yang terkandung dalam pesan teks kedua surah di atas yang menggandeng kedua
perintah sunnah Mu’aqqad (qurban) dengan perintah wajib (sholat), yaitu
peristiwa wanhar adalah merupakan peristiwa besar yang menimpa nabi
Ibrahim disaat beliau disuruh menyembelih anak kesayangannya, tentu nabi
Ibrohim sebagai seorang bapak yang juga dianugrahkan jiwa psikologi ke-bapak-an
sangatlah bertentangana ketika dihadapkan dengan dua pilihan antara memilih
putra dengan memilih Allah sebagai sang Khaliq, namun jiwa ketauhidan sebagai sarana penyatuan diri
Nafsul Mutma’innah dengan sang Khaliq mampu mengalahkan jiwa Nafsul
lauwama, dan lebih istimewa lagi seorang anak sebagai cerminan dari anak
Shaleh, nabi Isma’il sangat tulus ikhlas menerima perintah Allah untuk “dipersembahkan”
mengikuti perintah-Nya, dan hanya beliaulah satu-satunya anak di dunia
untuk dijadikan cermin kesholehannya. Dari peristiwa itulah walaupun qurban
sebagai ibadah sunnah akan tetapi Allah selalu menggandengkan dengan sholat
karena ibadah sholat sebagai tiang agama selalu diabaikan dan dilalaikan dalam
melaksanakannya, perintah As-Sholatu Ala waktiha selalu diabaikan dan
merasa enggan mengorbankan waktu untuk melakukan Sholat.
Sebagaimana
yang telah dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah pada pembahasan di atas tentang
disatukannya antara sholat dan qurban adalah sebagai implementasi kedekatan
kita kepada Allah dan rasa penuh cinta serta ......., akan tetapi alangkah lebih bijaknya jika
keberanian mengeluarkan harta untuk berqurban, diiringi dengan keberaniaan
untuk mengorbankan waktu sholat walaupun hanya lima sampai sepuluh menit, dalam
arti lain dimulai dari mengorbankan waktu untuk
ibadah sholat dulu kemudian
diiringin dengan melakukan ibadah Qurban.
Ibarat seorang yang akan tenggelam dilautan lepas ditawarkan Emas 10 Kg.
dengan sebuah Ban bekas yang berisi angin
kemudia seorang tersebut memilih Emas 10 Kg. Hanya orang tolol saja yang
memilih Emas 10 Kg. Sedangkan orang cerdas akan memilih kedua-duanya, Ban bekas
dan Emas 10 Kg. Dengan usaha cerdas pula untuk meraih keduanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar